Sempat Ditolak Warga, Kini Berdiri Megah | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 28 Okt 2019, dibaca : 33774 , udi, agung

RAUDLATUL ULUM II adalah salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) yang ada di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi. Secara resmi Ponpes ini didirikan pada 1983. Pendiri sekaligus pengasuh pertama adalah KH. Qosim Bukhori.
Ponpes ini sebelumnya berdiri di atas tanah seluas satu hektare. Tanah tersebut merupakan wakaf dari H. Mahmuji, yang merupakan mertua KH. Qosim Bukhori, sekaligus tokoh masyarakat setempat. Pendirian bangunan saat itu, dihadiri beberapa ulama besar, seperti KH Yahya Syabrawi, KH Zainulloh Bukhori, KH Fudloli Bukhori, KH Abu Abbas Bukhori dan KH Ismail Bukhori.
"Ponpes Raudlatul Ulum II ini, berdiri tahun 1983. Namun KH. Qosim Bukhori, sudah memiliki santri yang belajar mengaji kepadanya sejak 1979. Mereka belajar ngajinya di rumah, serta di Musala," ungkap KH. Hamim Kholili, Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum II, yang juga menantu KH. Qosim Bukhori.
Ada 45 santri yang mengawali belajar agama kepada KH. Qosim Bukhori. Kemudian setelah Ponpes RU II berdiri, menjadi 60 santri. Semuanya santri laki-laki. Mereka berasal dari masyarakat sekitar Desa Putukrejo dan dari beberapa daerah lain.
Sebelum berkembang besar, dalam pemberian pelajaran agama, saat itu ditangani langsung oleh KH. Qosim. Pengajarannya meliputi pengajian Alqur’an dan dasar-dasar fikih. Namun karena grafik santri yang terus naik, apalagi dorongan masyarakat untuk mendirikan pendidikan formal, akhirnya pada 1984 didirikan bangunan untuk lembaga pendidikan SMP.
Pendidikan terhadap para santri, saat itu dibantu Mudhoffar Cholipah M.Ag, seorang guru di Madrasah Raudlatul Ulum, Ganjaran. Bentuk pendidikan pada masa-masa awal itu hanya berupa pengajian bandongan kitab kuning yang baca oleh Kiai Qosim Bukhori. Kitab yang diajarkan adalah kitab Alfiyah, yang berisi seribu nadzoman dalam masalah nahwu dan shorof.
Selain itu, juga diajarkan kitab Fath al-Mu’in, sebuah kitab standar pesantren tentang fiqh ubudiyah dan muamalah. Sedangkan Mudhoffar ketika itu membaca kitab Al-Jurumiyah, sebuah risalah kecil pegangan santri pemula untuk mengenal ilmu nahwu.
Karena waktu itu belum ada gedung, proses pendidikan sekolah pada awal pembukaan masih dalam kondisi darurat. Sehingga proses belajar mengajar di sekolah, ditempatkan di ruang musala pesantren. Jumlah siswa di sekolah pada saat itu, memang tidak banyak. Namun, upaya untuk merekrut siswa baru, selama tiga tahun sejak dibukanya SMP, segala macam pembayaran digratiskan, kecuali dana yang peruntukkan buat ujian saja.
Di samping itu, pihak sekolah mencoba melakukan usaha pendekatan dan menjalin hubungan dengan sekolah-sekolah lain agar mau mengarahkan siswanya melanjutkan pendidikan ke SMP Raudlatul Ulum II. Termasuk menyebarkan seruan dan ajakan ke berbagai sekolah dan pada alumni santri di Ponpes Ganjaran.
Pada akhir 1985, SMP RU berhasil meluluskan 100 persen siswanya. Dengan keberhasilan itu, lalu pada 1986 SMP RU mengupayakan pengajuan akreditasi sekolah. Alhasil, SMP RU berhasil memperoleh status diakui dan berhak menyelenggarakan ujian negara sendiri.
Pada awal berdiri, Ponpes RU II, memang belum ada santri putri. Karena pada saat itu,  Nyai Zainab masih belum mau menerima santri putri, meski pada kenyataanya sudah ada wali santri yang ingin menitipkan anaknya. Alasan Nyai Zainab, karena merasa belum mampu menjaga santri putri.
Meskipun sudah didesak semua pihak dilingkungan pesantren RU II, termasuk oleh para guru, tetapi Nyai Zainab tetap bergeming. Hati Nyai Zainab baru luluh, setelah KH. Qosim memberikan nasihat. "Kamu akan menanggung dosa, karena menolak orang tua yang ingin anaknya belajar agama," pesan KH. Qosim kepada Nyai Zainab.
Ketika santri putri dibuka, awalnya yang berniat mondok terhitung hanya beberapa orang. Karenanya mereka semula, ditempatkan di kamar yang berada bagian belakang  dekat ruang dapur. Namun dengan bertambahnya santri putri, akhirnya kini menjadi asrama putri.
Ruangan yang asalnya garasi mobil, menjadi musala putri. Termasuk gudang di belakang ruang dapur, sekarang menjelma kamar tempat hunian para santri putri.
Ada kisah menarik pendirian Ponpes RU II. Untuk menjadikan Ponpes RU II eksis dan besar ini, KH. Qosim Bukhori, penuh perjuangan keras. Pasalnya, pada saat awal mendirikan Ponpes, sempat mendapat tentangan dari masyarakat sekitar.
Masyarakat sempat mengkritisi dan menolak keberadaan Ponpes tersebut. Alasannya, karena KH. Qosim dianggap sebagai pendatang dan orang baru. Mereka tidak hanya mencemooh tetapi juga menyudutkan keberadaan KH. Qosim.
Selain itu, KH. Qosim beberapa mendapat surat gelap dari seorang warga, yang mempermasalahkan keberadaannya. Bahkan, Ponpes RU II saat itu juga hampir setiap hari mendapat teror, hingga dilempar batu, dan dilempar kotoran.
Termasuk segelintir masyarakat, sempat mengajak para santri untuk carok. Namun, KH. Qosim, menghadapi teror tersebut dengan rendah hati dan sabar. Dia tidak menanggapi semua cemooh orang yang menyudutkannya. "Sebaliknya, malah membalas dengan kebaikan. Salah satu contohnya, salah satu warga yang tidak menyukainya meninggal dunia. Tetapi KH. Qosim tetap datang melayat untuk mendoakan serta ikut salat," jelas Gus Hamim, sapaan akrab KH. Hamim Kholili.
Karena kesabaran serta kerendahan hati itulah, KH. Qosim Bukhori yang merupakan salah satu ulama besar di Kecamatan Gondanglegi, diterima sepenuhnya oleh masyarakat. Bahkan, pada tahun 2003 bangunan Ponpes diperluas setelah mendapat tanah wakaf seluas 2 hektare. (agp/udi)



Loading...