MalangPost - SPIRIT KONSERVASI DI ERA NEW NORMAL

Senin, 06 Juli 2020

  Mengikuti :


SPIRIT KONSERVASI DI ERA NEW NORMAL

Jumat, 05 Jun 2020, Dibaca : 2373 Kali

New normal dicanangkan pemerintah sebagai keputusan untuk kembali menjalani kehidupan normal. Kemungkinan pertimbangannya yakni  “di rumah saja” memiliki sisi positif dan negatif. Ia mampu menanggulangi persebaran wabah, tetapi aktivitas ekonomi melambat atau bahkan terhenti. Padahal aktivitas ini merupakan pengerak masyarakat. Untuk itu, manusia harus  produktif dengan tetap menghindari ancaman dan bahaya virus.
Sekalipun demikian, keputusan ini mengundang pro dan kontra. Kelompok pendukung menyatakan bahwa produktivitas harus jalan. Persebaran virus bukan alasan untuk berdiam diri karena persebaran ini bisa dikendalikan melalui  pemberlakuan protokol secara disiplin. Sedangkan kelompok penentang  mengkhawatirkan keputusan ini, mengingat penanggulangan virus belum selesai. Kita belum memasuki kondisi yang benar-benar aman. Jika kondisi new normal menurut Indikator WHO, maka kondisi Indonesia masih jauh dari harapan. Masih banyak daerah yang  berjibaku dengan penanganan Covid, termasuk Provinsi Jawa Timur, maka sesungguhnya  kita benar-benar belum siap dengan kondisi/tatanan new normal ini.
Penulis tidak akan membahas pro dan kontra itu, tetapi mencoba melihat new normal dengan kacamata positif. Selain akan menggerakkan roda ekonomi-meskipun tidak cepat, new normal membuka peluang untuk evaluasi pada  perilaku ekologis kita yang menjelaskan hubungan manusia dengan alam/lingkungan.  
Kemunculan pandemi sesungguhnya karena keseimbangan manusia dengan lingkungan selama ini terganggu. Praktik eksploitasi membuat sumber daya alam dikeruk untuk kerakusan manusia dan bumi tidak bisa istirahat. Padahal, Tuhan  menciptakan alam secara seimbang. Binatang dan tumbuhan diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia juga diciptakan untuk memakmurkan alam. Pasti ada penggangu seperti virus dan bakteri. Namun demikian, alam akan mengatur keseimbangan. Alamlah yang akan menghilangkan virus secara alami. Tetapi ketika keseimbangan itu diganggu, maka virus tidak hilang dan menjadi masalah manusia.  
Dari penjelasan  di atas  sesungguhnya  manusia cenderung abai pada tata keseimbangan alam ini maka keadaan yang memprihatinkan  ini seharusnya memancing keprihatinan yang selanjutnya  membimbing  pada penemuan semangat konservasi  baru.
 
Normal Baru Plus
New normal seharusnya tidak boleh sekadar orientasi ekonomi  (economic orientation). Tidak boleh hanya dipahami sebagai instrumen teknis untuk menggerakkan roda bisnis kembali atau hanya sebatas standar teknis pencegahan penyebaran wabah seperti memakai masker atau menjaga jarak aman pada sebuah kerumunan. Jauh dari hal-hal tersebut, seharusnya new normal merupakan komitmen perubahan cara hidup menjadi lebih sehat.  Sebagai tatanan baru, maka new normal dikonstruksi menjadi paradigma yang mengatur perubahan nilai-nilai, norma-norma, sikap-sikap dan pola perilaku baru.
Kebaruan itu dilihat jika sebelumnya memosisikan manusia sebagai sentral aktivitas dengan mengorbankan makhluk lain, kini mulai menghormati makhluk di luar manusia. Ingat, sekumpulan virus adalah makhluk biologis yang hidup di sekitar kita. Ia memiliki hak hidup dan menyerang kehidupan manusia ketika diganggu. Untuk itu, perubahan juga menunjuk keseluruhan cara pandang tentang relasi manusia dengan lingkungan baik dengan lingkungan fisik maupun lingkungan biologis.  
Nah untuk itu, cara hidup kita perlu dievaluasi. Manusia harus bersanding dengan makhluk lain secara serasi. Kini tidak ada lagi eksploitasi manusia atas alam karena logika ekosistem membimbing pada  “sunnatullah” yang bagi siapa yang melanggar akan mendatangkan kerusakan.

Semangat Konservasi Baru
Jika etika lingkungan merupakan ruh yang membimbing perilaku kita, maka praktik nyata relasi harmonis manusia dengan lingkungan ditunjukkan melalui konservasi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, menyatakan konservasi sebagai pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana demi menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman.

Konservasi memberi peluang kepada kehidupan generasi yang akan datang. Untuk itu, ia memiliki tujuh kriteria seperti perlindungan (preservation), pemulihan (restoration), pemanfaatan bijaksana (beneficiation), penggantian bahan (substitution), maksimum dalam proses (maximization), 3 R (reuse, recycle & recovery) dan keterpaduan dalam pemenuhan kebutuhan (integration).   


Hemat penulis, untuk menerapkan prinsip-prinsip di atas, langkah-langkah penting harus dipraktikkan, yakni: pertama, Penegakan Perundang-undangan Lingkungan Hidup. Pembangunan bukan sekadar untuk kepentingan manusia, tetapi ditujukan pada tata lingkungan yang lestari. Eksploitasi besar-besaran harus dihentikan. Keanekaragaman hayati sebagai bentuk menghormati keseimbangan alam. Karena itu, pilihan-pilihan pengelolaan sumber daya alam harus memerhatikan perundang-undangan Lingkungan Hidup.
Kedua, Penindakan Hukum Lingkungan. Karena semangat konservasi sesungguhnya terdapat dalam regulasi, maka penindakan hukum dengan  tegas sesungguhnya upaya menyelamatkan lingkungan itu sendiri. Baik terkait dengan penegakan undang-undang dan  hukum Lingkungan Hidup, negara tidak boleh pandang bulu. Penegakan hukum lingkungan untuk pelaku bisnis sumber daya alam harus diprioritaskan. Begitu kuatnya industrialism, maka negara sering kewalahan.  
Ketiga, Penguatan Gerakan Lingkungan. Pemilik otoritas menjamin lingkungan yang baik dan sehat, maka seharusnya negara menjalankan kewajiban tersebut sebagai mandat konstitusi, tapi praktiknya negara abai. Selain itu negara sering tidak mampu, maka partisipasi masyarakat non negara harus diperkuat. Akar rumput (grassroot) yang dimotori organisasi berbasis komunitas (community based organization) dan organisasi masyarakat sipil (civil society organization) menjadi agen pelembagaan nilai-nilai lingkungan sekaligus agen pengontrol negara.
Keempat, pembudayaan etika lingkungan melalui lembaga pendidikan dan keluarga. Selain gerakan kultural dan politis di atas, edukasi nilai-nilai lingkungan tentang kepedulian sosial lingkungan sehari-hari diperlukan. Langkah-langkah kecil nan sederhana seharusnya menjadi cara hidup (way of life) semua makhluk. Untuk itu lembaga pendidikan mentransfer ilmu pengetahuan modern kepada generasi muda sedangkan  keluarga mempraktikkan gabungan ilmu pengetahuan modern dan pengetahuan lokal. Keluarga dan sekolah menjadi kekuatan yang saling melengkapi dan menguatkan.


Hemat penulis, sepanjang semua langkah dipraktikkan dengan baik, maka tatanan manusia yang baru benar-benar kita nikmati. New normal tidak sekadar jargon pro-kapitalis yang kebelet untuk berbisnis, tetapi perubahan tatanan sebagai produk inisiatif dan kreativitas masyarakat.  Di sinilah, kualitas peradaban kita akan naik karena persebaran wabah telah menjadi pelajaran berharga dalam sejarah umat manusia untuk menata hidup lebih selaras dengan alam dan lingkungan.(*)

Oleh: Rachmad K. Dwi Susilo, MA, Ph.D
Ketua Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang dan Ketua Umum Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Wilayah Malang Raya dan Sekitarnya

Editor : Redaksi
Penulis : Opini