MalangPost - PSBB Masih Setengah Hati

Kamis, 13 Agustus 2020

  Mengikuti :

PSBB Masih Setengah Hati

Rabu, 08 Jul 2020, Dibaca : 3297 Kali

MALANG - DATA epidemiologi baru menunjukkan, Kota Malang yang sebelumnya daerah dengan kriteria risiko sedang, menjadi risiko tinggi. Atau dari zona orange menjadi zona merah

Dalam situasi seperti ini, sudah tepatkah menghentikan PSBB, diganti ke transisi PSBB atau bahkan New Normal?

Sementara WHO menyebut, suatu daerah menerapkan New Normal, apabila memenuhi beberapa syarat. Diantaranya, terdapat bukti angka transmisi Covid-19 terkendali. Meliputi penerunan kasus baru > 50 persen selama tiga minggu, positive rate dari sampel yang diperiksa lebih kecil 5 persen selama dua minggu, serta penurunan jumlah kematian pada confirmed dan probable cases selama tiga minggu.

   Baca juga : Prihatin, Bertambahnya kasus positif Covid-19 di Kota Malang

Selain itu, masih ditambah adanya angka kenaikan kesembuhan kasus covid-19, penurunan jumlah kasus positif covid-19, ODP dan PDP yang dirawat di Rumah Sakit. Lalu angka reproductive (RO) kurang dari 1, jumlah angka pemeriksaan specimen meningkat dalam 2 minggu terakhir, adanya pengawasan yang ketat terhadap jalannya protokol kesehatan dan kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan.

Lantas bagaimana dengan Kota Malang? Kalau menurut saya, dalam minggu-minggu minggu terakhir ini, ada peningkatan yang bermakna kasus baru Covid-19. Kemudian ada juga peningkatan jumlah pasien positif covid-19, ODP dan PDP yang dirawat di rumah sakit.

  Baca juga : Taati Protokol Kesehatan

Belum lagi ditambah pelaksanaan PSBB yang setengah hati. Mungkin karena pertimbangan faktor ekonomi dan kurang ketatnya pengawasan protokol kesehatan, serta kurangnya disiplin masyarakat. Semua itu menjadi menyebabkan sulitnya pemutusan rantai penularan Covid-19

Pertanyaannya, sekarang apa yang harus dilakukan, untuk menurunkan kasus kasus baru dan kematian Covid-19? Pertama, adalah upaya menurunkan kasus baru. Yakni melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat dan benar. Melalui tindakan yang bersifat persuasif, himbauan dan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat.

 

Tujuannya untuk mengubah perilaku ke tatanan baru atau dengan cara pendekatan kekuasaan. Yaitu dengan pemberian hukuman dan sanksi kepada masyarakat, bila tidak merubah perilaku yang dapat memutuskan rantai penularan covid-19. Seperti tidak memakai masker, bergerombol, tidak jaga jarak, naik angkutan umum yang berjubel dan sebagainya.

Di sini peran pemerintah menjadi dominan, dengan cara membuat peraturan dan sekaligus menyediakan aparatur untuk pelaksanaan pengawasan terhadap peraturan yang telah dibuat.

 

Kemudian ada juga upaya untuk menurunkan angka kematian. Pemerintah menyediakan rumah sakit, tenaga medis dan paramedis yang kompeten, obat-obatan, penemuan kasus sedini mungkin melalui skrening dan penelusuran kontak untuk menemukan orang yang positif covid-19, tetapi tidak ada gejala (Orang Tanpa Gejala).

Hal itu harus dilakukan agar penanganan dapat cepat dilakukan, yang akan berdampak pada keberhasilan pengobatan dan menurunkan angka kematian. Dilemanya, masalah biaya karena pemeriksaan PCR mahal, sedang untuk rapid test perlu dipertanyakan hasilnya, meskipun relatif lebih murah tetapi sensitivitas dan spesifisitas dari tes ini rendah.

 

Pada akhirnya, marilah kita bersatu menghadapi pandemic Covid-19. Tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Saya yakin masyarakat bisa menjadi pahlawan dengan cara mematuhi aturan aturan protokol kesehatan: memakai masker, jaga jarak, tinggal di rumah dan cuci tangan. 

Biarlah tenaga medis dan paramedis, berjuang mati-matian di rumah sakit dengan hazmat-hazmat yang panas, masker yang ketat, kadang kadang sampai hypoxia, meninggalkan keluarga dan berhadapan secara langsung terhadap lawan yang tidak tampak dan tidak jarang mengorbankan nyawa.

Ayo kita dukung dan kita doakan tenaga medis dan paramedis, serta semua karyawan yang bekerja di rumah sakit. Jaga kesehatanmu, keluargamu dan lingkunganmu,  pada akhirnya jaga Indonesia tercinta. Bersama kita bisa. Bravo Indonesia. (***)

* Dr dr Siswanto MSc

Pakar Epidemiologi Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran UB

Editor : Redaksi
Penulis : Malang Post