Tiada Kompensasi untuk Pelanggan, Anggap Krisis Air Bersih Sebagai Musibah | Malang POST

Jumat, 21 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Selasa, 21 Jan 2020,

MALANG - Tuntutan pelanggan Perumda Tugu Tirta Kota Malang terkait kompensasi pada 30 ribu pelanggan yang terdampak gangguan aliran air tidak akan terkabul. Opsi ini bahkan tidak menjadi bahasan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini ditegaskan Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji, saat dikonfirmasi soal permintaan warga terkait kompensasi tagihan penggunaan air bulan ini, Senin (20/1).
"Itu dasarnya apa dulu? Coba apa dasarnya beri kompensasi?," tegas Sutiaji.
Menurut Sutiaji, tuntutan warga meniadakan tagihan selama bulan, lantaran terdampak gangguan aliran air atau memotong beberapa persen tagihan bulan ini tidak memiliki ukuran jelas. Ditegaskannya, tidak ada Protap atau aturan hingga dasar hukum Pemda dapat melakukan hal tersebut. Maka dari itu opsi pemberian kompensasi seperti yang dituntut warga tidak akan dilakukan dan tidak dibahas secara serius.
"Kita tidak mengarah ke sana. Karena ini musibah," tandasnya.
Sementara itu memasuki pekan kedua warga terdampak, gangguan aliran air masih terjadi. Kawasan pemukiman yang berada di dataran tinggi seperti Perum BTU, Kalisari, Rusunawa Buring, kawasan Wonokoyo, dan banyak lainnya masih belum teraliri air sama sekali.

   Baca juga : Usaha Laundry Mangkrak Gara-Gara Krisis Air


Ia kemudian menjelaskan, saat ini Pemkot Malang melalui Perumda Tugu Tirta fokus pada usaha menormalkan kembali layanan air. Utamanya mengalirkan air pada 10 ribu warga terdampak yang sudah sepekan ini tidak teraliri air sama sekali.
Sutiaji menjelaskan air sudah mulai mengalir, namun tidak dengan debit yang besar. Karena jika dialirkan secara normal tentu membutuhkan tekanan yang lebih besar, dan ditakutkan akan membuat pipa yang disambung kembali pecah.
Itu sebabnya, saat ini belum semua pelanggan teraliri, terutama untuk kawasan yang berada di ketinggian.
"Seperti Buring Atas, nanti air akan ditandon di bawah saja lalu di pompa agar bisa naik. Jadi tidak ditekan untuk dialirkan ke atas. Karena ditakutkan membutuhkan tekanan besar dan buat pipa jebol lagi," paparnya.
Sementara untuk 3.522 titik yang sudah teraliri, Sutiaji menyampaikan jika air sudah mengalir sejak Senin (20/1) kemarin pagi.
Beberapa wilayah yang dimaksud terdiri dari zona Buring 2D yaitu SDN Bandungrejosari, Keben II Permai, Kepuh, Simpang Kepuh, S. Supriadi, Kebonsari dan Satsuitubun dengan total 1.496 pelanggan.
Kemudian zona dua atau Buring 2E terdiri dari Sonosari dan Leces dengan total pelanggan 509. Zona tiga yaitu Buring 2E-1 terdiri atas Raya Kebongagung, Jl. Tarupala dan Sidodadi dengan total ada 704 pelanggan.
Terakhir zona 4 atau Buring 2E-2 yang terdiri dari Raya Kebunagung, Raya Wagir, Kauman dan Perum Pondok Lestari dengan total 813 pelanggan.
"Sekali lagi kami mohon maaf kepada pelanggan air bersih Perumda Tugu Tirta, kami akan terus upayakan agar air kembali mengalir normal," pungkasnya.
Meski begitu Dirut Perumda Tugu Tirta Kota Malang M. Nor Muhlas menyampaikan berangsur-angsur air mulai ke wilayah-wilayah yang masih terdampak. Dan diperkirakan dalam beberapa hari kedepan air akan mengalir di seluruh wilayah terdampak satu persatu.
"Dari total terdampak yang 10 ribu pelanggan sekarang total 3.522 saluran sudah mulai teraliri," paparnya.
Hal ini bisa dilakukan karena perbaikan pipa jebol di dua titik kawasan Pulungdowo sudah mulai normalisasi. Hanya saja belum maksimal karena tekanan air harus dikurangi sehingga debit air pun belum besar.
Artinya masih ada sekitar 6.700 warga belum mendapatkan aliran air yang layak. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah Pemkot Malang untuk diatasi.
Nor Muhlas menjelaskan, sebanyak 3.522 saluran pelanggan sudah teraliri. Karena pipa transmisi air yang jebol sudah diperbaiki dan mulai difungsikan mengisi tandon Buring Bawah terlebih dahulu.
Muhlas menjelaskan untuk saat ini pipa mengisi tandon buring bawah. Meski belum bisa mengisi keatas yakni Tandon Buring Atas, air sudah bisa mengaliri wilayah terdampak.
"Kemarin polanya kita rubah untuk menghindari high pressure (tekanan tinggi) dengan rekayasa hidrolika kita bypass ke tandon Buring bawah dulu biar potensi pecahnya bisa dikurangi," tuturnya.(ica/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...