Malang Post - Sistem Pendidikan Tak Bisa Cegah Kekerasan pada Anak

Minggu, 05 April 2020

  Mengikuti :


Sistem Pendidikan Tak Bisa Cegah Kekerasan pada Anak

Senin, 17 Feb 2020

Kasus perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan sangat mengundang keprihatinan publik. Utamanya bagaimana sistem pendidikan saat ini belum bisa mencegah kasus kekerasan pada siswa terjadi.
Inilah mengapa evaluasi sistem pendidikan perlu ditelaah kembali. Hal ini penting karena tujuan pendidikan sebenarnya adalah menciptakan generasi bangsa yang baik secara akademis juga kepribadian.


Salah satu sistem edukasi yang bisa diterapkan menghindari kejadian kekerasan pada anak terjadi adalah edukasi self defense (perlindungan diri). Hal ini dijelaskan Pakar Pendidikan Pra Sekolah Fakultas Psikologi UIN Malik Ibrahim Malang, Dr. Rofiqah M.Pd, Minggu (16/2).
Ia menerangkan sistem edukasi apapun yang diterapkan harus menyasar baik (calon) pelaku maupun (calon) korban. Tidak diragukan lagi, bahwa penegakan hukum dan aturan wajib dilakukan.
"Mendidik yang mungkin jadi pelaku perundungan, menjadi bagian dari pencegahan," tegasnya.


Namun demikian, itu saja tidak cukup lanjut Rofiqah. Ada satu lagi yang tidak kalah penting, dari sudut psikologi, yaitu menyiapkan pribadi-pribadi yang tangguh, yang tidak cengeng dalam menghadapi apapun gangguan dan ancaman.
Termasuk kesanggupan menghindar dari menjadi korban perundungan. Filosofi yang bisa dipetik senada dengan ajaran Siddh?rtha Gautama.
"Tindakan orang lain terhadapmu adalah karma mereka. Namun, tanggapanmu terhadap tindakan orang lain terhadapmu, adalah dharma terbaikmu"


Ini penting karena hampir tidak mungkin menghapuskan sama sekali kemungkinan adanya perundungan, tambahnya. Sehingga amat penting melengkapi diri anak-anak untuk melawan, menghindar, dan bahkan kebal terhadap perundungan.
"Semacam pendidikan self-resilience dan coping strategies bagi semua anak juga menjadi landasan program ketahanan peserta didik. Sekolah ramah anak memang penting, tetapi anak-anak sekolah yg berketahanan juga tak kalah penting," tutur perempuan yang bergabung dalam Woman Crisis Center Dian Mutiara Malang ini.


Ia melanjutkan, sistem edukasi ini harus diterapkan secara sistematis. Tidak hanya perlindungan diri sendiri saja tetapi ketahanan diri mirip ketahanan keluarga, masyarakat dan nasional dalam menghadapi ATHG (Ancaman Tantangan Hambatan dan Gangguan).
Mekanismenya para guru, orangtua menjadi pelaku pendidikan ketahanan diri anak. Tetapi sebelumnya dibekali oleh ahli psikologi, konseling dan pedagogi.


Hal senada juga diungkapkan pakar Psikologi Anak Universitas Negeri Malang Pravissi Shanti, S.Psi.,M.Psi, Psikolog saat dihubungi Malang Post. Ia menjelaskan peran orang terdekat seperti orang tua sangat vital untuk menghindari anak dari tindak kekerasan.
"Sebenarnya lebih ke keterbukaan kepada orang tua dulu. Karena ada beberapa kejadian, anak sebenarnya tahu kalau dia dibully, ada kekerasan fisik, tapi tidak berani cerita ke orang tuanya," jelas perempuan yang akrab disapa Shanti ini.


Artinya adalah komunikasi orang tua. Orang tua lah yang harus pro aktif memberikan perhatian kepada anak dari cara paling sederhana saja yakni mengajak ngobrol.
Orang tua harus lebih perhatian kepada hal hal selain akademis juga, lanjutmya. Misalnya anaknya main sama siapa kalau di sekolah, siapa teman dekatnya, ada yang suka jahat atau tidak.


Sejak dini anak sudah harus diajarkan, ia melanjutkan, misal apa saja yang boleh dia lakukan ke teman, dan sebaliknya.
"Menyakiti dalam bentuk apapun tidak boleh, dan kalau ada yang berperilaku demikian, harus cerita," pungkasnya.(tea/ica/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina

  Berita Lainnya





Loading...