Pungli Rp 60 Juta, Dinego Jadi Rp 20 Juta | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 14 Nov 2019, dibaca : 1479 , halim, agung

MALANG - Unit Tipidkor Satreskrim Polres Malang melakukan operasi tangkap tangan (OTT) pungutan liar, Selasa (12/11). Polisi menangkap Kepala Desa Ngadireso Kecamatan Poncokusumo, yakni Mugiono, 50 tahun. Tersangka diamankan sesaat setelah menerima uang Rp 20 juta.
"Tersangka kami tangkap di sebuah warung di Jalan Panglima Sudirman Kecamatan Wajak. Uang Rp 20 juta yang kami jadikan sebagai barang bukti, kami temukan di dalam jok sepeda motor," ungkap Kasatreskrim Polres Malang AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo.

Baca juga :

Mugiono: Saya Ini Dijebak

Bangun Miniatur Solar Cell di Sekolah Libatkan Siswa untuk Praktik


Menurut Tiksnarto, penangkapan terhadap Kepala Desa Ngadireso ini, bermula dari pengaduan seorang warga berinisial NI. Wanita asal Desa Ngadireso ini mengaku dimintai uang Rp 60 juta oleh tersangka. Uang tersebut alasannya untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah antara NI dengan SK. Mugiono mengatakan kalau uang tersebut adalah permintaan SK. Namun setelah dinego akhirnya turun menjadi Rp 20 juta.
Selanjutnya untuk menyerahkan uangnya, NI mengajak tersangka janjian di sebuah warung di wilayah Kecamatan Wajak. Begitu bertemu, uang Rp 20 juta yang diminta tersebut langsung diserahkan kepada tersangka.
Sesaat setelah menerima uang itulah, petugas yang sudah mengintai langsung menangkapnya. Selanjutnya bersama barang bukti uang Rp 20 juta serta sepeda motor Honda Revo N-5497-JW langsung digelandang ke Mapolres Malang.
Akibat perbuatannya tersebut, tersangka Mugiono dijerat dengan pasal 12 huruf e dan atau pasal 11 Undang-undang RI nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana pemberantasan korupsi, yang telah diubah dan ditambah Undang-undang RI nomor 20 tahun 2001. 
"Ancaman hukumannya adalah kurungan penjara selama 20 tahun. Kasusnya juga masih kami kembangkan, apakah sebelumnya juga pernah melakukan pungutan liar," jelas Tiksnarto.
Mantan Kasatreskrim Polres Gresik ini menegaskan, bahwa sebelum melakukan penangkapan terhadap tersangka, polisi sudah mengonfirmasi terhadap kedua pihak yang bersengketa. Pihak SK mengatakan bahwa dirinya tidak pernah meminta uang, melalui Kades. Sedangkan NI, menyampaikan kalau permasalahan sengketa tanah tersebut sebelumnya sudah dilaporkan ke polisi.
"Sehingga permintaan uang tersebut, murni pungutan liar. Uang Rp 20 juta yang diminta itu untuk kepentingan pribadi. Tersangka mengatakan kalau uang itu untuk menyelesaikan masalah sengketa tanah, hanya dalihnya saja," pungkasnya.(agp/lim)



Loading...