Rangkul Anak-Anak Putus Sekolah dan Broken Home | Malang Post

Jumat, 13 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Senin, 23 Sep 2019, dibaca : 714 , bagus, kris

Keterbatasan ekonomi bukan jadi alasan untuk berhenti melestarikan seni tradisi. Agus Susanto (42 tahun) warga Jalan Wilis, RT 4 RW 5 Dusun Krajan, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu sudah membuktikan itu. Ia mendirikan bengkel budaya dan merangkul anak-anak putus sekolah, broken home hingga anak jalanan.

Mereka diajak untuk berkesenian.  Nama Sanggar atau bengkel budaya yang ia dirikan adalah Bengkel Seni Panca Budhi Barata. Bengkel itu berada di samping rumahnya, berupa ruang terbuka berukuran 3x4 meter. Di situ semua aktivitas kesenian dijalankan. Baik dalam belajar pencak silat, tari seni kreasi, kuda lumping, bantengan, karawitan hingga membuat alat peraga seni yang dimainkan.
Tempatnya tidak rapi, cenderung semrawut. Aat-alat untuk membuat hasil keseian hingga produk kesenian seperti barongan dan kuda lumping bercampur jadi satu. Namun dari tempat itu, bakat, kreativitas dan anak-anak putus sekolah terasah. Mereka tak hanya mendapatkan ilmu tapi juga penghasilan melalui seni.
"Bengkel dan sanggar seni ini masih baru. Tepatnya tahun 2017 berdiri. Tapi kalau keseniannya berdiri sejak tahun 2008," ujar Agus membuka ceritanya kepada Malang Post didampingi anggota Bengkel Seni Panca Budhi Barata.
Bapak dua anak ini mengungkapkan bahwa dirinya mengawali komunitas seni ini sejak tahun 2008. Saat itu ada 60 anak dari Desa Torongrejo yang bergabung ketika ada kegiatan 17 Agustus.
"Pertama ada komunitas tahun 2008 saat mengisi perayaan kemerdekaan. Dengan anggota yang tergabung 60 orang dari anak-anak muda," kenang bapak dua anak ini.
Komunitas seni itu bisa eksis meskti dalam keterbatasan. Namun setelah berjalan dua tahun mulai ada permasalahan, pada 2010 jumlah anggota tinggal 20 anak. Seleksi alam sudah terjadi, yang tersisa tinggal beberapa anggota yang militan.
“Mereka bisa meraih prestasi dengan juara 1 festival pencak silat se Kota Batu. Dari situ kemudian mulai banyak anggota baru yang bergabung dan berkembang," beber laki-laki yang bekerja sebagai tukang las dalam kesehariannya.
Seiring berjalannya waktu. komunitas yang ia dirikan menjadi besar dan mendapat pengesahan pemerintah. Sehingga 2014 ia mewakili Kota Batu ke Jakarta dalam berkesenian.
Kemudian pada tahun 2016 ada ide dari para anggotanya yang berkeinginan untuk menambah kesenian. Pada akhiranya sanggar atau bengkel seni pada tahun 2018 diakui oleh Disparta Kota Batu.
"Motivasi membentuk sanggar ini karena saya ingin melestarikan budaya. Yang berbeda dari lainnya, anggota yang bergabung anak putus sekolah, broken home, hingga anak jalanan," ungkap suami dari Eti Puspita Wati (40 tahun) ini.
Dari sanggar atau bengkel seni itulah anak-anak tak hanya mampu berkesenian. Bahkan mereka mendapat penghasilan dari situ. Karena di bengkel seni. Mereka juga belajar membuat alat kesenian seperti barong, kendang, hingga kepala banteng.
"Semua alat kesenian di sini bikinan anak-anak sendiri. Meski harus diakui semua serba dalam keterbatasan. Utamanya modal," imbuhnya.
Dengan mengawali membuat beberapa karya kesenian daerah. Hasilnya mereka jual. Kemudian uang yang didapat dibelikan untuk membeli alat baru.
Agus menambahkan, dalam sebulan anggotanya mampu membuat lima karya rampak barong. Karya seni seperti rampak barong misalnya mereka jual dengan harga mulai Rp 1,5 juta – Rp 2,5 juta.
"Jika rutin per bulannya bisa buat lima karya seni barongan, per hari anak-anak bisa dapat Rp 100 ribu," paparnya.
Dalam sanggar sederhana tersebut, juga digelar latihan rutin tiap hari Rabu dan Jumat mulai jam 19.30 WIB. Baik kuda lumping, bantengan hingga pencak silat. Dalam latihan Agus juga tak pernah menarik biaya atau iuran sepeserpun dari anggota.
"Kami tak menarik biaya sama sekali. karena latar belakang mereka yang memang ekonomi di bawah," ujar laki-laki kelahiran Malang, 29 Januari 1976 ini.
Bahkan dengan banyaknya anggota yang putus sekolah, diungkap Agus banyak tanggapan miring seperti terkait kegiatan yang dilakukannya. Tapi hal itu mampu ditepis dirinya dan anggotanya.
"Tanggapan miring selalu ada. Tapi karena konsistensi untuk melestarikan seni dan rasa sayang sayang saya mereka dan rasa sayang ke budaya. Kami tetap eksis. Bahkan mereka mampu berkreasi dan menghasilkan uang dari berkesenian," ungkapnya dengan bangga.
Anom Sari (20 tahun) adalah salah satu anggota yang tak lulus SMP asal Dusun Tutup, Desa Torongrejo. Ia mengungkapkan bahwa banyak perubahan yang ia rasakan setelah bergabung dalam sanggar atau bengkel Seni Panca Budhi Barata.
"Sudah lama ikut dalam Panca Budhi Barata. Alasan ikut berkesenian karena ingin berkarya," paparnya.
Lebih dari itu, dengan bergabung dengan sanggar seni tersebut banyak perubahan perilaku yang berubah. Yang awalnya ia suka melawan orang tua. Kini ia lebih nurut dan berperilaku sopan santun.
"Dulu sering nglawan orang tua. Sekarang sudah punya tata krama. Sebelumnya saya juga ngamen dan sering minum-minum di pinggir jalan. Tapi setelah bergabung saya belajar banyak. Bahkan didukung orang tua," ungkapnya.
Tak hanya diajari berkesenian dan mencari uang. Anom yang baru bergabung enam bulan di bengkel seni Panca Budhi Barata juga diajari cara berorganisasi. (eri/ary)



Loading...