MalangPost - Sosiologi UMM Latih Pemuda Kader Desa

Jumat, 10 Juli 2020

  Mengikuti :

Sosiologi UMM Latih Pemuda Kader Desa

Senin, 16 Des 2019, Dibaca : 723 Kali

MALANG - Tiga dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM memberikan pelatihan public speaking kepada 33 pemuda kader pemberdayaan desa di Desa Gamping Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek,   Minggu (8/12) lalu.  Mereka adalah Muhammad Hayat, MA,  Rachmad K. Dwi Susilo, MA.,Ph.D dan Dr. Vina Salviana DS.,M.Si.
Public speaking dinilai sebagai tolak ukur seseorang mampu atau tidak melakukan determinasi terhadap lawan bicaranya baik individu maupun kelompok serta penentu diterima atau tidaknya di tempat kerja. Bahkan peranannya tidak hanya sebagai untuk mendialogkan diri kepada khalayak atau tentang diri yang harus peduli 'power' yang dimilikinya melainkan juga berkaitan dengan bagaimana berbagi ruang dengan orang lain.
"Kondisi seperti ini memungkinkan seseorang mampu mendedikasikan diri dengan orang lain dalam khasanah toleransi tentang 'roso' dan 'tindakan'," ujar Dr. Vina Salviana DS.,M.Si saat memberikan pelatihan kepada pemuda kader pemberdayaan desa.
Lebih lanjut, roso dalam public speaking lebih dimaknai sebagai rasa empati terhadap apa saja yang dilakukan oleh khalayak sehingga di momen inilah pembicara diuji untuk bersikap adil dengan orang lain. Sedangkan tindakan merujuk pada kemampuan tubuh beradaptasi dengan elaborasi kata, intonasi dan body language untuk mengaksentuasi seluruh kemampuan sebagai narasi utuh.
Ketua tim PPM Pelatihan Public Speaking bagi Kader Pemberdayaan Desa Gamping Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek, Muhammad Hayat, MA, mengatakan, kegiatan ini  bertujuan untuk mengoptimalkan potensi kemampuan berbicara di depan umum serta membekali ketrampilan berkomunikasi secara komprehensif dan kemampuan melakukan pelayanan secara baik.
"Publich speakling adalah sebuah seni untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok lain. Karena itu yang sangat diperlukan adalah kemampuan kita untuk mengenali apa yang sudah kita miliki dan itu digerakkan menjadi power," kata Hayat.
Power tersebut tidak hanya tentang kekuatan, tetapi kemampuan untuk mengendalikan orang lain atau kelompok lain dan mereka harus mengikutinya. Disinilah letak seninya, karena seni itulah apa yang dimiliki adalah sumber daya strategis untuk mengendalikan orang atau kelompok lain.
Ketika public speaking dipahami sebagai seni maka setiap orang yang akan berbicara di hadapan umum harus mampu mengenali diri dengan segenap kekuatannya. Namun sebelum itu perlu beberapa latihan, antara lain mensinergikan kata-kata, intonasi dan body language sebagai satu kesatuan.
"Kata-kata jika terlontar sebagai satu kesatuan yang tunggal, hal tersebut tidak akan memberikan daya gedor apapun untuk itu diperlukan intonasi yang pas dan memberikan kedalaman emosi dan bergerak sebagai power dan body language sebagai nyawanya di dalam perkataan tersebut," urainya saat mengisi pelatihan dengan materi tentang Seni Public Speaking.
Public speaking sebagai sebuah seni juga mengandalkan kekuatannya pada feeling untuk mendeskripsikan apa yang tersaji dihadapannya. Feeling bukan sesuatu yang datang tiba-tiba tetapi hasil proses belajar sehingga menumbuhkan rasa tentang diri mau peduli dengan apapun sebagai alat melakukan praktek public speaking.
"Public speaking bergerak dalam proses hingga akhirnya kita bisa menemukan hal detil seperti bagaimana cara duduk yang benar, di proses inilah kita tidak hanya belajar tetapi juga mengidentifikasi, observasi dan melatih kepekaan," jelasnya.
Sementara itu, Rachmad K. Dwi Susilo, MA.,Ph.D pada kegiatan pelatihan ini membawakan materi tentang pandai memilih kata untuk Public Speaking. Untuk mempraktekannya harus memperhatikan hal-hal mendasar karena tujuan Public Speaking sangat beragam yakni menginstruksikan, menginformasikan, mempengaruhi,  menstimuli, bahkan menghibur audiens.
Pemilihan kata atau kalimat dalam public speaking bermanfaat untuk pengendalian emosi. Selain itu memahami karakteristik audience secara lebih spesifik sangat penting untuk dipahami oleh mereka yang sedang melakukan public speaking. (lin/adv/oci)

Editor : Rosida
Penulis : Linda