Ribuan Warga Krisis Air | Malang Post

Sabtu, 14 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Senin, 14 Okt 2019, dibaca : 513 , vandri, sisca

 
MALANG -Warga di kawasan timur Kota Malang dilanda krisis air sepekan terakhir. Kondisi itu dialami ribuan pelanggan PDAM Kota Malang. Hingga Minggu (13/10), warga di beberapa wilayah harus bergelut mengatasi minimnya pasokan air dari dari perusahaan milik Pemkot Malang itu.
aktivitas warga kini terganggu. Seperti dialami Amir Subagio, warga  Jalan Danau Bratan Timur V, aliran air di rumahnya mengecil. Akibatnya aktivitas Amir dan keluarga kecilnya terganggu. Terutama untuk mandi, memasak maupun mencuci pakaian. “Selama ini, kami menampung air di ember. Lumayan, bisa untuk mandi dan cuci,” ujarnya.
Amir mengungkapkan sebelumnya aliran air PDAM mengalami gangguan dalam sepekan terakhir.   “Sekitar satu minggu belakangan, airnya mati kira-kira pukul 17.00 sampai 22.00 WIB. Kamis kemarin, airnya mati seharian,” kata pria berusia 50 tahun itu.
Namun perlahan, kondisi air di rumahnya berangsur membaik. Meski mengalir, namun debit air cenderung lebih kecil. Terkadang lanjut dia, aliran air baru mengalir normal pada dini hari. Akibat kondisi itu, istri Amir,  Rahayu Subagio sempat mencuci pakaian pukul 03.00 WIB.  
Sementara itu, warga Sawojajar lainnya di Jalan Danau Rawa Pening I juga mengalami masalah serupa. Salah satunya diungkapkan Dwi Swastika. Ia mengaku kesulitan ketika hendak mencuci pakaian.
Untuk mengatasi masalah itu, ia mengaku menampung air di ember dan galon seadanya untuk mandi dan mencuci. Bahkan, tak jarang, ia mengambil air di masjid dekat rumahnya yang menggunakan sumur bor.
Sementara untuk mencuci pakaian, Dwi mengaku terpaksa menunda walau harus menumpuk lebih banyak pakaian. “Mending ngalah dulu, airnya untuk mandi dan untuk air minum. Kalau nyuci tunggu air ngalir,” kata dia.
Amir dan Dwi hanyalah dua orang dari ribuan pelanggan PDAM yang berjibaku mengatasi krisis air di kota pendidikan ini. Pantauan Malang Post di beberapa kawasan di Sawojajar, aliran air PDAM terganggu sejak sepekan terakhir. Hingga kemarin sejumlah pelanggan perusahaan air milik Pemkot Malang itu harus menadah air yang mengalir kecil.  
Berdasarkan data Malang Post, dalam sepekan ini gangguan aliran air di pelanggan tersebar disekitar 20 kawasan. Terbanyak tersebar di kawasan timur Kota Malang yang merupakan wilayah Kecamatan Kedungkandang. Dari 20 kawasan tersebut, diperkirakan terdapat 20 ribu pelanggan.  

PDAM: Tinggal Normalisasi
Sampai kemarin PDAM Kota Malang masih mengimbau warga menampung air. Selain itu menggunakan layanan tangki air gratis jika memang memerlukannya. Ini akibat sejak satu minggu ini kurang lebih 20 ribu pelanggan PDAM Kota Malang mengalami gangguan pasokan air bersih. Kondisi itu disebabkan kebocoran Pipa Pulungdowo Simpar pada Minggu (6/10) lalu.
Dirut PDAM Kota Malang M Muhlas mengatakan hingga kemarin petugas masih terus melakukan normalisasi. Ia menjelaskan kebocoran pipa sudah diatasi. Kini proses normalisasi yang menyebabkan beberapa gangguan aliran air. Kondisi tersebut menurut dia harus dilewati sebelum aliran air berjalan seperti normal.
Muhlas mengatakan tidak butuh waktu lama untuk proses tersebut. “Beberapa hari lagi akan normal. Ini hanya tinggal normalisasi saja,” jelas Muhlas.
Sebelumnya ia menjelaskan kebocoran pipa diakibatkan force majeure. Yakni pipa Pulungdowo memang berada di ketinggian ekstrem, dekat sumber pasokan air Sumber Simpar, Sumberpitu. Akibat adanya kekuatan debit air yang besar, pipa pecah lantaran tak bisa menampung kekuatan aliran air yang masuk. Sebelumnya diduga pula kondisi tersebut karena kesalahan pemasangan pipa yang tidak sesuai kapasitas debit air.
Namun Muhlas menjelaskan, tak sepenuhnya salah pemasangan pipa. Kondisinya karena pipa tersebut mengaliri aliran air di wilayah yang rawan.Yakni berada di ketinggian yang lumayan ekstrem. Berada di ketinggian membuat pipa rentan jika debit air besar.
“Makanya saat itu debit besar dan membuat pipa bocor. Sekitar 2 atau 4 tahun lalu juga pernah bocor. Kita sudah sempat tambal diperkuat dengan rangka besi,” tegasnya.
Meski begitu perbaikan pipa telah dikebut selesai pada 7 Oktober, satu hari setelah diketahui bocor. Sejak saat itulah normalisasi dilakukan. Normalnya memang normalisasi dilakukan kurang lebih 6 hari.
Untuk benar-benar normal aliran air sampai ke pelanggan, ada beberapa upaya standar yang harus dilakukan. “Harus ada flushing dulu, lalu diamati apa ada watter hammer. Kita juga harus buang angin dalam pipa. Belum lagi jika ada kerikil atau kotoran yang masuk,” urai Muhlas.
Flushing adalah sebuah proses dimana pipa-pipa air dibersihkan menggunakan tekanan air. Kemudian dalam keadaan pipa pecah, akan ada air yang terkompresi (masuk dalam ruang mesin/ruang bakar,red) biasa disebut water hammer.
Keadaan-keadaan inilah yang masuk dalam proses normalisasi air. Membutuhkan waktu untuk benar-benar normal. “Kami mengusahakan agar proses ini sedikit mungkin mengganggu aliran air yang sudah bisa mengalir. Makanya kita lakukan di jam-jam tidak sibuk penggunaan air. Bisa jadi air mengalir kecil atau tidak mengalir,” jelasnya. (tea/ica/van)



Loading...