Polres Ajak Santri Jaga NKRI, Melalui Lomba Pidato Kebangsaan | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 20 Okt 2019, dibaca : 177 , udi, agung

MALANG - Menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2019, Polres Malang bersama PCNU Kabupaten Malang menggelar lomba Pidato Kebangsaan, Minggu (20/10) pagi. Kegiatan lomba itu untuk mengajak masyarakat, terutama santri menjaga keutuhan NKRI, serta menjaga Kebhinekaan dalam berbangsa dan bernegara.
Lomba Pidato Kebangsaan ditempatkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fuqoha, Desa Gampingan, Kecamatan Pagak. Lomba pidato yang memperebutkan Piala Kapolres Malang ini diikuti oleh 37 orang peserta.
Wakapolres Malang, Kompol Anggun Dedy S, saat membuka lomba mengatakan, Indonesia adalah negara besar yang sangat majemuk dengan keanekaragaman suku dan bahasa. Karenanya sangat penting bagi seluruh masyarakat Indonesia, menjaganya dalam bingkai kebhinekaan.
"Sekarang ini karena perbedaan pandangan politik sampai bermusuhan. Perbedaan yang terjadi itu, harus selesai dengan dilantiknya Presiden terpilih, dan masyarakat berkewajiban untuk mendukung penuh semua program pemerintah," ungkap Anggun Dedy.
Lebih lanjut dikatakan, dengan maraknya aksi teror akhir-akhir ini, Anggun, berpesan harus bersama-sama menangkal terorisme dan paham radikalisme. Salah satunya dengan kewaspadaan diri setiap orang, serta mewajibkan setiap tamu atau orang baru yang ada di daerahnya melapor kepihak desa setempat.
"Kejadian yang menimpa Pak Wiranto (mantan Menkopolhukam, red.) merupakan modus baru teroris dalam melakukan aksinya. Karenanya harus diwaspadai terutama setiap ada orang baru yang mencurigakan dan harus dilaporkan kepada aparat setempat," tegasnya.

Baca Juga : Cegah Provokasi, Patroli Skala Besar


Sementara Rais Syuriah PCNU Kabupaten Malang, KH Fahdol Hijah, mengatakan, lomba Pidato Kebangsaan ini sangat bagus, terutama bagi generasi muda penerus bangsa. Melalui lomba itu, akan terus mengingatkan perjuangan para pendahulu dalam merebut Kemerdekaan, termasuk perjuangan guru besar Nahdlatul Utama. "Sebagai warga NU, mari terus bersama-sama berjuang menjaga kebhinekaan dalam berbangsa dan bernegara," ujar Fadhol Hijah.
Ketua MUI Kabupaten Malang ini, juga menambahkan, dengan telah disahkan Undang-undang tentang Pesantren, maka akan sangat membantu Ponpes yang ada di Indonesia. Karena dengan UU tersebut, membantu pesantren dalam mengembangkan diri serta memberikan kepastian pendidikan kepesantrenan.
Sementara itu, Gus Hanim Hudori, Direktur Aswaja Center Malang, mengatakan, bahwa ngaji kebangsaan itu artinya mempelajari ilmu dari ulama. Bab kebangsaan disebut sebagai perpaduan dan keseimbangan antara pelajaran agama dan kebangsaan. "Ajaran Islam tidak mengajarkan kekerasan dan paham radikal dalam menjalankan agamanya. Ketika ada orang di luar sana selalu menganut paham kekerasan, maka itu bukan orang Islam sesungguhnya," ucapnya. (agp/udi)



Loading...