Taslan, Ketua RW yang Juga Pegiat Lingkungan Kota Batu | Malang Post

Senin, 20 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 11 Des 2019,

Taslan (51 tahun) Ketua RW 6 Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu aktif mewujudkan Kampung Ekologi Temas. Pemerintah daerah, komunitas hingga organisasi non pemerintah sudah memberikan penghargaan padanya. Kampung Ekologi Temas, diresmikan dan didukung oleh Pemerintah Kota Batu sejak tahun 2017.

Ya, kampung itu lahir dari gerakan warga yang melibatkan berbagai unsur di dalamnya. Ada tokoh masyarakat, tokoh agama dan tentunya Lurah Temas. Sehingga kampung yang juga berjuluk Kampung Ekologi Batu Into Green (BIT) di RW 6 Kelurahan Temas ini banyak didatangi orang. Mereka berkunjung untuk berwisata, ada juga yang studi banding. Biasanya  dari instansi pemerintah maupun swasta.
"Untuk proses memulai kampung ekologi sejak tahun 2014," ujar Taslan mengawali ceritanya kepada Malang Post.
Mengawali mengubah mindset masyarakatlah yang butuh waktu untuk cinta terhadap lingkungan. Karena menurutnya, masyarakat tak bisa percaya hanya dengan kata-kata. Tapi juga harus ada contoh atau praktik.
"Sebenarnya tidak mudah. Kelurahan Temas masuk daerah perkotaan namun juga masih mempertahankan pertaniannya. Sehingga modal awal adalah budaya awal gotong royong, guyub rukun dan mau swadaya. Itu saja modalnya untuk mengubah cara pikir dan perilaku bersama," beber bapak dua anak ini.
Dengan tiga modal itulah, kemudian ia masuk dalam setiap kegiatan. Mulai dari pertemuan RT, PKK, dan Karang Taruna. Melalui forum-forum itu ia mulai menceritakan kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga lingkungan untuk anak cucu kelak.
"Saya berikan pemahaman ke masyarakat bahwa Kampung Ekologi ini dibangun untuk masyarakat sendiri dan anak cucu. Mulai dengan konsisten dan bersepakatan untuk menanam toga dan penghijauan di depan rumah, memilah sampah, dan memanfaatkan sampah untuk sehari-hari," paparnya.
Selain itu, Kampung Ekologi Temas juga memiliki bank sampah untuk memilah sampah kering. Sampah itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai kerajinan handycraft, terutama limbah sampah untuk sampah kering. Sedangkan sampah basah diolah sebagai pupuk pertanian.
Begitu juga dengan sampah dari daun-daun yang kering, telah disiapkan sumur biopori di lorong-lorong jalan untuk menyerap air hujan agar tidak banjir. Sekaligus sebagai tempat pengomposan daun-daun kering.
"Bahkan kami juga melengkapi papan larangan rambu lalu lintas di dalam kampung. Misal bagi pengendara memacu kendaaran maksimal 20 Km per jam. Tujuannya dengan penerapan aturan tertib lalu lintas itu masyarakat Temas akan menerapkan pula saat berkendara di Jalan Raya dengan mematuhi aturan lalu lintas," urai Ketua Kelompok Tani Organik se Kelurahan Temas ini.
Begitu juga untuk pertanian ia juga terus mendorong warga untuk bertani organik di lingkungan rumah. Bahkan pihak kelurahan meminjamkan tanah bengkoknya untu dimanfaatkan untuk sebagai contoh ladang organik bagi warganya.
Dari beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Kempung Ekologi Temas itulah kemudian banyak tamu berdatangan untuk belajar. Bahkan rata-rata per bulan ada 5-6 kunjungan dari imstansi pemerintah maupun swasta.
"Dari apa yang dilakukan warga dan didukung oleh Pemerintah Kota Batu inilah kemudian banyak yang datang berkunjung. Tak hanya berkunjung begitu saja. Tapi kami memberi edukasi kepada mereka tentang pentingnya menjaga lingkungan, bertani organik, hingga manfaat dengan adanya sumur biopori dan pemanfaatan limbah sampah," jelasnya.
Terakhir, lanjut dia, saat ada kunjungan di daerah yang memiliki 420 KK atau sekitar hampir 1500-an penduduk mendapat kunjungan dari TK Anak Saleh Malang sebanyak 70 anak. Mereka semua menginap di rumah warga Kempung Ekologi Temas selama dua hari untuk belajar dan bermain.
Taslan menceritakan selama dua hari para anak-anak itu memginap langsung di rumah-rumah warga, diajak makan bersama, cuci piring, salat berjamaah, ngaji bersama hingga bermain bola di depan rumah warga. Kearifan lokal yang ada dengan didukung lingkungan yang nyaman dan bersih itulah yang membuat anak-anak tersebut nyaman bermain dan belajar di Kempung Ekologi Temas.
"Dari kunjungan itulah nilai lebih didapat warga. Kamar yang disewa, produk UMKM terjual, dan terpenting lingkungan kampung asri dan nyaman," terang laki-laki yang pekerjaan sehari-hari bertani ini.
Banyak mahasiswa dari berbagai negara telah berkunjung sejak tahun 2018 dan 2019. Selain itu, ada kunjungan juga dari Camat Payakumbuh Sumatra Barat, Camat dan Lurah se Purwodadi Pasuruan, DLH dan lurah dari Kabupaten Pemalang. Bahkan, minggu depan sudah ada kunjungan dari Camat dan Kepala Desa dari Bontang, Kaltim.
Akibat keaktifannya menjaga lingkungan, Taslan yang pernah menjadi Limnas ini juga telah dipercaya sebagai pemateri pertanian organik bagi petani Desa Pandesari Pujon oleh Universitas Negeri Malang tahun 2018. Kemudian medapat penghargaan sebagai Relawan Kampung Ekologi Batu oleh Camat Batu tahun 2018.
Serta raihan sertifikat urban farming karena telah membangun rasa peduli lingkungan diselenggarakan oleh UB tahun 2018. Terbaru ia meraih waranugraha award oleh Among Tani Foundation 2019 kategori perorangan berjaya bidang lingkungan.
Tak hanya itu, Kampung Ekologi Temas tahun 2019 juga meraih penghargaan Kampung Proklim yang merupakan program nasional Kementerian Lingkungan Hidup. Kampung ekologi ini lolos penilaian tingkat provinsi, sehingga masuk nominasi nasional.
Di balik semua yang telah dilakukan Taslan, tentu bukan tanpa ganjalan dalam mengajak perilaku berbuat baik kepada lingkungan. Mulai dari cibiran oleh warganya secara langsung jadi hal biasa karena menurutnya berkomitmen untuk melalukan hal baik banyak tantangannya.(eri/ary)

Editor : Bagus
Penulis : Kerisdiyanto






LOWONGAN KERJA

Loker

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...