RSUB Diusulkan Jadi Lab Uji Swab

Sabtu, 30 Mei 2020

  Mengikuti :


RSUB Diusulkan Jadi Lab Uji Swab

Sabtu, 04 Apr 2020, Dibaca : 1215 Kali

MALANG - RS Universitas Brawijaya (RSUB) diusulkan menjadi rumah sakit Uji Laboraorium Hasil Swab Covid -19.  Tujuannya agar pasien yang diduga terpapar virus Corona tak menunggu lama hasil pemeriksaan seperti yang dialami selama ini.
“Betul tapi provinsi yang duluan mengusulkan. Awalnya, ada tiga kan. Balitbangkes (Kemenkes,red), lalu Universitas Airlangga dan terakhir UB (Universitas Brawijaya) diusulkan,” jelas Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji.


Untuk itu Pemkot Malang kembali mendorong Pemprov Jawa Timur memperjuangkan  usulan ini agar terealisasi. “Sudah kembali kita komunikasikan, dan terus komunikasi. Kita sekarang masih menunggu,” jelas Sutiaji.
Mantan Wawali Kota Malang ini mengatakan, kondisi kasus Covid-19 di Kota Malang harus terus disikapi serius. Ia mulai mengkhawatirkan ketersediaan SDM dan fasilitas yang ada dikarenakan puncak pandemik Covid-19 masih ada didepan mata.
Segala sesuatunya terutama fasiliats harus disiapkan sejak dini. RSUB dipandang memiliki SDM yang mampu bekerja menguji hasil laboratorium untuk swab. Hal ini akan mempermudah jalur pengujian swab yang cenderung lama.
“Untuk inkubasi saja harus dua minggu. Untuk uji lab lagi dua minggu. Swab dikirim ke pusat datangnya juga lama hasilnya. Makanya kita sangat mendukung jika RSUB bisa dijadikan fasilitas untuk uji lab itu. Ini akan mempermudah,” tegasnya.


Menurut Sutiaji langkah ini harus diambil karena melihat pengalaman penanganan kasus Covid-19 di Kota Malang sendiri. Menunggu hasil uji lab, meskipun pasien sudah dinyatakan negatif saja, masih membutuhkan waktu 14 hari kemudian agar pasien bisa dinyatakan bebas dan sembuh lalu dipulangkan. Jika ditambah ditambah dengan menunggu hasil uji lab dari Unair maupun Balitbangkes akan lebih lama lagi.
“Semoga cepat disetuji usulan itu dari pusat. Setelah itu segera kita siapkan fasilitas dan dikuatkan di RSUB,” tegasnya .


Sutiaji menambahkan, kini tengah menyiapkan dan mencari sebuah rumah untuk dijadikan rumah isolasi. Rumah ini rencananya akan diperuntukan bagi pasien Covid-19 khususnya yang positif namun dalam tahap pemulihan.
Menurut orang pertama di Pemkot Malang ini, pasien berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) cenderung menunggu lama untuk mendapatkan hasil swab. Dimana di masa menunggu ini, mereka belum mengetahui status positif COVID-19 atau tidak.  
“Ada masa dua minggu ketika orang dinyatakan negatif pertama, untuk dinyatakan negatif  kedua kalinya dan boleh pulang. Nah mereka yang sudah dinyatakan negatif bisa nanti ditempatkan di  rumah isolasi sendiri,” jelasnya.


Hal ini selain dilakukan sebagai upaya pencegahan virus tidak menyebar juga dilakukan untuk mengatasi masalah ketersediaan ruang isolasi yang terbatas. Pasalnya waktu atau masa inkubasi virus Corona memiliki jangka waktu yang lama. Jika sudah dinyatakan negatif, dan menunggu masa dua  minggu lagi untuk di swab keduakalinya agar memastikan seseorang bisa sembuh bisa dilakukan di rumah isolasi saja.
“Saya minta dicarikan dua rumah untuk rumah isolasi bagi pemulihan pasien. Sebenarnya sudah ada kerjasama dengan salah satu kampus tetapi akan kita mantapkan lagi. Karena memang ada tiga protap yang harus dilalui jika rencana ini bisa dilancarkan,” jelas pria kelahiran Lamongan ini.


Tiga protap tersebut adalah protap persetujuan. Pertama persetujuan atau tanda tangan dari dokter yang merawat pasien tersebut, kedua tandatangan dari pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dan ketiga persetujuan dari keluarga pasien.
Rumah isolasi  juga akan dicari di tempat yang tidak berdekatan dengan kerumuman atau pemukiman warga. Maka dari itu Sutiaji membutuhkan pandangan lain dari akademisi dan ahli untuk memantapkan rencana tersebut.
“Karena diperkirakan puncak dari pandemik Covid-19 di Indonesia ini ada di sekitar bulan April. Maka dari itu SDM dan fasilitas kita harus siap betul. Karena perjuangan kita masih panjang,” pungkas Sutiaji.


Direktur RSUB dr. Sri Andarini menanggapi singkat rencana itu. Ia mengatakan pihaknya  belum bisa memberikan penjelasan lebih lanjut karena rencana tersebut masih dipersiapkan. "Masih disiapkan," ujarnya. (ica/imm/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Redaksi