Remaja SMA dan Demonstrasi | Malang Post

Sabtu, 07 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 07 Okt 2019, dibaca : 801 , mp, opini

Keterlibatan remaja SMA/SMK/STM dalam demontrasi menolak pengesahan berbagai rancangan undang-undang akhir-akhir ini seolah membuka lebar mata tentang dunia remaja. Usia mereka yang remaja namun ingin diperlakukan sebagai orang dewasa atau setidaknya seperti kakak mereka (mahasiswa) yang sah-sah saja untuk melakukan demontrasi seolah menjadi moment yang tepat untuk membahas berbagai persoalan dan hal yang penting bagi pertumbuhan seorang anak atau remaja.
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengajak kita semua melihat bagaimana dunia remaja, tetapi dunia remaja yang terekam dalam fiksi atau novel yang ditulis dan dibaca oleh mereka, para remaja.
Seperti yang dikatakan pengamat sosial, Rhenald Kasali, remaja sekarang hidup dalam dunia yang penuh gangguan. Masalah remaja tidak melulu berkaitan dengan masalah klasik yang trendnya meningkat tajam seperti perceraian dan perselisihan orangtua, tetapi dunia yang mereka hadapi benar-benar dunia yang ruwet dan kacau balau.
Pajanan yang mereka terima meliputi berbagai jenis ragam gaya hidup, norma, nilai, dan informasi yang satu sama lain bisa jadi amat kontras, tetapi anehnya sekatnya amat tipis.

Relasi Remaja dan Orangtua, Remaja dan Sekolah
Novel remaja sejak tahun 2000-an mengalami ledakan luar biasa, baik dari segi jumlah judul, tiras, maupun jumlah penulisnya. Hampir semua penerbit besar mempunyai lini penerbitan novel remaja. Gramedia Pustaka Utama memiliki teenlit (teenlit/teens literature) dan Dar!Mizan memiliki pink berry dan KKPK (Kecil-kecil Punya Karya). Selain itu masih ada songlit (song literature) dari Gagas Media, ada pula NORI (Novel Remaja Islami)  atau novel-novel remaja yang tidak diberi label khusus juga banyak diterbitkan.
Novel-novel tersebut juga merekam kompleksitas kehidupan yang melatari hidup para remaja. Perselisihan orangtua menjadi setting sosial yang lazim dari berbagai kisah remaja dalam novel. Orangtua para tokoh dalam cerita adalah orangtu yang telah bercerai atau belum bercerai namun saling membenci. Bila tidak demikian, orangtuanya adalah professional yang sibuk luar biasa, ayah pengusaha dan ibu wanita karier yang sukses, yang masing-masing ternyata memiliki cinta yang lain.
Brokenhome adalah latar kehidupan para remaja. Brokenhome karena kekerasan dalam rumah tangga misalnya dalam Raksasa dari Jogja dari Bentang Pustaka. Dalam novel ini, setting keluarga yang digambarkan adalah orangtua yang selalu berselisih mulai dari hal-hal sepele hinngga akhirnya berujung pada kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian. Setting keluarga brokenhoome itu juga terjadi pada tokoh-tokoh lain, para pelaku bawahan dalam cerita.
Tokoh utama dalam novel remaja adalah anak yang lahir dalam perkawinan campuran dengan konflik yang kompleks. Mereka hidup di tengah masalah yang dialami orangtua mereka yang berbeda budaya dan menjadi korban perceraian sehingga mereka harus memancangkan dua kaki di antar dua: dunia ayah dan dunia ibu, dunia barat dan dunia timur, dunia penuh norma dan dunia bebas.  Kana di Negeri Kiwi, Dear Baba adalah contoh novel remaja dengan tokoh hasil blasteran dan kompleksitasnya.
 Di luar kehidupan keluarga, lingkungan mereka juga tidak kalah rumit. Sekolah yang konvensional, menjemukan, dan tidak lagi menjadi tempat kedua setelah rumah. Agenda para remaja di luar ‘pelajaran sekolah’ itu pun direalisasikan di kafe, resto, mal, atau bioskop. Tentu saja itu di lakukan malam hari. Dunia malam tidak hanya identik dengan remaja selebritis.
Di tengah dunia yang semakin mengglobal terjadi pula keseragaman gaya hidup. Maka masalah yang dihadapi remaja dari berbgaai pelosok juga hampir sama. Dunia malam tidak hanya milik kota-kota besar, tetapi juga sudah menjadi trend di kota-kota menengah dan mulai tumbuh di kota-kota kecil. Tempat-tempat kongkow internasional tidak hanya hadir di Denpasar, Surabaya, atau Jakarta, tetpai juga di kota-kota kecil.
Akktivitas malam tak lagi berkonotasi negatif. Keakraban remaja dengan  ‘dunia malam’ dapat dicek dalam hampir semua novel remaja, Novel-novel remaja popular seperti Fairish, Me vs High Heels, Rock n Roll Onthel dan Raksasa dari Jogja seolah ingin menegaskan bahwa remaja telah dapat dipercaya, termasuk tak perlu dicemaskan walau pulang larut malam.
Kehiduan malam menjadi kian akrab dengan remaja karena siang panjangnya telah habis di sekolah. Trend sekolah semakin lama semakin sore pulangnya. Belum lagi bila mereka juga disibukkan dengan les-les yang pasti berlangsung setelah pulang sekolah.
Maka semakin panjanglah waktu yang menyita naka-anak dalam rutinitas berbasis angka dan kognisi. Waktu untu menjalankan hobi, untuk mengekspresikan kegemaran, atau bermain ke rumah teman semakin sempit. Mereka tidak bertemu di rumah si A atau si B, tetapi di kafe.

Demonstrasi sebagai Ekspresi Kedewasaan Remaja
  Dalam novel-novel remaja mereka tetap ingin menunjukkan  jati dirinya. Para remaja mau tidak mau pada akhirnya harus menghadapi berbagai pergulatan kehidupan yang merintang di depan mereka dan mereka harus melangkah keluar sebagai pemenangnya, menjadi remaja harapan bangsa.
Remaja sebagai sosok dewasa ingin identitasnya diakui. Mereka tidak mau lagi dilabeli generasi antara anak-anak dan remaja. Dalam novel, remaja laki-laki dikonstruksi sebagai ppria dewasa secara psikologis maupun sosial. Mereka harus menjadi sosok yang mampu menyelesaikan masalah, bertanggungjawab terhadap keamanan adiknya, ibunya atau teman perempuannya. Mereka juga secara ekonomi menanggung biaya yang dikeluarkan saat mereka bersama.
Bila seorang remaja laki-laki dan perempuan makan bersama, maka remaja laki-laki lah yang harus membayar tagihannya. Ini artinya, mereka telah dikonstruksi sebagai oraang dengan tanggung jawab dewasa.
Tak mengherankan bila mereka kemudian juga merasa memiliki independensi dalam bersikap dan berpikir. Mereka ingin diakui tentang itu. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki sikap yang tegas terhadap sesuatu, termasuk persoalan negeri. Ketika negeri sedang ada masalah, mereka terpanggil untuk membela. Itu adalah bagian dari penegasan sikapnya.
Terlepas dari masih banyaknya cara untuk bertanggung jawab terhadap negeri, setidaknya itu adalah cara paling cepat karena panggilan di depan mereka. Kalau cara mereka ‘tak terstruktur’ atau bahkan ‘ngawur’ itu tak dapat dilepaskan dari lingkungan yang juga semrawut. Kalau ingin anak SMA sabar berdebat dengan manis, maka semua juga harus menjaga agar negara kita harmonis. Salam anak SMA. (*)

Azizatuz Zahro
Kepala Pusat Gender dan Kesehatan (PGK), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Malang
Azizatuz.zahro.fs@um.ac.id



Loading...