Serka Srianto, Prajurit Paskhas Pemiliki Keahlian Ganda

Senin, 21 Oktober 2019

Sabtu, 14 Sep 2019, dibaca : 23013 , vandri, ira

PROFESIONAl dan punya banyak kemampuan personal merupakan tuntutan anggota pasukan elite. Seperti yang dimiliki Serka Srianto. Bintara yang bertugas di Detasemen Matra (Denmatra) 2 Paskhas di Lanud Abd Saleh ini selain punya spesialis penerjun juga mencatat sejumlah prestasi. Di antaranya wasit level internasional dan pemecah Rekor MURI.
Sejak bertugas di Paskhas yang merupakan korps pasukan elite TNI AU, Srianto hanya punya satu pilihan. Yakni rutin berlatih meningkatkan profesionalismenya. Tak hanya jago menembak dan  kesamaptaan yang merupakan standar wajib prajurit. Keterampilan lain harus dimiliki.  
Mulai tahun 2010 lalu, ia menyandang status wasit kejuaraan terjun payung internasional. Di Indonesia, jumlah wasit level ini tak banyak. Dalam catatan Srianto, hanya 15 orang. ”Saya jadi wasit kejuaraan internasional setelah mengantongi sertifikatnya,” kata prajurit ramah ini.
Sertifikat wasit internasional yang dimiliki ayah empat anak ini diberikan oleh Federation Aeronautique Internationale (FAI). Sebelumnya, ia mengikuti kursus selama sebulan agar mengantongi status wasit tersebut.
Status wasit yang disandang Srianto membantu Indonesia memacu pembinaan prestasi terjun payung. Sebelum tahun 2010 lalu, Indonesia belum memiliki wasit terjun payung internasional. Jika ada kejuaraan kala itu, panitia mendatangkan wasit dari FAI.
“Nah, saat itu juga KONI pusat berniat mengikutkan saya dan kawan-kawan sebagai peserta kursus tersebut. Karena dari kursus ini, kami mendapat sertifikat, dan bisa memimpin kejuaraan terjun payung tingkat nasional dan internasional,’’ katanya.
Srianto memang punya wawasan dan skill terjun payung yang lengkap. Buktinya ketika
baru memiliki 850  jam terbang, ia sudah dipercaya menjadi wasit. ”Saat itu saya menjadi anggota Yonko 464 Paskhas,’’ tambah pria kelahiran tahun 1973 ini.
Kini  ia tercatat menjadi wasit di banyak kejuaraan. Dalam satu tahun, ada tiga sampai empat kali kejuaraan terjun payung yang membutuhkan Srianto sebagai wasit.  Bahkan sekarang sudah diminta menjadi wasit cabang olahraga (cabor) Terjun Payung PON 2020 di Papua.   
Srianto sebenarnya bukan atlet terjun payung namun tekuni olahraga tersebut sesuai tugasnya. Ya, karena prajurit Pakhas memiliki skill terjun payung. “Passion saya di wasit ya, bukan di kejuaraan,’’ tambahnya tersenyum.
Keahlian pria yang bertugas sebagai Bintara Intel Denmatra 2 Paskhas ini membuatnya berhasil memecahkan Rekor MURI. Yakni rekor membawa bendera Merah Putih terbesar saat terjun payung.
Prestasi itu diraih pada tahun 2018 lalu. Awalnya Komandan Denmatra 2 Paskhas meminta dia membuat gebrakan terjun payung dengan membawa bendera Merah Putih terbesar pecahkan Rekor MURI.
Sebagai prajurit,  suami dari Silvia Elok Damayanti ini pantang menolak. Dengan semangat  tinggi, Srianto menerima tugas tersebut.
“Saat itu tidak ada persiapan khusus. Persiapannya hanya satu minggu saja. Saya bahkan tidak pernah latihan membawa bendera besar saat terbang,’’ ungkapnya.
Awal memulai pemecahan rekor, Srianto sempat alami gangguan ketika membawa bendera Merah Putih berukusan 35 x 30 meter. Penyebabnya tali pemberat yang diikatkan di bagian bawah bendera putus.
Penilaian dilanjutkan di hari kedua. Pagi hari, bersama 13 anggota tim Pengendalian Tempur (Dalpur) Denmatra 2 Paskhas, dia kembali terjun. Tapi penerjunan short  pertama ini juga gagal. Penyebabnya tas yang membawa bendera tidak dapat terbuka.
Aksi membawa bendera ini akhirnya sukses di penerjunnan ketiga. ”Kami terjun dari pesawat Hercules C-130, dari ketinggian 10 ribu feet saat itu,’’ tambah alumni STM Kertosono, Kediri.
Kesuksesan itu disambut gembira. Semua undangan yang menyaksikan aksi Srianto berdecak kagum. Tak terkecuali Marsma Andi Wijaya, yang saat itu menjabat sebagai Danlanud Abd Saleh.
”Saat mendarat, tim dari MURI langsung mengukur bendera. Lalu  dia langsung menganggukkan kepala, jika bendera yang saya bawa adalah bendera paling besar,” kata pemilik 1.325 jam terbang ini.
Kini prajurit yang kerap mendapatkan tugas operasi di daerah konflik ini terus menatap cita-cita besarnya. Yakni menjadi wasit di kejuaraan terjun payung di luar negeri. Selain itu juga ingin mewujudkan satuan tempatnya bertugas.
“Kami anggota Denmatra 2 Paskhas memiliki angan-angan untuk terjun payung dengan jumlah banyak, dengan membawa bendera Merah Putih,’’ ungkapnya. Rencananya digelar pada Oktober mendatang bersamaan HUT Paskhas. (ira/van)



Loading...