Terobosan Lapas Klas I Lowokwaru Atasi Problem Sampah - Malang Post

Kamis, 21 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Rabu, 04 Sep 2019, dibaca : 1003 , bagus, amanda

Lapas Klas I Lowokwaru Malang tak berhenti melakukan inovasi. Setelah sukses dengan produk sari apel, mereka kembali membuat inovasi untuk fermentasi maggot. Maggot merupakan belatung dari black soldier fly hermetia illucens yang termasuk keluarga lalat. Program pelatihan untuk fermentasi maggot dan pengolahan sampah berjalan sekitar bulan Agustus 2019.
Hebatnya, saat ini budidaya maggot sudah berkembang pesat. Budidaya dimulai dari bibit baby maggot seberat 10 gram. Nantinya, hasil olahan tersebut akan dimanfaatkan sebagai makanan ternak, khususnya lele.
Penanggungjawab Budidaya Maggot dan Pengelolaan Sampah, Ali Murtopo mengungkapkan, budidaya maggot tersebut membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama. Jika ditotal, hanya membutuhkan waktu selama 45 hari untuk proses metamorfosis. Setelah mendapatkan baby maggot, kemudian dilakukan fermentasi dengan menggunakan Effective Microorganism 4 (EM4) dan juga tetes tebu.
“Setiap dua kali sehari, kami memberikan pakan melalui fermentasi secara rutin. Selain menghilangkan bau sampah, juga memberikan protein kepada maggot,” terang dia.
Kemudian, setelah berkembang, 10 gram baby maggot tersebut kemudian berkembang menjadi 70 kilogram maggot dewasa, di mana jumlahnya menyusut menjadi 25-30 kilogram. Setelah itu, proses kemudian dilanjutkan dengan maggot hitam yang kemudian berubah menjadi kepompong, yang jumlahnya kemudian menyusut lagi menjadi 16 kilogram.
“Setelah ganti kulit, dalam waktu 10 sampai 15 hari, kemudian menjadi lalat buah. Lalu kami masukkan ke dalam tempat khusus untuk dibudidaya. Setelah jadi lalat dewasa, proses metamorfosisnya kemudian terus berulang,” jelas dia.
Dalam proses metamorfosis, maggot tersebut ternyata melakukan secara mandiri. Tanpa dipilah, maggot yang diletakkan di wadah berupa bambu itu berjalan sendiri menuju sebuah pipa dan bermuara di satu wadah khusus. Artinya, mereka melakukan ‘seleksi’ terhadap dirinya sendiri. “Sebenarnya, bisa kami pilah, namun hasilnya tidak bagus. Karena prosesnya dipaksa. Kalau dibiarkan secara natural, hasilnya akan jauh lebih baik,” urai Ali.
Dalam melakukan perawatan, Ali juga mengaku sudah mempersiapkan proteksi khusus agar terbebas dari tikus dan kecoa. Sebab, tempat budidaya maggot terletak di ruangan yang semi terbuka.
“Di bawah bambu kami beri ramuan berupa oli yang sudah dicampur kapur barus. Di sekitar tembok juga sudah kami olesi,” kata pria berkacamata itu.
Ali menerangkan, nantinya, larva maggot akan dimanfaatkan untuk pakan bibit lele. Kemungkinan, baru minggu depan, lele yang berusia sekitar satu minggu akan mulai dibudidayakan.
“Lele tersebut berukuran sekitar 5 sampai 7 cm. Nanti akan kami beri pakan larva maggot dan menghasilkan produk unggulan berupa lele organik,” terang dia.
Setelah proses fermentasi selesai, Ali mengaku, tidak ada bahan baku yang terbuang sia-sia. Sisa hasil fermentasi, juga bisa dijadikan pakan lele hingga bibit tanaman untuk green house.
“Jadi, di sini tidak ada bahan yang mubazir dan terbuang sia-sia. Semua kami manfaatkan,” tegas dia.
Selain itu, jika bisa terus diproduksi dan menghasilkan skala besar, tidak menutup kemungkinan, bibit larva maggot ini juga akan dijual keluar. Sebab, sejauh ini, baby maggot dijual secara online di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per kilogram. Tentunya, hal tersebut bisa memberikan efek positif.
Saat ini, Ali dibantu dengan 30 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) lainnya sedang membudidayakan bibit maggot dari sampah yang ada di sekitar Lapas, baik dari dapur besar maupun dari setiap sel. Bahkan, pihak dapur juga sudah melakukan pemilahan sampah, mana yang sampah organik maupun non organik.
“Setiap hari, kami lakukan pengambilan sampah. Kemudian, kami langsung lakukan proses fermentasi untuk mendapatkan bibit maggot dan dibudidayakan,” tandas dia.
Sementara itu, Kepala Lapas Klas I Lowokwaru Malang, Yudi Suseno mengungkapkan, selama ini, tumpukan sampah menjadi masalah yang cukup krusial. Setiap hari, sampah di lingkungan Lapas terus menumpu, baik dari hasil olahan dapur maupun dari dalam sel.
“Apalagi, ketika hari libur atau tanggal merah, tidak ada petugas kebersihan yang mengangkut sampah. Kalau tidak dikelola, akan menjadi sumber penyakit. Jadi, saya berpikir bagaimana caranya mengurangi sampah,” terang dia ketika ditemui Malang Post, Selasa (3/9).
Setelah melakukan pemikiran panjang, Yudi ternyata mendapat dukungan dari salah seorang pemerhati tata kelola sampah. Akhirnya, mereka sepakat untuk melakukan budidaya maggot. “Sebab, budidaya maggot memang hal yang paling mudah. Prosesnya juga cukup singkat dan bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam hal. Seperti pakan ikan, bahan untuk taman organik, bahkan menjadi bahan baku kosmetik,” kata dia.
Yudi berharap, melalui program tersebut, para WBP bisa melakukan pemilahan sampah sekaligus melakukan pengolahan. Sehingga, bisa mengurangi produksi sampah dari Lapas.
“Mudah-mudahan terus berkembang. Syukur-syukur jika ada yang mau merangkul untuk diekspor,” jelas dia sambil tertawa.
Selain sari apel dan maggot, Lapas Klas I Lowokwaru Malang juga memiliki inovasi lain. Seperti budidaya jamur, anggrek hingga aneka kerajinan. Bahkan, sebagian besar dari inovasi tersebut juga dijual kepada masyarakat umum.
“Hal ini kami lakukan sebagai salah satu bentuk solusi yang kami berikan. Jika sudah bebas nanti, bisa dijadikan alternatif baru untuk melanjutkan hidup dan berubah menjadi lebih baik,”tandas Yudi.(Amanda Egatya/ary)



Loading...