MalangPost - Tak Ada Potong Gaji untuk Karyawan Arema FC

Rabu, 05 Agustus 2020

  Mengikuti :

Tak Ada Potong Gaji untuk Karyawan Arema FC

Selasa, 07 Jul 2020, Dibaca : 2793 Kali

MALANG – Federasi sepak bola Indonesia sudah memutuskan. Selama masa pandemi corona, gaji pemain bisa dibayarkan hanya 25 persen. Dasarnya SKEP/48/III/2020 tertanggal 27 Maret, yang diteken Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan.

Padahal komponen sebuah tim, tidak hanya pemain dan pelatih. Ada juga karyawan di sekretariat klub, yang tak bisa dipisahkan. Apakah mereka juga terkena aturan SKEP/48/III/2020 itu?

‘’Yo ora, Mas. Karyawan tetap mendapatkan gaji seperti sebelum ada covid-19. Tidak ada pemotongan gaji. Kalau dipotong, kasihan mereka. Jumlah gajinya tidak seberapa dibanding gaji pemain,’’ ujar General Manager Arema FC, Ruddy Widodo, kepada Malang Post, akhir pekan kemarin.

Bahkan saat Kandang Singa – sebutan untuk sekretariat Arema FC – ditutup, ketika wabah covid-19 merajalela dan harus tutup sekitar empat bulan, karyawan masih mendapatkan gaji mereka.

‘’Karyawan baru mulai aktivitas di kandang singa, pertengahan Juni kemarin. Sebelumnya mereka work from home. Apalagi kompetisi juga berhenti. Ditambah pandemi covid-19 yang makin parah. Tapi hak-hak mereka tidak berubah,’’ imbuh Ruddy.

Disinggung soal dana untuk membayar gaji karyawan, Ruddy mengakui harus meminta kepada owner Arema FC. Alasannya, sektor bisnis yang mendukung pemasukkan klub, ikut berhenti. Subsidisi PSSI untuk klub, senilai Rp 520 juta, belum turun lagi.

‘’Gak onok pemasukkan maneh, Mas. Teko endi? Ya terpaksa harus minta ke owner. Karena ini tergolong force majeure. Dialami orang seluruh dunia. Beruntung owner bisa memahami dan mengerti dengan kondisi ini,’’ tandas pria asal Madiun ini.

Berhentinya kompetisi Liga 1 dan Liga 2 ini, ternyata benar-benar berdampak ke banyak pihak. Bahkan dalam kajian LPEM Universitas Indonesia, kerugian perputaran ekonominya mencapai Rp 3 triliun.

Kepala Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM Universitas Indonesia, Mohammad Dian Revindo pernah menyebut, berhentinya kompetisi tidak hanya berdampak secara ekonomi.

‘’Patut dicatat, dampak ekonomi karena kompetisi itu, tak hanya berhenti di ekonomi. Tapi menghasilkan dampak sosial yang baik bagi anak muda, seperti kesehatan, dan tercurahnya aktivitas untuk hal-hal positif,’’ kata Revindo.
Penelitian itu bukan tanpa data. Menurut dia, sepakbola saat ini sudah menjadi industri dan menggerakkan kesempatan orang bekerja sebanyak 24 ribu orang. Akibat berhentinya kompetisi itu, diprediksi kerugian secara ekonomi mencapai Rp 3 triliun. (*/avi)

Editor : Sunaviv
Penulis : Redaksi