Perubahan Besar Pendidikan di Indonesia | Malang POST

Selasa, 18 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 09 Jan 2020,

BULAN Maret nanti, seluruh sekolah yang ada di Indonesia akan mengadakan Ujian Nasional. Hasil dari Ujian Nasional ini nantinya akan menjadi acuan untuk masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya. Berbeda dengan SMA dan sederajat, dimana untuk masuk ke perguruan tinggi mereka harus mengikuti tes lagi. Pro dan kontra dengan adanya Ujian Nasional juga masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Karena Ujian Nasional berhasil menjadi ‘momok” yang menakutkan bagi beberapa masyarakat.
Adanya bimbingan belajar baik berupa online maupun offline sudah menjadi ‘penyelamat’ bagi setiap pelajar yang akan mengikuti ujian nasional. Apalagi dengan adanya bimbel online yang murah dan praktis membuat masyarakat beralih dan menganggap hal ini adalah solusi dari adanya bimbel offline yang memiliki biaya yang cukup mahal. Sebenarnya ketika bimbingan belajar ini ada, sudah menjadi sebuah pertanyaan besar ‘ada apa dengan pendidikan di sekolah ?’ sampai harus meluangkan waktu untuk belajar kembali setelah hampir setengah dari kehidupan para pelajar dihabiskan di sekolah. Bimbingan belajar atau bimbel merupakan lembaga pendidikan swasta yang memberikan pembelajaran tambahan yang materinya ada di sekolah. Jika mengarah pada swasta, maka orientasinya adalah uang atau mencari keuntungan. Sebuah bimbingan belajar dapat berjalan ketika mendapatkan pemasukan dari para pelajar yang mengikuti bimbingan belajar tersebut.
Dalam hal ini terjadi sebuah siklus dimana harga yang dibuat oleh bimbingan belajar berlandaskan kepercayaan masyarakat terhadap bimbingan belajar tersebut. Maksudnya, jika sebuah bimbingan belajar tersebut mendapat banyak kepercayaan masyarakat maka masyarakat akan membayar berapa pun harga yang diberikan dengan harapan dapat menjadi lebih baik ketika nanti berada di sekolah. Sebaliknya jika sebuah bimbingan belajar belum mendapatkan kepercayaan masyarakat, mereka akan memberikan harga yang jauh lebih murah untuk membuat masyarakat memilih bimbingan belajar tersebut berdasarkan harga yang terjangkau.
Siklus seperti ini akan terjadi terus menerus setiap adanya tahun ajaran baru. Bimbingan belajar sudah menjadi candu bagi masyarakat, karena hampir semua kalangan masyarakat berharap pada bimbingan belajar agara dapat belajar dan mendapatkan nilai yang baik. Seharusnya belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan pun kita mau, dan tanpa harus bergantung dengan apa pun.
Jika peran bimbingan belajar di Indonesia banyak diminati, seharusnya ada perkembangan dari para pelajar tersebut. Namun nyatanya belum ada perkembangan sama sekali, faktanya adalah  beberapa waktu lalu The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengumumkan hasil Programme for International Student Assesment (PISA) 2018.  PISA merupakan survei evaluasi sistem pendidikan di dunia yang mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah. Penilaian ini dilakukan setiap tiga tahun sekali dan dibagi menjadi tiga poin utama, yaitu literasi, matematika, dan sains. Hasil pada tahun 2018 mengukur kemampuan 600 ribu anak berusia 15 tahun dari 79 negara. Pada survei 2018 menempatkan siswa Indonesia di jajaran nilai terendah terhadap pengukuran membaca, matematika, dan sains. Pada kategori kemampuan membaca, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari bawah (74) dengan skor rata-rata 371. Turun dari peringkat 64 pada tahun 2015. Lalu kategori matematika, Indonesia berada di peringkat ke-7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Turun dari peringkat 63 pada tahun 2015. Sementara pada kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat ke-9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Turun dari peringkat 62 pada tahun 2015. Jika dibandingkan, kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata dunia. Hal ini juga menjadikan bukti bahwa Indonesia belum bisa merealisasikan cita-cita para pendiri bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang tertera dalam pembukaan UUD 1945. Cita-cita luhur ini harus diwujudkan karena merupakan visi dari para pendiri bangsa. Kegagalan ini berawal dari pemerintah itu sendiri, dimana kurikulum pendidikan dasar adalah sebab utama alasan Indonesia tertinggal dalam hal pendidikan dengan negara lain.
Proses pembelajaran kita tetap sama dengan proses pembelajaran pada masa penjajahan. Murid – murid harus duduk rapi dan diam. Mereka diberikan kesempatan berpendapat dengan cara mengacungkan tangan. Serta waktu istirahat yang sedikit berbanding jauh dengan waktu belajar yang telah ditentukan. Sejak dini para pelajar sudah dikenalkan dengan sistem belajar dimana harus berorientasi dengan nilai dan dibuat takut dengan sanksi. Hal itu jauh berbeda dari manfaat dari belajar yang sebenarnya adalah untuk membuat manusia lebih berkembang dan dapat memanfaatkannya dalam hidup. Sungguh ironi sekali dimana setiap individu memiliki kebebasan untuk berekspresi, berpendapat, dan berpeluang menentukan hidupnya sendiri. Namun peran pemerintah disini membuat sebuah sistem dimana semua masyarakatnya harus sama dan jika ada yang berbeda maka dianggap aneh atau dikucilkan. Metode mengahafal adalah yang sering didapatkan pelajar di Indonesia. Padahal menghafal adalah tingkatan terendah dari kemampuan berpikir. Menurut Benjamin Bloom bersama beberapa kawannya merumuskan kerangka kemampuan berpikir bernama Taksonomi Bloom.Terdapat tiga struktur terbawah yakni menghafal, memahami, dan mengaplikasikan termasuk dalam kategori Lower-Order Thinking Skills.Tiga level selanjutnya adalah analisis, evaluasi, dan penciptaan. Setiap tahap dirancang untuk merangsang pola pikir tingkat tinggi.Tujuannya guna menghasilkan siswa berdaya analisis, kritis, cakap memecahkan masalah, dan melakukan evaluasi.
Selama ini Indonesia sudah berganti kurikulum setidaknya sebanyak 11 kali.Namun belum ada peningkatan yang signifikan. Fakta ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan perlu
Dibenahi secara menyeluruh. Upaya Mendikbud Nadiem Makarim akan menghapuskan Ujian Nasional pada 2021 nanti dan menggantinya dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter bukan merupakan solusi dalam mengatasi permasalah pendidikan yang ada saat ini. Jika dilihat dari konteksnya, asesmen ini mirip dengan Taksonomi Bloom yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter. Maka bukan tidak mungkin harus menyusun ulang sistem pendidikan di Indonesia, perubahan yang besar ini harus adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat agar bisa menghasilkan kebijakan yang saling menguntungkan satu sama lain. Sebagai manusia yang memiliki akal seharusnya kita dapat menentukan apa yang kita butuhkan, bukan bergantung dan pasrah dengan keadaan. Negara ini butuh pelajar yang bertekad kuat untuk sebuah perubahan yang lebih baik.(***)

Penulis : Reynaldo Dion Pratama

Editor : Redaksi
Penulis : Reynaldo Dion Pratama



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...