Saksi Ahli Heran, Siswa SMA Bela Diri Bunuh Begal didakwa Pembunuhan Berencana | Malang POST

Minggu, 23 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Saksi Ahli Heran, Siswa SMA Bela Diri Bunuh Begal didakwa Pembunuhan Berencana

Selasa, 21 Jan 2020,

MALANG – Kasus ZA, pelajar SMA yang membunuh pelaku begal karena membela pacar, kini jadi sorotan publik. Dalam sidang lanjutan untuk ZA, pada Senin (20/1), saksi ahli heran, ZA didakwa pasal pembunuhan berencana. Sidang tersebut berlangsung tertutup sekitar 3 jam lebih, menghadirkan delapan orang saksi. Yakni tiga saksi dihadirkan oleh pengacara ZA dan lima saksi dari JPU.
Tiga saksi dari ZA, yang dihadirkan adalah guru SMA ZA, tetangga ZA, serta saksi ahli Universitas Brawijaya, Lucky Endrawati. Sedangkan lima orang saksi dari JPU, yakni dua tetangga berinisial SU dan AR,serta  AV selaku perempuan yang dibonceng oleh ZA.  Kemudian Ali teman dari Misnan yang merupakan pelaku pembegalan, dan juga seorang saksi ahli.

   Baca juga : Kasus ZA Siswa SMA Bela Diri Bunuh Begal, Jaksa Agung Dicecar Komisi III


Saksi ahli Hukum Pidana UB, Lucky Endrawati, mempertanyakan tentang pasal yang dikenakan kepada ZA. Menurutnya pasal yang disangkakan tidak pas dengan kronologisnya. Di mana pasal 340 KUHP, menjadi satu jenis dengan pasal 338 KUHP dan pasal 351 KUHP.  
“Karena pasal 340 KUHP merupakan pembunuhan berencana. Sedangkan pasal 351 KUHP merupakan penganiayaan, sehingga tidak pas sama sekali dengan kejadian yang menimpa ZA,” ucap Lucky Endrawati.
Selain itu, ia juga mempertanyakan kenapa dalam dakwaan tidak memasukkan Undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak. Sehingga seharusnya sidang berlangsung terbuka. Kecuali dalam dakwaan dicantumkan, maka sidang baru berlangsung tertutup.
Dikatakannya, dalam kasus ini, ZA yang masih pelajar SMA mengalami guncangan, ketika  melakukan penusukan pada pelaku begal. Karena temannya akan disetubuhi oleh pelaku begal. Sehingga sebagai laki-laki ZA melakukan perlawanan.
“Laki-laki mana yang tidak melakukan tindakan, ketika temannya terancam akan diperkosa,” bebernya.
Persidangan kasus ZA ini, tidak seperti pidana umum lainnya. Karena ZA termasuk anak-anak dan berstatus pelajar, maka proses sidang dipercepat. Setelah Senin (20/1) pemeriksaan saksi, Selasa (21/1) hari ini dilanjutkan pembacaan tuntutan. Kemudian Rabu (22/1) pledoi dari pengacara ZA atas tuntutan. Dan Kamis (23/1) kasusnya harus sudah vonis.

   Baca juga : Hotman Paris Bersuara, Minta Tolong Presiden RI


Sementara itu, kasus ini viral setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen, mendakwa warga Kecamatan Gondanglegi itu dengan hukuman seumur hidup. Itu diucapkan pada sidang perdana pembacaan dakwaan Selasa (14/1) di Pengadilan Negeri Kepanjen.
Kejaksaan Negeri sendiri tampil ke media memberikan pernyataan, Senin (20/1) .
Kejari Kepanjen, melalui Kasi Pidana Umum (Pidum), Sobrani Binzar, juga ikut memberikan klarifikasi. Sobrani, menegaskan bahwa tidak ada dakwaan seumur hidup untuk ZA.
“Putusan seumur hidup tidak ada, saya di sini meluruskan. Supaya tidak ada kesan opini di masyarakat, bahwa hal ini merupakan putusan. Kabar yang beredar di media sosial itu, merupakan dakwaan, bukan putusan,” ungkap Sobrani Binzar, kepada media Senin (20/1) siang di kantor Kejari Kepanjen.
Dakwaan sudah dibacakan pada siang perdana Selasa (14/1). Kemudian pada 17 Januari, dilanjutkan dengan putusan sela. Senin (20/1) sidang lanjutan dengan menghadirkan saksi. Baik dari saksi yang dihadirkan JPU ataupun kuasa hukum dari ZA.
Menurutnya, pada kasus ZA ini, karena terdakwa masih berstatus anak dan sekolah, penerapan hukuman adalah peradilan anak. Hukuman untuk ZA nantinya pun, setengah dari hukuman orang dewasa. Karena sistem peradilan anak sudah diatur sesuai dengan Undang-undang nomor 11 tahun 2012.
“Sistem peradilan anak ini, tidak sama dengan terdakwa orang dewasa. Sesuai undang-undang, untuk ZA, tidak boleh disebut terdakwa tetapi anak. Proses peradilan juga harus tertutup. Termasuk identitas keseluruhan anak juga harus dirahasiakan,” jelasnya.
Tentang pasal berlapis dalam surat dakwaan, dikatakannya bahwa itu mengacu pada berita acara. Di mana dalam dakwaan yang dibacakan pada sidang perdana, ZA dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider pasal 338 KUHP soal pembunuhan, pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal dunia. Dan Undang-undang Darurat nomor 12 tahun 1951 terkait membawa senjata tajam.
“Yang dimaksud pasal berlapor, bukan secara kumulatif dibuktikan. Tapi yang dibuktikan salah satu dari semua dakwaan karena subsidernya adalah alternatif. Misalnya, jika pasal 340 KUHP tidak terbukti, maka dibuktikan pasal 338 KUHP, begitu seterusnya. Sehingga didakwaan seumur hidup tidak mungkin, karena juga menerapkan peradilan anak. Sehingga tak serta merta menuntut sesuai maksimal," terangnya.
Lebih lanjut, dalam persidangan nantinya juga ada pembuktian. Ada fakta-fakta yang meringankan untuk ZA. Sehingga Sobrani meminta untuk menghargai dan menghormati jalannya proses persidangan. Jangan beropini sebelum adanya proses persidangan.
Ia juga mengatakan, bahwa dalam persidangan anak adanya ancaman hukuman penjara lain, yang telah diatur dalam Undang-undang nomor 11 tahun 2012. Misalnya pidana peringatan, pidana dengan syarat, pidana pelatihan kerja, pidana pembinaan lembaga. Sehingga tidak serta-merta seperti orang dewasa harus dipenjara.
“Karena itu, seperti apa hukumannya nanti dilihat dari pembaca tuntutan. Karena tuntutan nantinya berdasarkan dari hasil dari keterangan ahli, pemeriksaan anak, fakta atau petunjuk di persidangan dirangkum menjadi satu,” terangnya sembari kembali memastikan bahwa tidak ada dakwaan hukuman seumur hidup untuk ZA. (agp/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Agung Priyo

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...