Malang Post - Setiap Enam Bulan Kirim Bonsai ke Eropa

Rabu, 08 April 2020

  Mengikuti :


Setiap Enam Bulan Kirim Bonsai ke Eropa

Minggu, 03 Nov 2019

BATU – Tanaman bonsai tidak pernah ada matinya. Tanaman yang banyak dicari para hobies ini selalu dicari, khususnya para pecinta tanaman kerdil ini. Keunikan pohonnya menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran, jika tanaman bonsai harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah, bahkan sudah banyak tanaman bonsai dari Kota Baty dikirim ke berbagai negara di Eropa.
Salah satu petani yang membudidaya tanaman dan merawat bonsai di Kota Batu adalah Arpai (78). Warga Jalan Bukit Berbunga Kota Batu ini memiliki ratusan tanaman bonsai di kebun miliknya seluas 1,5 hektar. Dari ratusan bonsai berbagai ukuran yang ia budidaya di lahan miliknya sudah banyak yang diboyong ke luar negeri.  Ia merawat dan melakukan pembibitan sejak tahun 1980 hingga saat ini. Sehingga ratusan tanaman yang miliknya banyak yang berusia 30-40 tahunan.
"Saya menjadi petani bonsai sejak tahun 1980-an. Sejak saat itu pula saya membibit sendiri hingga saat ini. Untuk jenisnya beragam, mulai jenis fikus atau beringin hingga jenis cemara," ujar Arpai kepada Malang Post.
Bapak lima anak ini menceritakan, sebelum sukses bertani bonsai ia penah menjadi petani sayur, bunga potong, bawang putih, dan terakhir menjadi petani apel. Disitu ia berkesimpulan sebagai petani yang diuntungkan hanya tengkulak.
"Dari situlah saya berksesimpulam kalau petani sayur dan buah tetap susah. Hingga akhirnya saya berpikir untuk menjadi petani menciptakan komoditi sendiri, produksi sendiri, pasarnya sendiri dan disitu pula saya bisa tentukan harganya. Ketemu bonsai ini," kenang Arpai.

   Baca juga : Saat Hamil, Pernah Lakukan Operasi Bison


Dengan berjalannya waktu, sebagai orang yang mau bekerja dengan biro apapun, baik biro pendidikan, biro perjalanan, hingga perhotelan. Akhirnya ia bertemu dengan seorang yang be profesi sama sebagai petani bonsai dari Belanda.
Melalui pertemuan itulah, Arpai hingga sampai saat ini bekerja sama dengan bertindak sebagai bagian kecil pengeksport bonsai ke Belanda dan negara di benua Eropa lainnya. Ekspor tersebut dilakukan setiap enam bulan sekali dengan sekitar satu truk.
Sekali eksport, satu truk ia bisa mengirim sekitar 500 bonsai-700 bonsai. Setiap pohon bonsai dihargai mulai Rp 500 ribu - Rp 1 juta per pohon.
Untuk suplay ke luar negeri, lanjut dia, bukanlah hal mudah. Karena melihat harus melihat kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. "Untuk kontinuitas tidak bisa sendiri. Makannya saya ajak petani bonsai se Kota Batu untuk suplay bonsai ke luar negeri," imbuhnya.
Untuk perawatan, Arpai mengungkapkan batang bonsai yang sudah besar dan berbentuk indah tidak diperoleh dalam waktu singkat. Paling tidak butuh minimal waktu 35 tahun sampai 45 tahun agar harganya mencapai puluhan hingga ratusan juta.
“Semakin tua usia bonsai harganya semakin mahal. Yang membuat mahal juga karena ketuaan dan semua unsur-unsur total secara estetika atau seninya. Untuk membentuk saja butuh waktu 5 tahun-7 tahun untuk kontes. Kalau untuk dijual cepat 2 tahun cukup," bebernya.
Saat ditanya berapa harga bonsai yang ia jual, sangat relatif, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 juta. Bahkan bisa lebih mahal ketika bonsai sangat langka dan pernah juara dalam sebuah kontes.
Dari ketekunannya dan keuletannya bertani bonsai, Arpai kini tidak hanya mangakomodir para petani bonsai untuk mengirim setiap enam bulan ke Eropa, ia juga memiliki 22 pekerja yang merawat bonsai miliknya sehingga memiliki nilai estetik dan nilai jual yang tinggi. (eri/aim)

Editor : aim
Penulis : kris

  Berita Lainnya





Loading...