Malang Post - Pesan NEISBITH dalam MERDEKA BELAJAR

Senin, 30 Maret 2020

  Mengikuti :


Pesan NEISBITH dalam MERDEKA BELAJAR

Jumat, 14 Feb 2020

Futurolog kenamaan John Neisbith pernah mengingatkan, bahwa di era serba paradok, manusia memuja gaya bergaul, gaya bercinta, gaya berpolitik (gaya membangun pemerintahan), gaya berbudaya, dan berbagai perubahan lainnya yang bersifat mencengangkan, yang berbeda jauh dengan masyarakat sebelumnya.

Mereka itu memang menjadi obyek perubahan besar-besaran akibat desa dunia yang mempengaruhinya, namun begitu mereka tetaplah subyek atas perubahan dirinya sendiri, sehingga apa yang terjadi di tengah masyarakat paradok, tetaplah menjadi tanggungjawabnya.

Apa yang disampaikan Neisbith itu sebagai isyarat, bahwa gaya berpolitik atau membangun rezim sekarang secara umum bersifat paradok, dimana di satu sisi seperti terlihat serius dalam menegakkan etika padahal di sisi lain masih mengamini sejumlah praktik pembangkangan.

Yang ditunjukkan di depan publik lebih tampak menarik dalam aksi kejujuran dan kebenaran, atau logika yang dikonstruksinya dengan pengabsahan norma yuridis. Padahal senyatannya, yang dilakukan adalah berbagai bentuk penipuan atau permainan yang bersifat mengecoh.

Tampilan yang ditunjukkan  itu jelas bukanlah rezim (kekuasaan) yang benar-benar memberi yang terbaik untuk rakyat (power for people), melainkan kekuasaan dengan konsentrasi bebas (liberalistik) dalam mendapatkan yang terbaik (istimewa) untuk diri, keluarga, golongan, dan pihak-pihak lain yang terbilang “mitra eksklusif”.

Dalam ranah itu, “merdeka belajar” bukan merdeka mengkaji dan menyebarkan ide-ide cerdas bernilai adiluhung atau menjalani proses edukatif berbasis penegakan dan pengutamaan etik, melainkan bersaing dan berlomba menunjukkan gaya merdeka dalam mendapatkan sebanyak-banyakna apa yang bukan menjadi haknya.

Sebagai fenomena yang terbaca, kita sudah demikian sering “dihidangkan” tontonan seseorang atau sekelompok orang yang mengisi rezim bukan sebagai penjaga moral yang baik atau pengemban amanat yang teguh, melainkan sebagai “sekumpulan para tukang” yang di antaranya menjadi tukang menghabiskan atau mengeroposi anggaran belanja negara.

Semestinya, gerakan juang (jihad) dalam bentuk pengendalian diri yang harus dilakukan oleh pilar-pilar pemerintahan pusat hingga daerah seperti menjadi elitis eksekutif dan legislatif yang taat pada sumpah jabatan yang sudah diucapkannya.

Idealisasinya, mesin-mesin jihad itu menggunakan nalar cerdas, etos kerja serta etik jabatannya untuk mengelola anggaran dengan benar, tepat sasaran, dan benar-benar mempertimbangkan  kepatutan, rasionalitas, dan bobot kegiatan dengan kadar pembiayaannya.

Kegiatan yang berdalih pembangunan, pengembangan, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan, perlindungan hak kesehatan masyarakat kecil, pelatihan ketrampilan di lingkungan pendidikan luar sekolah, dan lain sebagainya, memang bisa menjadi kegiatan yang terlaksana dan dalam pelaporannya  menunjukkan kesuksesan. Namun kegiatan ini dilaksanakan dengan pembiayaan yang sangat besar, yang disobyektifitas, tidak rasional, dan mengandung banyak cacat moral (moral hazard)  dalam realisasinya.

Angka-angka tidak rasional dan disobyektifitas sengaja dimasukkan dalam komposisi anggaran supaya setiap mesin struktural  eksekutif maupun legislatif bisa mendapatkan keuntungan besar. Kegiatan yang semestinya sangat efektif dilaksanakan satu hari misalnya, tetap saja dilaksanakan tiga hari atau lebih demi mendapatkan dan menimbun pundi-pundi keuntungan.

Logika kalkulasi keuntungan yang bisa diperoleh itulah yang akhirnya menyulitkan setiap pengelola rezim yang bersifat idealistis etis untuk mewujudkan efisientasi, transparansi, dan akuntabilitas birokrasi.

Kegagalan rezim di negeri ini dalam program “mengencangkan ikat pinggang” ke seluruh jajaran, yang kegagalannya ini dibuktikan dengan masih maraknya korupsi atau berbagai jenis penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), yang tentu saja hal ini tidak lepas dari pengaruh ketiadaan atau miskinnya keteladanan dalam pembumian gerakan mengutamakan cinta negara di atas segala-galanya.

Secara realitas, hingga sekarang masih sulit menemukan mesin-mesin kekuasaan yang benar-benar memberikan teladan dalam ranah pengistimewaan cinta Negara. Padahal teladan ini sejatinya dapat memotivasi lahirnya para pejuang andal anti korupsi di lini strategis.

Akibat krisis keteladanan itu, generasi muda (kasus sejumlah PNS muda/pemula), menjadikan APBN maupun APBD sebagai bagian dari modus operandi korupsi individualitas atau berjamaahnya.

Kader muda di lini strategis itu terperangkap jadi “generasi” korupsi atau komunitas usia dini yang terjerat dalam pembenaran dan penguatan praktik menyelingkuhi  jabatan, yang pola ini dimenangkan demi meraih kaningratan status social-ekonomi.

Mereka itu bahkan merasa kalau standar kesuksesan berprestasi strukturalnya ditentukan oleh kepintaran atau kelihaian dalam memanipulasi peran-perannya yang bisa mengalirkan keuntungan pragmatis.

Mereka seperti tak pernah mendapatkan “didikan” empirik sebagai pekerja tanggunh atau birokrat “merdeka belajar” memproteksi marwah pertiwi, dan sebaliknya lebih akrab terkondisikan jadi pemanfaat kesempatan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, atau lebih senang tergiring mencintai korupsi daripada mengabdikan diri demi kepentingan tanah air.

Idealisasi pengistimewaan cinta negara di wilayah rezim tersebut masih sekadar diucapkan atau dijanjikan dengan manis di awal menjabat atau di momen-momen tertentu yang menguntungkan secara politik, dan bukan benar-benar menjadi spirit jihad etis dan edukatif untuk memprevensi korupsi.

Mereka lebih tergiur menikmati pesona kultur konsumerisme atau hedonisme kekuasaan daripada menggalakkan gerakan efisiensi dan transparansi birokrasi. Dan mereka inilah yang membuat   negara identiik kehilangan kepintarannya dalam ranah menjadi kapal besar yang bisa menikmati kemerdekaan guna melabuhkan idealismenya.(*)

 

Oleh: Sunardi

Ketua Program Studi Magister Kenotariatan

Pascasarjana Universitas Islam Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Sunardi

  Berita Lainnya





Loading...