Malang Post - Susana Yulli Sriwahyuni, Sempat Jadi Ajudan Ibu Wali Kota

Rabu, 01 April 2020

  Mengikuti :


Susana Yulli Sriwahyuni, Sempat Jadi Ajudan Ibu Wali Kota

Sabtu, 15 Feb 2020

MASUK ke dalam lorong-lorong berisikan buku-buku di dalam perpustkaan, kerap ditemui seseorang yang menata buku atau mereka yang diandalkan di dalam perpustakaan jika seseorang mencari buku-buku tertentu.
Mereka dikenal sebagai Pustakawan. Setidaknya inilah yang diketahui masyarakat ketika mendengar nama Pustakawan. Namun, Pustakawan bukanlah seorang yang menata buku atau menjaga buku. Mereka bertanggungjawab dalam memberikan kebutuhan literasi di sebuah daerah, negara bahkan dunia.
Inilah yang di dapat Malang Post saat berbincang-bincang dengan Susana Yulli Sriwahyuni. Nana, panggilan akrabnya adalah seorang ASN Pemkot Malang, yang memiliki jabatan sebagai Pustakawan Mahir di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang. “Pustakawan nggak nata buku, bukan jagaiin buku lho,” tandasnya saat ditemui Malang Post, Sabtu (15/2) di Perpustakaan Umum Kota Malang.
Ia menjelaskan, buku-buku yang ada di Perpustakaan Umum, jumlahnya, jenisnya hingga genre buku yang tersedia saat ini merupakan hasil pemikiran sang Pustakawan. Hal ini tidak sesederhana yang dipikirkan banyak orang.
Pasalnya, lanjut Nana, menyediakan buku yang dapat dibaca masyarakat se Kota Malang harus berdasarkan analisa, statistik dan unsur lainnya. “Apalagi ini perpustakaan milik pemerintah. Kita punya anggaran yang terbatas. Maka jika ada anggaran pengadaan buku benar-benar harus dari hasil analisa buku apa sih yang dibutuhkan masyarakat saat ini,” jelas perempuan asli Lamongan ini.
Ia memberi contoh untuk pengadaan buku tahun ini, dipilih genre buku fiksi mancanegara dan ilmu terapan yang diadakan lebih banyak dari buku lainnya. Hal ini didapat dari analisis dan hitungan tertentu yang dipelajari seorang Pustakawan.

   Baca juga : Pustakawan Nasional Berprestasi, Gemar Menulis dan Berinovasi


Bagi Nana, ia sendiri harus menghitung jumlah masyarakat Kota Malang, anggaran yang ada, statistik users (pemustaka/anggota perpustakaan/jumlah rata-rata pengunjung), kemudian menghitung kembali buku-buku apa saja yang dibutuhkan dan priroitas. Tugasnya di bidang preservasi dan pengolahan bahan pustaka inilah yang mendeskripsikan tugas pustakawan sesungguhnya. “Menjadi pustakawan pun ada jenjangnya. Ini memang keilmuan yang harus dipelajari,” jelas Alumnus D3 Teknisi Perpustakaan Universitas Airlangga ini.
Nana menjelaskan, pada awalnya ia tidaklah ingin menjadi Pustakawan. Bahkan, jurusan perpustakaan merupakan pilihan keduanya saat tes masuk universitas. Pilihan pertamanya adalah bidang perpajakan.
Akan tetapi nasib mendorongnya untuk mengerti ilmu perpustakaan juga kearsipan. Dan iapun tidak menyesali sama sekali pilihannya tersebut. Ia memanfaatkan waktu menjadi Pustakawan untuk melancarkan hobby nya membaca.
Meski begitu, jalannya menjadi Pustakawan sempat terhenti. Saat menjadi CPNS Kota Malang di Tahun 2010, ia hanya selama satu tahun ditugaskan di Perpustakaan Umum Malang. Pasalnya di 2011 ia dipindah tugaskan. “Saya saat ada SK baru, hampir seminggu menangis terus. Mau marah tapi ga bisa, namanya juga PNS harus mau ditempatkan dimana saja. Tapi serius saya bingung karena ditempatkan di penugasan yang saya ndak tahu apa-apa,” papar Nana yang saat itu ditugaskan menjadi ajudan Ibu Wali Kota Malang.
Saat itu ia ditugaskan menjadi ajudan dari Heri Puji Utami, istri mantan Wali Kota Malang Peni Suparto. Nana merasa dirinya tidak menguasai apapun soal ilmu ke ajudanan dan protokoler. Ia pun bingung bukan kepalang.
Akan tetapi Nana tetap menjalankan tugas tersebut sampai bisa dan menguasai. Ia merasa mendapat ilmu dan kawan serta jejaring baru. Namun setelah kurang lebih 3 tahun lamanya, akhirnya SK baru terbit kembali. “Waktu itu saya mau ditempatkan lagi jadi ajudan istri wali kota yang baru. Sudah dihubungi BKD (Badan Kepegawaian Daerah) untuk langsung merapat. Tetapi saya tidak mau. Saat itu saya sudah hamil, saya minta cuti,” tegas Nana.
Disanalah ia mendapatkan kembali kesempatan untuk kembali lagi bertugas pada bidang yang ia minati yakni kepustakaan. Maka di Tahun 2014, ia kembali bertugas di Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang hingga saat ini.
Nana kemudian menceritaka bagaiamana Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang melakukan usaha menjaga budaya litarasi dan tetap mempertahankan minat baca warga Kota Malang di era digital ini.
Salah satunya yang baru diluncurkan adalah sebuah perpustakaan digital yang berbentuk aplikasi android bernama Malang City Library and Information (Cillin) Digital Acces. Di lunching pada 12 Desember 2019 lalu di halaman Balaikota Malang.
Ada kurang lebih 14 ribu buku koleksi yang berada di perpustakaan umum Kota Malang. Nah yang sudah diubah ke digitalisasi sejumlah 1.232 judul. Buku-buku yang sudah diubah formatnya menjadi buku digital itu lebih banyak tentang kebudayaan. Ke depan memang diharapkan semakin banyak lagi koleksi buku digital yang dimiliki Perpustakaan Daerah Kota Malang.
“Kita juga punya Vintage Collection. Ada sebanyak 52 judul buku lawas. Buku dari tahun 1902 di display di fasilitas Vintage Corner. Semua ini sumbangan masyarakat. Harapannya lebih banyak lagi kita tambah koleksinya,” pungkas perempuan kelahiran 1983 ini. (ica/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Francisca Angelina

  Berita Lainnya





Loading...