Seladi, Pensiunan Polisi yang Kian Dekat dengan Ilmu Sampah | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 08 Jan 2020,

Masih ingat Seladi? Pensiunan polisi yang ketika dinas dikenal karena memilih nyambi dengan jadi pemulung ketimbang menerima uang sogokan. Ia semakin mantab menjadi pembicara, ya tentunya ilmu sampah, karena seluk beluk kegiatannya kini di bidang sampah. Ia baru saja melatih ketahanan mental pada puluhan pelajar SMK asal Jogjakarta di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lowokdoro.
Adalah Seladi (60 tahun), yang mengajak para pelajar tersebut untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi masyarakat kelas ekonomi bawah. Yakni dengan hidup dan mengumpulkan rezeki dari memilah dan mengolah sampah.
"Mereka di sini dikirim dari Jogja terutama untuk belajar tentang kehidupan. Jadi bagaimana menguji mental mereka supaya kuat," kata Seladi ketika ditemui wartawan Malang Post, Selasa (7/1).
Setidaknya terdapat 30 pelajar yang berasal berasal dari SMK Kolese De Britto Jogjakarta. Mereka menempuh studi khusus untuk untuk mendapatkan pembelajaran di luar sekolah. Rencananya, mereka akan belajar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lowokdoro yang dikelola oleh Seladi sampai Sabtu (11/1).
“Harapannya mereka ini bisa tahu bagaimana kehidupan rakyat kecil dan bisa mendapat pengalaman dan pengetahuan baru, khususnya tentang bagaimana memilah sampah agar memiliki nilai ekonomi,” lanjut dia.
Jadi pada kurun waktu selama enam hari tersebut, mereka diwajibkan kemping alias tinggal di lingkungan TPA Lowokdoro bersama dengan Seladi. Mereka bahkan juga mencari sendiri gubuk mana yang bisa digunakan untuk beristirahat.
“Mereka tidurnya di gubuk-gubuk, tidak boleh membawa HP, hanya boleh membawa polybag dengan yang isinya pakaian,” sambungnya.
Dilanjutkannya, mereka diwajibkan untuk mengikuti instruksi pembelajaran  yang disampaikannya selama masa pembelajaran tersebut. Mereka dibagi dalam tiga kelompok, dan secara bersama-sama mengerjakan tugas-tugas untuk mengolah sampah agar menjadi sampah siap jual.
“Mulai jam 07.00 setelah sarapan pagi langsung saya ajari memilah sampah, jam 16.00 mereka mandi. Setelah itu mereka tidak boleh ke mana-mana lagi,” sebutnya.
Puluhan pelajar tersebut benar-benar diajak untuk hidup sederhana agar mereka bisa memiliki karakter baik dan mental yang kuat. Mereka juga harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan kondisi serba minim.
“Lewat memilah sampah juga mereka diharapkan bisa menanamkan nilai kejujuran dan kesabaran. Seperti melatih kejujuran dengan memilah sampah, mana sampah yang laku mana yang tidak. Mereka harus jujur, jangan sampai karena malas memilah, yang laku malah dibuang,” terangnya.
Jadi para pelajar diajak untuk melatih kejujuran dan kesabaran melalui memilah berbagai jenis sampah. Mulai dari sampah plastik kering, sampai dengan sampah organik yang berbau. Bahkan sudah dikerubungi lalat dan juga belatung.
“Nanti setelah mereka kembali ke Jogja harapannya bisa membagikan pengetahuan yang mereka dapat di sini ke lingkungan sekitarnya,” tandasnya.
Sementara itu, salah seorang pelajar yang turut serta dalam pembelajaran khusus di TPA tersebut yakni Thomas Aquinas Ekandita Rakyan Werda Dewa, yang merupakan siswa kelas XI SMK Kolese De Britto Jogjakarta menyebut bahwa momen pembelajaran khusus tersebut sebagai tantangan.
“Kalau saya sih ini tantangan, dari hari pertama tidur kita cari gubuk-gubuk di TPA. Ada sebagian di rumah Pak Seladi juga. Harus berkutat dengan bau menyengat sampah setiap waktu,” sebutnya.
Pelajar yang akrab disapa Thomas ini menyebut bahwa pembelajaran tersebut mengasah tapal batas mentalnya bersama dengan teman-temannya satu tim. Bagaimana tidak, mereka diharuskan terjun langsung untuk memilah sampah yang sangat kotor dan bau dengan penuh kesabaran.
“Ada sampah organik, ada popok bayi juga. Itu semua harus kita pilah. Belum lagi kalau tidur digubuk itu kami ketemu sama banyak kecoa dan tikus,” ungkapnya dengan semangat.
Namun demikian pelajar berambut gondrong ini tak merasa keberatan dengan apa yang dilaluinya. Bahkan ia bersama dengan teman-temannya melalui semua pembelajaran di TPA Lowokdoro dengan semangat dan menyenangkan.
“Karena kita niatnya di sini memang melatih mental, ya kita buat senang saja. Semalam karena saking banyaknya kecoa dan tikus, sampai kita kasih nama satu-satu,” kelakarnya.(asa/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Inasa All Islamiya



Loading...