STIKES Kendedes Siapkan Tenaga Medis Nasionalis | Malang Post

Rabu, 11 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 04 Sep 2019, dibaca : 712 , rosida, imam

MALANG – Orientasi pengenalan kampus menjadi cara bagi STIKES Kendedes Malang untuk membentuk tenaga medis yang nasionalis dan memiliki wawasan kebangsaan. Kegiatan dilaksanakan bekerja sama dengan KOREM 083. Materi berisi pendidikan karakter yang didalamnya ada nilai nasionalisme. Tak hanya maba, materi juga diberikan kepada mahasiswa lama dan jajaran dosen.
Ketua STIKES Kendedes Malang Dr. Edi Murwani, AMd.Keb., S.Pd.,MMRS mengatakan, materi pembinaan kesadaran bela negara untuk mahasiswa merupakan salah satu aturan yang telah ditetapkan oleh Menristek Dikti.
"Ini sudah menjadi panduan umum kehidupan kampus bagi mahasiswa baru," katanya kepada Malang Post.
Menurutnya, salah satu tugas mulia dari seorang tim medis seperti perawat dan bidan, yaitu tidak membeda-bedakan pasien yang mereka rawat. Apapun suku, ras atau agama pasien yang mereka tangani harus dilayani dengan baik dan penuh amanah. Maka dari itu, profesionalitas tidak cukup digembleng dengan kemampuan akademik atau kompetensi keilmuan, tetapi juga harus ada penguatan karakter agar seorang bidan atau perawat dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.


Dalam hal ini STIKES Kendedes Malang memberikan wawasan kebangsaan dan nasionalisme kepada mahasiswa barunya melalui kegiatan program orientasi pengenalan kampus.
Edi menjelaskan pembelajaran bela negara merupakan satu upaya strategis dalam menumbuhkan sikap dan perilaku setiap warga negara yang teratur, menyeluruh dan terpadu.
"Bela negara merupakan sebuah kewajiban setiap warga negara yang dilandasi cinta Tanah Air," ujarnya.
Materi bela negara diberikan langsung oleh Komandan KOREM 083 Kol. Inf. Zainuddin. Dalam materi tersebut juga diterangkan tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan yang tak kalah penting juga materi tentang empat pilar kebangsaan yakni pemahaman Pancasila sebagai dasar negara, Undang Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika. "Semua materi tersebut diramu dalam tema mahasiswa STIKES pioneer tercapainya Indonesia unggul," terang Edi.
Menurutnya, memasuki era Revolusi Industri 4.0 tantangan generasi bangsa semakin berat. Termasuk dalam hal ini perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi yang mampu menjawab berbagai tantangan.  
"Yang perlu kita pikirkan saat ini bagaimana memperkuat nasionalisme tanpa mengenyampingkan nilai-nilai kebangsaan," ungkapnya.
Sebab kata dia, di era teknologi ilmu dan budaya berkembang dengan sangat terbuka. Tak luput dari itu pengaruh terhadap pemikiran setiap orang juga semakin kuat.
Mengalirnya informasi yang subyektif tanpa diketahui kebenarannya juga semakin deras di tengah masyarakat. Kabar hoax atau bohong yang berarah pada provokasi dan perpecahan seringkali masuk ke alat komunikasi. Keutuhan NKRI yang terdiri dari berbagai suku, ras dan agama, menjadi terguncang.
"Tugas kita untuk membentengi diri mahasiswa dari segala macam informasi yang tidak benar hoax, yang mengancam pada pemahaman ideologi," tandasnya.
Di STIKES Kendedes sendiri mahasiswanya berasal dari berbagai daerah. Terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Jiwa kebangsaan dan semangat persaudaraan terbentuk sangat kuat di kampus ini. "Makanya tidak hanya mahasiswa, dosen pun kita libatkan dalam materi bela negara dan semangat kebangsaan ini, agar semuanya menjadi satu kesatuan yang utuh dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika," tandasnya. (imm/oci)



Rabu, 11 Des 2019

Kabur Demi Nikahan Anak

Loading...