Rawat Kebhinnekaan, Pusat MPK UB Selenggarakan Moral Camp | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 03 Nov 2019, dibaca : 447 , rosida, adv

MALANG - Melihat kemajemukan masyarakat Indonesia, pemahaman tentang toleransi dan merawat keberagaman perlu dilakukan secara terus-menerus. Mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa, dituntut mampu mengelola perbedaan dengan bijaksana, sehingga dapat terwujud nilai-nilai persatuan sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Untuk itu, Pusat Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya (Pusat MPK-UB) menyelenggarakan kegiatan Moral Camp.
Pada, (18/10/19), Moral Camp kembali diadakan untuk yang ketiga kalinya. Dosen Pendamping Moral Camp Dr. Mohammad Anas, M.Phil menyampaikan, kegiatan ini memiliki dasar kuat untuk memfokuskan diri pada upaya merawat kebhinnekaan melalui pendidikan berbasis kontekstual. Dalam kegiatan ini, para mahasiswa tinggal di rumah warga selama tiga hari, tepatnya di Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir. Di sana mereka langsung berinteraksi dengan warga sekitar sekaligus dengan tokoh-tokoh agama.
Dusun Jamuran dipilih untuk kegiatan ini karena kehidupan masyarakatnya terdiri dari berbagai agama dengan tingkat toleransi yang tinggi.
“Bahkan ada tiga tempat ibadah di sana, yaitu Masjid, Pondok Doa milik Gereja GKJW, dan Pura. Para mahasiswa kami dampingi untuk berdialog dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama tentang bagaimana mereka ngemong masyarakat sehingga hampir tidak pernah terjadi gejolak yang berarti,” ungkap Anas.
Dijelaskan Anas, istilah Moral Camp sesungguhnya akronim dari Merawat Religiusitas, Rasionalitas dan Literasi.
“Religiusitas yang dimaksud adalah nilai agama dengan mengambil sisi toleransinya. Rasionalitas bertujuan untuk memaksimalkan keterbukaan dan menerima perbedaan. Sedangkan Literasi merupakan salah satu output kegiatan ini, dimana para mahasiswa diminta menulis artikel yang berisi gagasan atau refleksi dari pengalaman selama mengikuti Moral Camp,” papar dosen Pancasila dan Filsafat ini.
Selain berinteraksi dengan warga dan tokoh agama, para peserta kegiatan ini juga mendapatkan pembekalan materi mengenai toleransi, budaya, cara menangani konfik, bedah film mengenai toleransi, serta teknik menulis artikel dan video. “Yang menarik, kami menginapkan mahasiswa di rumah penduduk dengan keyakinan yang berbeda untuk membuka ruang sharing,” katanya.
Tarisya Maharani Ohorella, peserta Moral Camp 2019, mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena tema yang diangkat yaitu “Toleransi dalam Beragama”. “Saya pikir sangat baik bagi saya untuk belajar toleransi langsung di masyarakat, selain mempelajarinya di ruang kelas,”ujar mahasiswa Hubungan Internasional FISIP-UB angkatan 2019 ini.
Kesan mendalam juga dialami Zarfan’s Gumanti, mahasiswa Ilmu Politik FISIP-UB 2019. “Pengalaman saya selama di Dusun Jamuran memberikan pelajaran akan makna toleransi yang sesungguhnya. Sudah hal yang umum di desa ini dalam satu keluarga masing-masing menganut kepercayaan yang berbeda. Saya harap anak muda khususnya teman-teman mahasiswa UB, di kampus multikultur dengan berbagai latar belakang budaya, bisa menjadi agen toleransi dan perdamaian ketika terjun di masyarakat nanti,” pungkas Zarfan.
Penanaman kesadaran tentang toleransi dapat menumbuhkan sikap kecintaan dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Rektor UB Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., MS dalam pidatonya di hadapan 1.080 wisudawan, Sabtu (2/11/2019), pada acara Wisuda Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana Periode IV.
“UB sebagai bagian dari instrumen negara di bidang Pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar untuk ikut andil dalam memecahkan beberapa persoalan bangsa, untuk itu UB harus mampu menumbuhkan kesadaran bagi sivitas akademika tentang pentingnya pendidikan yang memperkuat kompetensi dan mampu menumbuhkan sikap kecintaan dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia,” jelas Rektor.(*/adv/oci)



Loading...