Sepakat Berdamai, Pemberontak Filipina Serahkan 940 Senjata | Malang Post

Rabu, 11 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 07 Sep 2019, dibaca : 2778 , Udi, net

FILIPINA- Salah satu kelompok pemberontak terbesar di Filipina, Fron Pembebasan Islam Moro (MILF), menyerahkan 940 senjata sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan pemerintah. Sejumlah kelompok pemantau internasional melaporkan bahwa mereka menerima ratusan senjata itu dari sekitar seribu mantan anggota MILF hanya dalam kurun waktu sehari pada Sabtu (7/9).
"Perang sudah berakhir. Saya sudah tidak punya senjata lagi," ujar Paisal Abdullah Bagundang, seorang anggota MILF yang mengaku terlibat dalam lebih dari 100 baku tembak dengan pasukan pemerintah sejak medio 1970-an.
Upaya perundingan damai pemerintah dengan kelompok pemberpontak di Filipina memang sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Kesepakatan pada tahun lalu ini merupakan perluasan dari hasil perundingan damai antara pemerintah dan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), kelompok pemberontak awal di Filipina yang juga merupakan cikal bakal MILF.
Pada 1976, MNLF mencapai kesepakatan damai dengan pemerintah dengan pembentukan Kawasan Otonomi Muslim Mindanao (ARMM) yang dianggap gagal karena tak dapat membendung perlawanan bersenjata di wilayah tersebut.
Dalam perkembangannya, MILF yang awalnya hanya kelompok sempalan MNLF mengajukan perluasan otonomi dalam kesepakatan damai pada 2014 lalu. Di bawah hukum ini, Bangsamoro akan diberikan US$950 juta biaya pembangunan selama 10 tahun ke depan, juga mendapatkan bagian dari hasil pajak di daerah kekuasaan mereka.
Namun, pemerintah pusat akan tetap memegang kendali atas kepolisian meski pemimpin daerah otonom tetap dapat terlibat dalam urusan keamanan. Sebagai timbal balik, para militan MILF yang diperkirakan berjumlah 30 ribu orang, akan menyerahkan senjatanya kepada pemerintah.

Ledakan di Depan Pasar, Tujuh Terluka
Terpisah, setidaknya tujuh orang terluka akibat sebuah ledakan di depan salah satu pasar tradisional di Sultan Kudarat, Filipina, pada Sabtu (7/9) pagi. Kantor Kepolisian Sultan Kudarat menyatakan bahwa ledakan itu tepatnya mengguncang Toko Roti Manolette yang terletak di seberang pasar sekitar pukul 07.00 waktu setempat.
Juru bicara Komando Mindanao Barat, Arvin Encinas, mengatakan kepada Rappler bahwa alat peledak buatan itu diletakkan di sebelah tempat parkir motor tepat di seberang pasar. Setelah mendapatkan laporan mengenai ledakan tersebut, pasukan militer langsung dikerahkan, kemudian menutup lokasi. Para korban lantas dilarikan ke dua pusat medis, yaitu Rumah Sakit Provinsi Sultan Kudaran dan Rumah Sakit Holy Nazarene.
Menurut Encinas, saat ini pihaknya masih terus menyelidiki insiden tersebut dan belum dapat memastikan dalang di balik ledakan itu. Ketika ditanya keterkaitan kelompok pemberontak Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF) dalam insiden itu, Encinas hanya mengatakan bahwa kemungkinan tersebut juga masuk dalam pertimbangan penyelidikan aparat.
Ini bukan kali pertama ledakan mengguncang Sultan Kudarat pada tahun ini. Bulan April lalu, sebuah ledakan juga terjadi di depan pusat bisnis dan melukai setidaknya 18 orang. Pada Agustus, tiga nyawa melayang dan lebih dari 30 orang lainnya terluka akibat ledakan di lokasi yang sama. (cnn/ra/udi)



Loading...