Polres Makota Bongkar Sindikat Aborsi Mahasiswi - Malang Post

Sabtu, 23 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 15 Okt 2019, dibaca : 525 , halim, fino

MALANG – Tiga buah wadah dan tiga bungkus perban, dijejer di meja rilis halaman depan Polres Makota. Di dalam wadah serta bungkusan ini, terdapat organ tubuh berukuran kecil. Seperti tengkorak, tulang belakang, rusuk, serta sisa-sisa janin manusia yang sempat terkubur di kawasan perkebunan Kabupaten Pasuruan.
Benar, tulang belulang itu adalah bagian yang tersisa dari janin tanpa nama berusia tujuh bulan. “Janin tersebut, digali oleh Satreskrim Polres Makota setelah membongkar sindikat aborsi di Kota Malang,” kata Kapolres Makota AKBP Dony Alexander kepada wartawan, Senin siang. Polisi mengamankan lima tersangka yang terlibat sindikan aborsi ini.
Para tersangka adalah Adis, 20, alias ASF, warga Jalan Bima Sakti, Bedali Lawang, Tirta, 22, alias TDS warga Jalan Abdilah Desa Tirtomoyo Pakis, Belay, 20, alias BHN, warga Jalan Teluk Etna Arjosari Blimbing, Indah, 32, alias II, warga Jalan Ki Ageng Gribig Madyopuro Kedungkandang, dan Tri, 48, alias TS, warga Jalan Kapi Pramuja Desa Sekarpuro Kecamatan Pakis.
Pengungkapan kasus ini, berawal dari informasi masyarakat yang mencurigai adanya penjualan obat aborsi di sebuah apotek di Pasar Besar. Dari sini, polisi melakukan pengembangan dan mengamankan tersangka Tirta pada awal Oktober 2019. Dari penangkapan ini, polisi melakukan penangkapan lagi.
Yaitu, penangkapan terhadap Belay dan Adis, mahasiswi kampus swasta di Kota Malang, yang menjadi pemesan obat-obatan tersebut. Adis, adalah pelaku yang melakukan aborsi. Sementara Belay adalah yang merekomendasikan pembelian obat penggugur kandungan kepada Tirta.
Setelah menangkap dua mahasiswi ini, polisi juga mengamankan Indah sebagai apoteker yang memberikan obat itu kepada Tirta. Serta Tri sebagai pemasok obat-obatan aborsi ini kepada Indah. Polisi mengamankan berbagai barang bukti, mulai dari obat penggugur kandungan, gunting, celana dalam, termasuk tulang belulang bayi.
Dony menegaskan, masing-masing tersangka, diancam pasal 77A ayat 1 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, junto pasal 56 KUHP. “Ancaman hukuman, maksimal 10 tahun,” tandas Dony.(fin/lim)



Loading...