Tak Dijual Demi Tenaga Medis

Jumat, 05 Juni 2020

  Mengikuti :


Tak Dijual Demi Tenaga Medis

Sabtu, 04 Apr 2020, Dibaca : 3360 Kali

DI TENGAH pandemi virus Corona, para tenaga medis kini harus benar-benar all out.
Kerja pun serba hati-hati karena mengancam nyawa sendiri. Jumlah pasien kasus Covid-19 tidak sebanding dengan ketersediaan tenaga kesehatan. Bertujuan menjaga keselamatan tenaga medis dari tertularnya virus Corona, dr. Thontowi Djauhari, M.Kes membuat Safety Chamber atau bilik keselamatan.   
“Alat ini dibuat untuk menunjang kerja dokter maupun perawat agar tetap aman,” kata dr. Thontowi Djauhari, M.Kes. Dokter Tomi, sapaan akrab dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

   Baca juga : Motivasi Ibadah, Rela Pulang Malam


Awalnya ia  hanya sekadar ngobrol-ngobrol dengan teman sesama dokter. Yakni bagaimana cara memberi keselamatan untuk dokter ketika memeriksa pasien Covid-19. Akhirnya muncul inovasi tersebut. “Saya konsep sedemikian rupa serta keamananya kemudian saya kerahkan kepada tim teknik untuk membuat inovasi safety chamber atau disebut bilik keselamatan,” ceritanya.
Alat tersebut berbentuk kotak transparan. Mampu meminimalisir penularan saat melakukan pemeriksaan pasien ang biasanya bersin atau batu-batuk. “Alat ini dibuat untuk menghindarkan tertularnya tenaga kesehatan saat menyentuh dan mendiagnosa pasien terduga Covid-19," ujar dr Tomi.


Dijelaskannya, cara penggunaan Safety Chamber yakni pasien tinggal masuk ke pelindung yang terbuat dari bahan mika untuk diketahui gejala yang dirasakan. Tenaga medis yang bertugas tentunya akan lebih aman karena dipisahkan ruang dari pasien. "Alat ini tentunya bukan satu-satunya standar keselamatan yang kami pakai. Kami akan tetap menggunakan alat perlindungan diri (APD)," terangnya.


Sementara itu, pembuatan Safety Chamber yang melibatkan mahasiswa UMM ini masih dalam tahap penyempurnaan. Namun kedepan alat ini akan dilengkapi dengan sejumlah fitur lain untuk lebih meminimalisir peluang penularan. Seperti penambahan alat bantu bernapas sehingga pasien tetap merasa nyaman saat dilakukan pemeriksaan. “Tidak butuh waktu lama dalam pembuatan bilik keselamatan ini. Sukup sehari saja sudah jadi. Bahkan bahan-bahan pembuatannya juga terbilang murah sekitar Rp 2,5 juta,” jelas dia. .


Namun dr Tomi tidak mengkomersialkan bilik ini. Kalaupun ada yang menduplikat silakan saja. Ia bahkan dengan senang hati siap membimbing.  
Dilanjutkan dr. Tomi,  inovasi kesehatan prakarsa UMM di tengah pandemi global Covid-19 ini rencananya akan diproduksi masal untuk membantu rumah sakit rujukan pasien Covid-19 dan para tenaga kesehatan.
"Perawatannya mudah, tinggal dibersihkan dengan alkohol atau cukup menggunakan sabun deterjen. Karena deterjen lebih efektif membersihkan," lanjutnya.


Pria kelahiran 15 Juni 1970 itu berharap ada pihak yang bersedia membantu mengembangkan dan mendanai inovasi kesehatan ini agar bisa diproduksi masal. UMM melalui RSU UMM akan senang hati membuka pintu  kerjasama agar inovasi tersebut bisa dipakai di banyak rumah sakit.
“Prinsipnya dalam situasi seperti ini buat apa mencari untung. Jangan memanfaatkan kondisi seperti ini untuk melakukan hal – hal yang justru membebani satu sama lain. Mari kita semua menegakkan hal yang positif demi kepentingan dan keselamatan bersama,” pungkasnya.(mp4/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Agiem Cristian