Saham Kereta Gantung Milik Warga Batu | Malang Post

Kamis, 12 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Selasa, 10 Sep 2019, dibaca : 2319 , bagus, kris

BATU – Pembangunan kereta gantung atau cable car di Kota Batu bukan lagi sekadar wacana, namun segera terealisasi. Asyiknya, warga Kota Batu bisa memiliki saham pembangunan proyek prestius yang menelan investasi sekitar Rp 300 miliar ini. Saat ini, cable car memasuki tahap perencanaan dan pembangunan fisik mulai 2020 nanti.
Pemkot Batu bersama Among Tani Foundation malahan sudah melakukan sosialisasi kepada warga Kota Batu tentang pembangunan cable car di Graha Pancasila, Senin (9/9). Sosialisasi bertajuk Gathering Cable Car dibuka langsung Wali Kota Batu, Dra. Dewanti Rumpoko MSi. Hadir dalam gathering itu, Mr. Hans Jones, perwakilan produsen cable car asal Austria, Doppelmayr,  Tonny Partono, Konsultan Cable Car dari Jakarta dan warga Kota Batu.
"The Dream Comes True" ucap Dewanti ketika membuka Gathering Cable Car di Graha Pancasila.  
Gathering tersebut ikut mendiskusikan warga Kota Batu turut memiliki saham proyek transportasi ini. Mereka bisa menanam saham investasi proyek strategis. Konsepnya, kereta gantung meniru Taman Rekreasi Selecta dengan saham lebih 1000 yang dimiliki warga Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji dan sekitarnya. Mereka ikut menikmati hasil usaha taman rekreasi Selecta berkat saham tersebut.
Dewanti mengaku, pembangunan kereta gantung adalah proyek yang sangat cerah dan segera direalisasikan. "Dalam waktu dekat, kereta gantung sudah dibangun. Survei dilakukan selama setahun dari perusahaan kereta gantung ternama dari Austria, Doppelmayr," tambah Dewanti.
Ia menguraikan, pembangunan kereta gantung salah satu jawaban kemacetan yang terjadi di Kota Batu karena dan tingginya jumlah wisatawan. Dalam tahun 2018, wisatawan domestik dan mancanegara mencapai 6,7 juta orang.  
Pemkot Batu sengaja menggandeng produsen Austria untuk mewujudkan kereta gantung. Produsen asal Austria ini sudah pengalaman membangun kereta gantung di berbagai negara dunia. Podusen ini mengalahkan pabrikan kereta gantung dari Taiwan dan China.
"Kami sebenarnya juga mendapatkan tawaran produsen lain dengan harga lebih murah. Tapi kami tidak mau berjudi dengan memilih produsen lain. Pemilihan Doppelmayr karena keamanan karena  perusahaan ini telah membangun kereta gantung pada banyak negara," bebernya.
Dewanti menyampaikan, warga ber-KTP Kota Batu bisa memiliki saham. Dengan begitu kereta gantung ini tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga menumbuhkan ekonomi warga Batu.
"ASN hingga Kades juga bisa memiliki saham. Kami sedang menyiapkan dasar dan regulasi kepemilikan saham tahun ini," imbuhnya.
Untuk pembangunan, Dewanti menargetkan mulai tahun depan dengan investasi sekitar Rp 300 miliar. Sedangkan perencanaan mulai tahun ini dan pembangunan fisik diperkirakan 1,5 tahun. Tahun 2021, kereta gantung bisa selesai dan siap operasi.
Lebih lanjut dia menjelaskan, persentase saham untuk masyarakat dan pengusaha masih menunggu OJK. Setelah ada dasar dari OJK, pihaknya bisa melakukan pertemuan lagi dengan peserta maksimal 50 orang untuk peminat saham.
Sementara itu Tonny Partono, Konsultan Cable Car dari Jakarta menyatakan, kereta gantung di Kota Batu akan menambah masyarakat melalui infrastuktur. Proyek ini meningkatkan pendapatan, perekonomian, kewirausahaan dan menciptakan lapangan pekerjaan kerja baru, khususnya warga Kota Batu .
Dia juga menjelaskan, konsep pendanaan melibatkan masyarakat, artinya saham dimiliki warga Kota Batu dan investor. Pembangunan transportasi ini mulai 2020 menjadi kolaborasi warga Kota Batu, Pemkot Batu, swasta dan Among Tani Foundation.
"Kereta  gantung membutuhkan jarak sepanjang 14 kilometer secara bertahap. Pembangunan tahap pertama sepanjang lima kilometer terlebih dulu," imbuhnya.
Rute 14 kilometer ini ada beberapa titik stasiun dan sub stasiun. Pembangunan mulai Desa Tlekung sebagai stasiun A, Kecamatan Junrejo - Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji - Desa Oro-Oro Ombo stasiun B penghubung, Kecamatan Batu - Kelurahan Ngaglik sebagai stasiun C atau Panderman, Kecamatan Batu - Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Kapasitas satu kereta gantung menampung 8-10 orang dengan ketinggian 855-110 Mdpl.
Sementara itu CEO Among Tani Foundation, Ganisa Pratiwi Rumpoko menyatakan, gathering itu merupakan sosialisasi awal. Pembangunan tahap pertama lima kilometer memiliki tiga stasiun dan dua sub stasiun.
"Rutenya belum fix dan masih butuh kajian lebih lanjut. Masih ada beberapa kendala mulai factor keselamatan hingga lingkungan," papar Ganis.
Ia mencontohkan, kendala itu seperti tiang listrik atau sutet, paralayang hingga jalur penerbangan TNI. Dia juga berharap, kereta gantung ini memberikan nilai lebih kepada warga Kota Batu.
"Dalam gathering ini, kami berharap dukungan, partisipasi dan pengawasan masyarakat untuk pembangunan," tegasnya.
Salah satu warga Kota Batu, Arif Nugroho dari Himpunan Pengusaha Muda Kota Batu ikut penasaran dengan pembangunan kereta gantung itu. Dia mempertanyakan berapa besar saham yang bisa dimiliki warga Batu. Saham ini bisa menjadi penentu kebijakan dari orang Batu sendiri.
‘’Kami berharap, persentase saham di atas 50 persen dimiliki warga Kota Batu. Warga Kota Batu tak hanya menjadi tamu di rumahnya sendiri, tetapi ikut menjadi penentu kebijakan,’’ terangnya.
Hadir dalam gatering, perwakilan warga Kota Batu, pengusaha, ASN dan para Kepala Desa. Turut hadir perwakilan Doppelmayr Austria, Mr. Hans Jones, Advisor Among Tani Foundation Prof. Dr. Eddy Pratomo, anggota DPRD dan Forkopimda.(eri/ary)



Loading...