Sensus Penduduk, Semudah Belanja Online | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 08 Jan 2020,

Kini makin banyak hal yang bisa dilakukan secara online. Belanja, pesan makanan, membaca berita hingga curhat via gadget menjadi hal yang biasa. Sensus penduduk juga tak mau ketinggalan, sebentar lagi kita bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini secara online.

Dulu, saat seseorang malas untuk memasak makanan, tak banyak pilihan yang bisa dilakukan. Kalau tidak memaksa diri untuk bergerak ke warung makan, maka biasanya pilihan jatuh pada mie instant. Saat kehabisan diapers anak atau kebutuhan rumah tangga lainnya, satu-satunya opsi adalah menyeret diri ke toko terdekat untuk belanja. Sekarang, dengan munculnya sarana transportasi maupun toko berbasis online, hampir setiap kebutuhan bisa dipenuhi cukup dengan beberapa kali klik. Banyak kemudahan yang ditawarkan dengan makin masifnya penetrasi internet di kehidupan sehari-hari. Berbagai kegiatan yang dulu memerlukan banyak energi dan waktu, kini bisa dilakukan dengan sentuhan jari.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan statistik dasar juga beradaptasi dengan perubahan ini. Sensus Penduduk (SP) yang dilaksanakan tiap 10 tahun sekali ikut bertransformasi. Kini, tak perlu menunggu petugas sensus datang ke rumah, kita bisa mencatatkan data kependudukan kita secara mandiri. SP online akan dilaksanakan mulai tanggal 15 Februari hingga akhir Maret 2020.
BPS telah menyiapkan portal khusus untuk kegiatan tersebut. Masyarakat tinggal mengakses laman https://sensus.bps.go.id dan mengisi kuesioner yang telah disiapkan. Cukup menyiapkan Kartu Tanda Penduduk dan atau Kartu Keluarga untuk melengkapi isian yang ada. Kita juga bisa mengisikan data anggota keluarga yang lain asalkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sudah diketahui. Hanya ada sekitar 19 item pertanyaan sehingga waktu yang dibutuhkan tidak akan lama.
Di Indonesia, akses internet sudah menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Data dari www.internetworldstats.com menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan ke-empat negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia. Menurut data tersebut, per 30 Juni 2019 ada 171,260,000 orang di Indonesia yang aktif berselancar di dunia maya. Angka tersebut merepresentasikan hampir 65?ri total jumlah penduduk Indonesia. Oleh karena itu, kesuksesan sensus penduduk online sangat bergantung pada kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencatatan administrasi kependudukan. Jika semua warga negara Indonesia yang melek internet ikut aktif berpartisipasi dalam sensus online, maka target partisipasi sensus online yang hanya 22-23 persen bisa jauh terlampaui.
Sensus penduduk kali ini juga berbeda karena merupakan langkah awal terciptanya satu data kependudukan. Untuk pertama kalinya, sensus penduduk akan menggunakan data administrasi kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) sebagai basis data. Sebelumnya, perbedaan konsep kependudukan antara BPS dan Dukcapil menyebabkan munculnya beberapa versi data jumlah penduduk Indonesia. BPS yang menggunakan konsep de facto berpedoman pada keberadaan penduduk secara faktual yang diperoleh dari sensus. Sedangkan data Dukcapil didasarkan pada registrasi penduduk yang sangat bergantung pada keaktifan masyarakat untuk melaporkan status kependudukan mereka. Kedua konsep tersebut akan diakomodir dalam Sensus Penduduk 2020 sehingga diharapkan akan terwujud satu data kependudukan Indonesia.
Data jumlah penduduk merupakan data dasar yang digunakan untuk berbagai perencanaan pembangunan. Berapa jumlah fasilitas publik yang harus dibangun, berapa jumlah angkatan kerja yang belum terserap, hingga data kondisi perumahan bisa diperoleh dari hasil pelaksanaan sensus penduduk. Dari data tersebut, kebijakan pembangunan berbagai sektor kemudian dirumuskan.
Lalu bagaimana dengan penduduk Indonesia yang belum tersentuh akses internet? Tenang, selain sensus online, SP 2020 juga akan melakukan pendataan secara offline atau door to door. Selain untuk menjaring mereka yang belum familiar dengan internet, pendataan dengan metode tradisional ini dilakukan untuk mengakomodir wilayah-wilayah terluar di Indonesia. Negeri yang begitu luas dan beragam memang menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pendataan seperti ini. Metode tradisional harus tetap digunakan karena tidak semua penduduk Indonesia bisa mengisi sensus secara mandiri. Berkaca dari negeri jiran Malaysia, tingkat partisipasi survei online hanya mencapai 25%. Dengan gencarnya sosialisasi, diharapkan Indonesia bisa memperoleh capaian yang lebih tinggi.
Generasi milenial yang mendominasi struktur penduduk Indonesia sepertinya menjadi harapan besar bagi hajatan 10 tahun sekali ini. Mereka yang akrab dengan gadget diharapkan mampu menularkan kesadaran akan pentingnya data. Di era ini, dengan maraknya penggunaan sosial media, setiap orang punya kesempatan untuk menjadi influencer. Sebuah testimoni positif bisa membuat orang tertarik untuk mengikuti apa yang dikerjakan orang lain. Sensus penduduk memerlukan sebanyak mungkin influencer untuk memperoleh angka partisipasi yang tinggi, termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini. Jadi, jika partisipasi itu hanya memerlukan sekian kali sentuhan pada gawai, adakah alasan untuk tidak berkontribusi? (***)  

Oleh : Dwi Esti Kurniasih
Statistisi BPS Kota Batu

Editor : Redaksi
Penulis : Dwi Esti Kurniasih



Loading...