Proteksi Lahan Pertanian, Kebut Ranperda Bangunan Gedung

Jumat, 18 Oktober 2019

Selasa, 03 Sep 2019, dibaca : 555 , vandri, kris

PROTEKSI lahan pertanian dan pemberdayaan petani juga prioritas anggota dewan lima tahun mendatang. Salah satu langkah nyatanya yakni segera membahas rancangan peraturan daerah (ranperda)  bangunan gedung.
============
Hal tersebut terungkap dalam diskusi Malang Post bersama anggota DPRD Kota Batu periode 2019-2024, Rabu (28/8). Diskusi di Hotel Purnama yang dipimpin Pemred Malang Post Dewi Yuhana itu dihadiri perwakilan anggota dewan dari lintas partai.
Para wakil rakyat senada memberi perhatian terhadap bidang pertanian.  Terutama di wilayah Bumiaji. Pembahasan ini diawali pemaparan Heli Suyanto. Sebagai anak petani, politisi Gerindra itu menginginkan fokus pembangunan pada bidang pertanian. Karenanya Heli mengingatkan lahan pertanian di Bumiaji harus dipertahankan.  
"Sebagai wakil dari dapil 4 Bumiaji yang memiliki daerah pertanian, saya ingin pertanian jadi perhatian bagi eksekutif dan legisltif. Salah satu perhatian nyata yakni  mempertahankan wilayah tersebut sebagai daerah pertanian. Karena sangat ironis jika lahan pertanian di Kota Batu hilang," beber Heli dalam diskusi.
Ia lalu membeber sejumlah faktor yang menyebabkan lahan pertanian semakin tergerus. Mulai dari banyaknya pembangunan, hingga tempat wisata buatan. Karena itu pihaknya dan eksekutif telah menyetujui Perda RTRW. Dalam aturan tersebut, Kecamatan Bumiaji menjadi jantung pertanian atau lahan hijau.
Begitu juga dengan H. Rudi. Politisi PAN ini mengungkapkan berubahnya lahan pertanian menjadi industri pariwisata merupakan salah satu persoalan. "Ketimpangan sosial adalah masalah Kota Batu. Terutama dengan adanya perubahan wilayah dari pertanian menjadi industri pariwista," beber Rudi.
Ia mengingatkan, jangan sampai kondisi tersebut menjadi biang konflik warga. Apalagi perubahan lahan hijau menjadi lahan kuning akan menyebabkan kerusakan lingkungan.
Hal itu juga ditegaskan Hari Danah Wahyono dari Partai Gerindra. Ia berharap Kota Batu segera memiliki peraturan daerah (perda) yang mengatur bangunan gedung. Saat ini rancangan perda (ranperda) tersebut akan dibahas.  Karena menurut dia, dengan memiliki perda tersebut maka tak akan terjadi pembangunan gedung seenaknya sendiri.
"Ini penting sekali sebagai daerah pertanian dan wisata. Karena yang dijual adalah view keasrian Kota Batu," tegasnya. Dia mengingatkan jangan sampai keasrian dan kesejukan Kota Batu hilang karena banyaknya bangunan gedung. "Mudah-mudahan ini bisa diselesaikan paling lambat di periode mendatang," imbuhnya.
Gagasan perda tersebut kata dia, bukan berarti tidak mendukung pembangunan atau investasi yang masuk ke Kota Batu. Namun ini merupakan salah satu cara meminimalisir kerusakan lingkungan.
Sementara itu, Sujono Djonet berharap harus ada keseimbangan di Kota Batu. Sebagai daerah agrowisata, Kota Batu harus memperhatikan pertanian dan pariwisata.
"Pertanian di Kota Batu jauh dari harapan. Banyak petani yang meneteskan air mata. Karena itu pariwisata sebagi bingkai juga belum maksimal. Ini harus jadi perhatian dewan dan kepala daerah,” urai politisi Nasdem ini.
Sedangkan anggota dewan asal Golkar, Didik Machmud mengatakan, perhatian terhadap pertanian belum maksimal. Terbukti, pertanian organik yang digembar-gemborkan belum dinikmati petani. Bahkan banyak petani cenderung menjual lahan pertanian karena harganya tinggi.
Lebih lanjut, Ketua DPD Golkar Kota Batu ini mengatakan, program-program pertanian yang diusulkan eksekutif masih sangat parsial alias setengah-setengah. Contohnya kebijakan pertanian organik yang sudah diulasnya.
"Ini diperlukan sinergitas dan koordinasi antar SKPD. Dengan begitu setiap program berjalan dengan baik atau maksimal," tuturnya.
Dari permasalah pertanian tersebut, solusi unik terlontar dari Agung Sugiono. Politisi  Partai Gerindra ini mengusulkan agar pemerintah memberikan subsidi kepada petani setelah panen. Sehingga jika petani gagal panen, maka subsidi itulah sebagai pengganti biaya produksi pertanian. "Dengan subsidi di belakang, maka petani tak akan menjual tanahnya karena merugi saat panen," pungkasnya. (eri/van/sambungnya)



Loading...

  Follow Us