SMPK Santa Maria 1 Malang, Sulap Sampah Jadi Briket

Selasa, 02 Juni 2020

  Mengikuti :


SMPK Santa Maria 1 Malang, Sulap Sampah Jadi Briket

Senin, 10 Feb 2020, Dibaca : 777 Kali

MALANG – Berawal dari kepriatinan terhadap sampah di lingkungan sekolahnya, siswa SMPK Santa Maria 1 membuat  produk inovasi dari sampah. Tidak hanya menghasilkan kompos, ditangan para siswa, sampah diolah menjadi briket.
Alhasil, produk briket yang mereka hasilkan dapat menjadi bahan memasak untuk kebutuhan sehari-hari.  
“Selama ini kami hanya melakukan daur ulang kertas atau sampah-sampah anorganik, lama-lama muncul ide membuat sesuatu yang berbeda, hasilnya berupa briket,” ungkap Drs. AMZ. Supardono selaku guru pendamping kepada Malang Post.
Dijelaskannya, briket dibuat dari bahan kertas bekas yang dibasakan dengan tekstur menyerupai bubur. Bubur kertas tersebut dicampur dengan dedaunan yang telah ditumbuk. Untuk merekatkan siswa memakai lem panci,yang kemudian dicetak dan dikeringkan.
“Bahan yang ramah lingkungan itu tidak hanya dikilokan. Tapi kami ciptakan sesuatu yang berbeda dan punya nilai guna,” tambahnya.
Untuk menyalakan apinya, siswa menggunakan biji bintaro sebagai pengganti minyak fosil. Biji bintaro yang jumlahnya melimpah di sekitar sekolah mereka jadikan bahan bakar sehingga tidak lagi bergantung pada minyak tanah dan sejenisnya.
Penggunaan biji bintaro sebagai bahan bakar juga dianggap sebuah terobosan. Ternyata siswa menemukan literatur yang menerangkan bahwa biji tumbuhan tersebut mengandung minyak. “Kami mencoba memanfaatkan potensi yang ada di dalam sekolah,” imbuhnya.
Dono menerangkan, ide membuat briket muncul berkat tekunnya siswa dalam berliterasi.
Bermula dari literasi itulah muncul inspirasi yang kreatif untuk mengolah sampah menjadi briket.  “Anak-anak mencoba mencari referensi sendiri baik dari buku-buku di perpus maupun lieterasi digital,” ujarnya.
Ia pun salut tehadap ketekunan anak didiknya dalam mengeskplor kemampuan mereka membuat susuatu yang bermanfaat. Briket yang diciptakan tersebut rencananya akan dikembangkan sehingga manfaatnya juga bisa dirasakan oleh masyarakat. “Paling tidak sebagai informasi dan wawasan baru bagi masyarakat bahwa kita bisa menggunakan potensi alam. Dari pada sampah yang kita kumpulkan setiap hari hanya dibakar akan menciptakan polusi,” tambahnya.
Waka Kesiswaan SMPK Santa Maria 1 Simon Petrus , S. Ag, menganggap inovasi tersebut sebagai upaya sekolah dalam menerapkan 3B, yakni berbenah, bertindak dan berbuah. Pembanahan harus terus dilakukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Dan berinovasi merupakan satu bentuk dari tindakan, sehingga siswa yang kreatif dengan hasil kreativitas mereka adalah bentuk dari buahnya.  “Hal ini sesuai dengan ajakan Menteri Pendidikan bagi kami sekolah Katolik untuk maju,” tandasnya. (imm/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Imam Wahyudi