Siap Menuju Malang TOURISM HUB | Malang POST

Jumat, 21 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Senin, 27 Jan 2020,

Pembangunan Kota Malang memasuki era metropolis dan mondial frekuensinya kian meningkat. Terlebih, saat ini Kota Malang memiliki beragam destinasi wisata tematik yang tengah mumpuni dan menjadi jujugan wisatawan asing maupun daerah. Di antaranya, Kampung Budaya Polowijen, Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Tridi, Kampung Biru Arema, Kampung Heritage Kayu Tangan, Kampung Makam Gribig, Kampung Koeboeran Londo, dan masih banyak lainnya. Keberadaan kampung tematik ini mampu menyumbangkan destinasi wisata yang dapat menjadi Tourism Hub atau Pusat Pariwisata. Melalui kampung-kampung tematik bisa dikolaborasikan untuk menciptakan iklim pariwisata yang sehat.
Membawa dan mengenalkan kampung tematik tidak hanya di lingkungan Kota Malang saja, tetapi juga perlu digelar di luar negeri. Beberapa event digelar untuk mengenalkan eksistensinya,  seperti menggelar International Malang Cross Culture Festival. Bagaimana dengan geliat pembangunan Kota Malang untuk membudayakan setiap kampung guna mencari ikon tematik guna mengangkat martabat dan eksistensi kampungnya? Konon, dahulu Malang sempat dikenal sebagai barometernya olahraga, musik, pendidikan, dan kota budaya. Sedangkan julukan lain pada Malang adalah sebagai kota bunga, karena dipandang sejuk, dan bersih sejak masa penjajahan Belanda silam. Berangkat dari sini, paling tidak sebagai suatu acuan semisal akan membangun tematik kampung olahraga, seni, musik, pendidikan, dan kawasan bunga.
Sestrategis apapun perencanaan ke depan untuk menggali aset budaya, tetapi  kalau tidak proporsional jelas akan menjadi bumerang. Kenyataan inilah yang sekarang menjadi silang pendapat antara pihak yang ingin diangkat kesejahteraannya dengan pihak lain yang mempertahankan legalitas kepentingan umum. Adalah suatu hal yang kontradiktif jika Kota Malang sebagai kota referensi sejarah, dan budaya leluhur tiba-tiba menggali asetnya dari bisnis wisata yang tidak mencerminkan intelektualitas. Kondisi inilah yang menjadi tantangan (treath) dalam pembangunan sektor pariwisata dalam perspektif elitisme terdidik melalui peran serta kearifan lokal. Dalam pengenalan pariwisata juga harus memenuhi beberapa unsur yaitu keamanan, kestabilan, kemudahan, keuntungan dan ketersediaan. Jika unsur-unsur ini dapat dicapai, otomatis sektor pariwisata di Kota Malang akan semakin maju.
Untuk menggali suatu kampung tematik bagi wilayah tersebut sebenarnya sudah tersaji prospek dan potensinya. Sebenarnya, di Kota Malang banyak ciri khas sumber daya budaya yang dapat direkonstruksi menjadi bauran produk unggulan hingga menjadi sentra kunjungan wisata. Mulai dari seni pahat topeng hingga memunculkan tarian topeng, kerajinan jaranan hingga mengilhami seni jaranan. Selain itu ada sanggar budaya yang terbukti turis mancanegara lebih mengenal wilayah Malang. Belum lagi galeri lukisan, kerajinan anyaman, sangkar burung, dan lain-lain. Di sisi lain, produk yang dihasilkan dari  program tersebut adalah terciptanya komunitas pariwisata daerah berbasis kearifan lokal.

Kemitraan Pemkot dan Swasta
Bagi Pemerintah Daerah Kota Malang atau pihak perencana tata kota merupakan saat yang tepat untuk membangun komunitas pariwisata yang berdimensi kampung tematik. Dengan tujuan mengembalikan citra kejayaan Kerajaan Singhasari tempo dulu dengan karakteristik kota pendidikan, seni, musik, dan budaya. Oleh karena itu jajaran birokrasi harus mampu mengembangkan entreprenerial spirit dalam penanganan sektor publik sebagai upaya menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.    Fungsi yang akan digantikan untuk menggali kampung tematik setidaknya mampu memberikan penjaminan kesejahteraan masyarakat setempat.
Persoalan akan jadi lebih rumit tak hanya karena bisnis tersebut sudah mendapat angin segar untuk tetap eksis, sebaliknya dengan proteksi sektor publik kelompok masyarakat yang telah dijanjikan untuk berbisnis ilegal oleh fungsi-fungsi lama tak akan diuntungkan sama sekali oleh fungsi-fungsi kebijakan baru. Karena itu, yang jadi isu utama proyek pengembangan sektor pariwisata di Kota Malang bukan semata-mata siapa yang akan mengkoordinasi bisnis wisata prospektif secara legal, tapi terutama apakah ada alternatif pengganti fungsi lama (bisnis non moralitas) yang harus digantikan itu.
Pemkot Malang terus memanjakan masyarakatnya maupun wisatawan dengan berbagai fasilitas untuk menikmati keindahan kota tersebut. Satu di antaranya Bus Macito. Macito merupakan singkatan dari Malang City Tour. Dinamakan demikian karena bus ini siap mengajak para wisatawan untuk berkeliling di Kota Malang. Selain itu, keperluan angkutan umum massal yang mencerminkan paket wisata terpadu harus segera digulirkan, bukannya menyaingi angkutan umum yang sudah ada tapi ada mobilitas khusus di Kota Malang. Setidaknya peluang transportasi bisnis wisata ini bisa dioperasionalkan melalui biro-biro perjalanan kota, taxi bernuansa wisata, bus kota dan bus pariwisata. Sedangkan ciri khas lain yang sebenarnya harus dipertahankan adalah angkutan umum jarak pendek pada daerah-daerah tertentu yaitu seperti dokar atau andong.
Untuk menggairahkan kembali kunjungan wisata domestik dan mancanegara ke Kota Malang, maka kebijaksanaan pembangunan (policy main tream) dalam upaya pengembangan obyek wisata menuntut adanya kepranataan yang terpadu. Kemitraan pemkot dan swasta  menuntut adanya  komitmen dalam skema kerjasama investasi (Public Private Partnership Schemes) yang transparan dan workable, yang dilandasi tidak hanya kepentingan bisnis saja, lebih dari itu komitmen yang harus dibangun secara peraturan dan perundang-undangan (Legal and Regulatory). Langkah ini sebagai upaya untuk memberikan modal bagi kampung untuk membangun wisata tematiknya.  
Potensi yang dapat digali adalah obyek wisata kota yang bernuansa asri, mencerminkan budaya, estetika lingkungan, dan bisa dijadikan destinasi wisata baru. Strategi pemasaran kepariwisataan yang dijadikan acuan apabila ingin membangun Malang Tourism, yaitu dengan membangun identitas tempat wisata, merumuskan unique selling proposition (USP), menentukan target market dan target audience, rumuskan positioning, membangun brand (branding), menetapkan harga, membangun strategi komunikasai terpadu. Karena itu, diharapkan kiranya pemerintah daerah dapat mencurahkan perhatiannya, sehingga dari kampung berpotensi  dapat diberdayakan menjadi etalase dan pilar penyangga dalam ekosistem kepariwisataan di Kota Malang. Dengan demikian Malang siap menuju Tourism Hub, dimana keberadaan kampung tematik ini mampu menyumbangkan destinasi wisata yang lebih komprehensif. (***)  

Oleh : Djajusman Hadi
Kasubag Registrasi dan Statistik Dari Universitas Negeri Malang (UM
)

Editor : Redaksi
Penulis : Djajusman Hadi



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...