MalangPost - TERTIPU CEK KOSONG RATUSAN JUTA

Rabu, 05 Agustus 2020

  Mengikuti :

TERTIPU CEK KOSONG RATUSAN JUTA

Senin, 27 Jul 2020, Dibaca : 2370 Kali

Tak pernah terbayangkan oleh Sukatemi, pedagang jagung asal Dusun Wotgaleh, Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang dia bakal dikemplang ratusan juta rupiah. Dia baru sadar telah menjadi korban, setelah tahu cek yang diterima dari seorang pembeli, ternyata cek kosong. Tak terima diperlakukan begitu, dia pun lapor ke Polsek Bantur, awal bulan Juli 2020. Saat itu, dia didampingi Budiono, suaminya, dan menceritakan kronologis kejadian pada penyidik Polsek Bantur.

Hingga akhirnya jajaran Reskrim Polsek Bantur berhasil mengamankan IIn (30) warga Jalan Lembayung RT 01/RW 02 Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, Sabtu (25/7/2020) siang,. Dia diringkus di seputaran Karangploso. Kapolsek Bantur AKP Nuryono SH MH melalui Kanit Reskrim Polsek Bantur Bripka Zuhdy Yahya SH MH menjelaskan, tersangka diduga melanggar pasal 378 KUHP jo 372 KUHP tentang Tindak Pidana Penipuan. 

"Pelaku kami tangkap di rumah kontrakannya bilangan Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang," terang Nuryono, Minggu (26/7/2020) siang. Dari tangan pelaku, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Antara lain, selembar cek nomor CGJ337332 dengan nominal Rp 50 juta atas nama Hanif Asad Wibisono tanggal 1 Juli 2020, selembar Cek nomor CGJ337333 dengan nominal Rp 200 juta, atas nama dan tanggal yang sama. 

Ulah terlapor berawal dengan menelepon korban dan pesan kacang seberat 2.275 kg seharga Rp 17.000 per kg. Total harga yang harus dibayar Rp 38.675.000. Namun terlapor hanya memberi uang muka Rp 20 juta yang ditransfer lewat rekening pelapor. Kemudian, Kamis (25/6/2020) siang, terlapor kembali memesan hasil tani korban yakni jagung seberat 9.123 kg dengan harga Rp 3.800 per kg dengan jumlah yang harus dibayarkan sebesar  Rp 34.667.400. 

Pesanan pertama dan kedua belum dibayar, Jumat (26/6) terlapor kembali pesan kacang seberat 2.696 kg dengan harga Rp 17.250 per kg. Total dana yang harus dibayar sebesar Rp 46.506.000, serta beras sebanyak 8 ton dengan harga Rp 9.000 per kg. Saat itu, pemesan seharusnya berkewajiban membayar total Rp 72 juta. Namun uang masih juga belum dibayar terlapor. Berulangkali kemudian pemesan atau terlapor memesan hasil tani milik korban namun tidak kunjung membayar. 

Korban bahkan mendapat janji akan dilunasi pembayarannya bila mengirimkan jagung pesanan di rumah terlapor. Dalam pesanan jagung, korban menerima lembaran cek pemesan. Bareng dicoba untuk dicairkan ke salah satu bank, siapa sangka cek itu palsu alias tidak berisi uang sepeser pun. Korban sempat memberikan waktu kepada terlapor untuk membayar atau memenuhi pembayarannya. Di waktu yang telah disepakati, mendadak ponsel pemesan tidak dapat dihubungi dan korban mulai kesal sehingga melaporkan kejadian tersebut. 

 

Sukatemi menjelaskan, pertemuan mereka dengan IIn di kediaman Tuti seorang pengusaha hasil bumi di bilangan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Dalam pertemuan tersebut, terlapor sempat mempengaruhi korban agar tidak menjual jagung di situ. "Di sini pembayarannya ruwet, kirim ke saya saja,"  pungkas  Sukatemi mengutip pesan terlapor. Terpisah, Kepala Desa Rejoyoso H Bayu Kurniawan menegaskan mengenai tanggung jawab keuangan supaya diselesaikan termasuk dari sisi hukumnya juga harus  transparan. "Permasalahan ini bukan lagi  hutang piutang. Tetapi juga ada unsur penipuan. Pertama, pelaku pernah bayar dengan cek tetapi ternyata kosong. Selanjutnya, pelaku juga  mengatakan transfer uang sebesar Rp 100 juta, ternyata setelah dilakukan pengecekan  hanya Rp 1 juta," tandas Bayu.

Editor : yan
Penulis : oio