Refleksi: Jalan Terjal Para Demonstran - Malang Post

Jumat, 22 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 28 Sep 2019, dibaca : 795 , mp, tamu

Beberapa hari terakhir, mahasiswa dari pelbagai kampus di Indonesia menggelar aksi demonstrasi untuk menyuarakan aspirasinya atas undang-undang yang dibuat oleh DPR dan pemerintah. Banyaknya mahasiswa yang turun ke jalan menandakan bahwa mahasiswa masih memiliki kesadaran dalam mengawal demokrasi di Indonesia. Hal itu juga tetap menjadikan mahasiswa sebagai penancap tombak peradaban bangsa ini.
Keadaan ini mengingatkan kita atas peristiwa yang terjadi pada tahun 1998, dimana para mahasiswa melakukan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter. Kejadian tersebut berhasil meruntuhkan rezim orde baru dan melahirkan sebuah fase baru yang dikenal sebagai reformasi. Era ini menjadi angin segar dalam dunia demokrasi di Indonesia.
Keberhasilan itu menjadi catatan historik dan patriotik mahasiswa yang sampai sekarang tidak bisa dilupakan oleh semua elemen masyarakat. Dan hal itu yang kemudian menjadi dasar semangat mahasiswa sekarang dalam melakukan perjuangan untuk melawan kemungkaran di negeri ini. Seperti apa yang hari-hari kemarin mahasiswa lakukan di jalanan dan di depan gedung DPR. Beberapa tuntutan mereka bawa untuk disampaikan di dalam aksi, namun beberapa proses demonstrasi ini ada banyak kejadian yang membuat jiwa kemanusiaan terluka.
Aksi tersebut tidak berjalan dengan damai di saat massa mendesak ingin memasuki gedung DPR dan aparat semakin memperketat pengamanan. Keadaan inilah yang membuat aksi massa mengalami kericuhan dengan pihak kepolisian. Hingga banyak mahasiswa yang mengalami luka serius bahkan ada yang meninggal dunia. Begitu juga dengan pihak kepolisian. Apa yang menyebabkan itu semua terjadi?.
Memahami Psikologi Massa
Massa merupakan salah satu bentuk kolektivisme yang cenderung kehilangan kesadaran dan rasionalitas ketika sedang melakukan aksi sehingga melakukan tindakan anarki dan irasional yang berlawanan dengan kebiasaan sehari-hari. Menurut Gustave le Bon, bapak Psikologi Massa, menyatakan bahwa massa dapat bertindak secara primitif dan tidak rasional karena individu yang menjadi bagian dari massa dan dipengaruhi sikap serta tindakan karena adanya massa yang hadir.
Itulah yang membuat massa lebih mudah terprovokasi dalam suatu kerumunan massa. Sebab, di dalam keadaan tersebuat massa lebih mudah tersinggung dan mengimitasi, sehingga terjadilah suatu peristiwa yang tidak kita inginkan. Apalagi ditambah suasana panas, kehausan serta kelaparan, maka itu membuat mudahnya massa terprovokasi.
Terjadinya kericuhan antara aksi massa gerakan mahasiswa dan pihak kepolisian menjadi salah satu bukti bahwa massa sulit dikendalikan dengan baik. Padahal gerakan ini memiliki niat baik dan damai untuk menyampaikan segala keresahannya. Namun, bagaimanapun kemarahan situasi massa ini akibat beberapa undang-undang yang dibuat tidak manusiawi, sehingga mereka melampiaskannya. Serta pencegahan atau pengamanan pihak kepolisian tidak berdasar nilai-nilai kemanusiaan, membuat aksi massa mahasiswa ikut mengimitasi dan melawan dengan anarki.
Kehadiran Siswa dalam Aksi
Aksi yang terus terjadi selama beberapa hari tersebut ternyata bukan hanya mahasiswa saja yang turun ke jalan, melainkan siswa turut menggelar aksi demonstrasi. Hal ini menjadi fenomena menarik dengan keikutsertaan siswa dalam menyuarakan kegelisahannya. Bahkan mereka juga ikut terlibat melakukan bentrokan dengan aparat kepolisian. Entah mengapa mereka para siswa terlibat dalam aksi demonstrasi.
Bisa jadi mereka telah tumbuh kesadaran akan situasi sosial politik, hukum, dan kebangsaan. Bisa jadi mereka sangat mencintai negara Indonesia, sehingga bila terjadi suatu masalah, mereka memiliki tanggung jawab penuh untuk turut menegurnya kepada pihak yang bertugas. Atau bisa jadi mereka hanya ikut-ikutan saja dalam rangka mendapatkan eksistensi.
Namun, hal itu adalah realitas yang harus kita terima saat ini. Semakin canggihnya teknologi dan alat komunikasi, membuat mereka terpengaruh dengan topik-topik trending yang sedang berlangsung di Indonesia. Melalui media sosial, mereka cukup banyak mengetahui perkembangan-perkembangan politik-hukum dan permasalahannya. Karena, saat ini segala informasi dapat dinikmati oleh siapa saja dan kapan saja.
Refleksi untuk para demonstran
Perjuangan demonstran yang sungguh mulia dan beriktikad baik dalam memperbaiki bangsa yang sedang tidak baik-baik saja, malah menjadi korban atas kekerasan aparat kepolisian. Begitu juga pihak kepolisian yang berniat baik menjaga ketertiban aksi malah diberi pembalasan oleh para demonstran. Lalu apa yang harus kita lakukan bila sudah ada korban dalam peristiwa tersebut.
Meminjam perkataan Freire "bila sebuah ucapan kehilangan makna tindakannya, maka hal itu hanya verbalisme (omong kosong). Sebaliknya dakwah yang terus menekankan aksi berlebihan tanpa refleksi hanya berbuah aktivisme". Terkadang kita lupa bahwa apa yang telah kita lakukan terlanjur berlebihan sehingga kita sulit menerima konsekuensi yang telah terjadi. Pernyataan Freire cukup membuat kita sadar bahwa sebaiknya kita perlu merefleksikan terlebih dahulu agar tidak menjadi berlebihan dalam melakukan sesuatu.
Jangan hanya bila berbeda status sosial kita keras dalam melawan sehingga lupa bahwa kita sama-sama menjadi manusia. Tidak sepatutnya bila kita terus melakukan pembiaran atas kemarahan yang memunculkan baku hantam sesama manusia. Meski penulis juga cukup merasakan betapa sulitnya perjuangan yang dilakukan mahasiswa melawan kuasa oligarki dalam aksi, kemudian diremehkan oleh aparat kepolisian.
Aksi turun jalan menjadi salah satu solusi alternatif dalam melawan kemungkaran, namun bukan satu-satunya solusi. Berbicara dengan baik-baik dengan pihak yang bersangkutan sesuai dengan prosedur yang telah ada atau membuat forum besar yang melibatkan segala elemen masyarakat untuk mencari jalan keluar, mungkin lebih baik daripada turun jalan yang berlebihan sehingga memakan korban.
Kemudian yang perlu diperhatikan, bahwa aksi yang dilakukan oleh siswa dan mahasiswa serta pihak lainnya harus menjadi refleksi kepada para elit politik atas proses yang tidak melibatkan mereka dalam mengambil suatu keputusan. Serta berilah mahasiswa leluasa dalam menyampaikan aspirasinya, jangan dipersulit dengan pengamanan ketat oleh pihak kepolisian, kemudian memukulnya dengan alasan menjaga ketertiban umum.

Oleh: Muhammad Rifqi Nurdiansyah
Mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Malang



Selasa, 19 Nov 2019

Birokrasi Masih *SANGKAR EMAS*

Loading...