Refleksi Akhir Periode Jokowi-JK | Malang Post

Minggu, 17 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 19 Okt 2019, dibaca : 693 , mp, opini

Rangkaian pemilu sudah berakhir, Jokowi-Amin telah ditetapkan oleh KPU sebagai pemenang pilpres dan PDI-P partai pemenang pemilu. Dinamika alot yang kita rasakan menjelang pemilu hingga setelah penetapan calon pemenang mulai menghilang. Para elit politik mulai melakukan diplomasi politik untuk mencapai tujuan kelompoknya masing-masing.
    Kita seolah-olah lupa akan rangkaian kejadian yang terjadi saat pemilu beberapa bulan  lalu. Tanggal 22-23 Mei lalu merupakan sejarah buruk politik Indonesia semenjak dilakukan pemilihan umum 21 tahun silam. Dimana aksi protes yang menewaskan 8 orang massa aksi sampai sekarang belum ditetapkan aktor intelektualnya. Apakah hal tersebut sengaja dihilangkan dari ingatan kita?
    Hal tersebut bisa kita lihat dari berbagai kasus yang menewaskan beberapa aktivis HAM yang sampai sekarang belum diketahui pelakunya. Hal tersebut menunjukkan bahwa rakyat hanya sebagai tumbal politik saja. Sampai sekarang rakyat belum bisa menentukan pilihan politik yang bisa membawa perubahan besar bagi mereka.
    Jokowi tidak begitu saja dipilih menjadi presiden. Ketika masyarakat dibuat bosan dengan gaya kepemimpinan para elit politik, Jokowi muncul dengan model politik blusukannya. Model blusukan ala Jokowi mampu membuat masyarakat terhipnotis, bukan hanya masyarakat para elit politik banyak mengadopsi gaya politik Jokowi.
Terbukti mantan Wali Kota Solo tersebut mampu memenangkan kontestasi pemilihan kepala daerah yang sangat begengsi di Indonesia. Pada saat itu Jokowi dan Ahok yang diusung oleh partai PDI-P dan Gerindra dengan mudah terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI-Jakarta. Belum sempat membawa perubahan ibu kota negara, Jokowi diusung oleh partainya menjadi calon presiden pada pilpres 2014.
Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla mampu mengalahkan Prabowo-Hatta. Lagi-lagi masyarakat Indonesia terhipnotis dengan gaya blusukan Jokowi. Ditambah lagi pengalaman mereka dalam politik nasional sudah tidak diragukan. Jokowi-JK dianggap sebagai pasangan yang mampu membawa perubahan besar bagi kemajuan Indonesia.
Terbukti pasangan Jokowi-JK terpilih sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan perolehan suara sebesar 53,15%. Banyak dinamika yang terjadi ketika masa kepemimpinan Jokowi-JK, mulai dari persoalan ekonomi, sosial dan politik. Kita tahu sendiri bahwa Jokowi dengan optimisnya menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional harus mencapai 7%. Namun kenyataannya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di bawah 7%.
Hal tersebut dibuktikan dengan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,05% triwulan II-2019. Dari sisi produksi pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi dicapai dari lapangan usaha jasa lainnya yaitu sebesar 10,73%. Sementara dari sesi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Kompenen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yaitu sebesar 15,27%.
Data diatas menunjukkan bahwa selama lima tahun kepemimpinan Jokowi-JK belum mampu memenuhi janji kampanyenya. Selama masa kepemimpinannya, hal yang paling menonjol ialah  pembangunan infrastuktur, baik itu jalan tol, bandara, pelabuhan dan lain sebagainya. Banyak janji kampanye Jokowi-JK yang belum mampu terealisasikan, diantara janji kampanye tersebut ialah penguatan lembaga KPK, pengusutan tuntas pelanggaran HAM, revolusi mental dan lain sebagainya.
Janji kampanye tersebut seakan-akan hilang di tengah jalan, Jokowi-JK seolah lupa dengan apa yang pernah mereka ucapkan. Belum lagi beberapa kontroversi antara keputusan presiden dan para menterinya yang berseberangan, serta kasus yang lain yang membuat masyarakat bingung akan arah kepemimpinan Jokowi-JK. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pola komunikasi yang kurang baik dalam tataran birokrasi.
Menjelang berakhirnya masa jabatan Jokowi-JK, banyak hal yang perlu kita refleksikan. Diantaranya mengenai dukungan presiden mengenai RUU KPK, hal tersebut berbanding sembilan puluh derajat dengan janji kampanyenya. Dimana pasal-pasal dalam draf RUU KPK hanya justru melemahkan KPK itu sendiri. Banyak pengamat politik yang menyayangkan sikap Jokowi.
Keputusan tersebut tentu menjadi bahan renungan buat kita semua. Beberapa hari lagi presiden dan wakil presiden terpilih akan segera dilantik, dimana pada periode kedua ini seharusnya menjadi beban berat bagi Jokowi. Selain harus menyelesaikan janji kampanyenya lima tahun silam, Jokowi harus mampu merealisasikan janji kampanyenya sekarang.
Banyak hal yang harus dievaluasi selama masa kepemimpinan Jokowi-JK. Mulai dari janji kampanye yang belum mampu direlisasikan,belum lagi diakhir masa jabatannya banyak RUU, RKUHP yang menjadi polemik ditengah masyarakat. Tentu bukan persoalan gampang dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Konflik kepentingan antara elit yang semakin menguat harus segera diselesaikan.
Aksi mahasiswa yang menolak RUU KPK, RKUHP dan RUU lainnya menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah. Jangan sampai aksi mahasiswa beberapa minggu kemarin hanya sekedar persoalan biasa. Pemerintah harus mampu menyikapi dengan baik, adanya aksi demonstrasi tersebut menunjukan ada masalah besar yang dihadapi oleh bangsa kita. Aksi tersebut menambah catatan rangkaian peristiwa kelam di negeri ini.
Jangan sampai masyarakat terus menjadi tumbal, sudah banyak masyarakat, mahasiswa serta pelajar yang mati sia-sia karena membela dan menuntut hak-haknya. Sudah saatnya para elit politik kita bersatu untuk kepentingan rakyat. Pekerjaan rumah telah menanti Jokowi di periode keduanya nanti.
Lima tahun sudah Jokowi-JK memimpin bangsa ini, tentu ada nilai merah dan biru. Apapun ketercapaian harus kita apresiasi  sekecil apapun kesalahannya harus kita kritisi. Marilah kita akhiri seluruh polemik yang terjadi dalam pemilu kemarin. Saatnya masyarakat bersatu untuk mengawasi kepemimpinan Jokowi-Amin.
Besar harapan kita melihat Indonesia lebih maju. Soekarno pernah berkata bahwa “Perjuangan kita akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Artinya bahwa kita akan lebih sulit melawan para elit politik yang hanya mementingan perut dan kelompoknya sendiri. Pelantikan Jokowi-Amin tinggal menghitung hari, dalam lubuk hati  yang dalam tersimpan harapan besar untuk pemimpin selanjutnya mampu membawa perubahan bangsa ini kearah yang lebih baik. (*)

Muhammad Ardi Firidansyah
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang



Sabtu, 16 Nov 2019

Jangan Biarkan Menyakitinya

Kamis, 14 Nov 2019

JOKER Korban Asuransi Kesehatan

Rabu, 13 Nov 2019

Branding Kreatif

Loading...