Peringati Muharram 1441 Hijriyah, SMA Islam Sabilillah Santuni Santri Pesantren Nur Ilahi

Minggu, 20 Oktober 2019

Jumat, 20 Sep 2019, dibaca : 246 , udi, imam

MALANG - Iswatin Hasanah begitu terharu melihat kondisi para santri di Pondok Pesantren Nur Ilahi, Kecamatan Tajinan. Mereka yang mayoritas merupakan anak yatim berasal dari kondisi kehidupan yang berat. Bahkan beberapa diiantaranya harus 'diselamatkan' dari pinggir jalan, tempat sampah, kebun tebu maupun tempat-tempat lain yang dinilai sangat tidak layak dihuni manusia.
Iswatin Hasanah merupakan salah satu siswa SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School. Pekan lalu, ia bersama 122 temannya berkunjung ke Pondok Pesantren Nur Ilahi, untuk bersilaturahmi dan memberikan santunan untuk para santri.
Kepada Malang Post, ia mengatakan, ada banyak pelajaran yang didapatkan dari kunjungan tersebut. Melihat kondisi kehidupan para santri, tumbuh rasa syukur yang begitu kuat dalam hatinya.  Bagaimana tidak, kehidupan Iswatin yang selama ini bisa dibilang lebih dari cukup, termasuk juga teman-temannya di SMA Islam Sabilillah, berbeda jauh dengan kondisi para santri di pesantren Nur Ilahi. "Kami bersyukur masih punya orang tua, diberikan fasilitas yang cukup, dibandingkan dengan mereka," ujarnya.
Siswi kelas XII ini mengaku sempat menangis saat mengetahui ada santri yang makan kertas dan sabun cair. Itu karena kebiasaan mereka di masa lalu (sebelum masuk pesantren) hidup dengan kondisi yang serba kekurangan. Sampai sampah pun mereka makan untuk mengurangi rasa lapar dan bertahan hidup. "Kami menangis sampai segitunya mereka mengalami kekurangan. Sangat berbeda dengan kondisi kami disini," imbuhnya.
Oleh karena itu, pada Bulan Muharram 1441 Hijriyah kali ini, ia dan teman-temannya di kelas XII, didampingi sembilan orang guru memberikan bantuan. Berupa bingkisan sembako, alat belajar, nasi kotak, makanan ringan dan uang tunai untuk bekal dan pembinaan. Dana bantuan dihimpun dari sedekah para guru dan siswa SMA Islam Sabilillah selama dua minggu. Total dana yang terkumpul mencapai Rp 22 juta.
Reni Wulandari, S.Pd.,  guru pendamping mengatakan, kehadiran civitas SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School mendapatkan sambutan yang baik dari keluarga Pesantren Nur Ilahi. Para santri menyambut dengan Salawat Al-Banjari, dan Tilawah Alquran.
Beberapa santri juga menampilkan kreativitas mereka di hadapan guru dan siswa SMAIS. Seperti Tahfidzul Qur'an, pidato dan paduan suara. Tak mau kalah, dalam kesempatan tersebut siswa SMAIS juga menampilkan satu karya berupa nasyid atau lagu-lagu Islami.
Reni mengungkapkan, program santunan pada santri dan anak yatim di Pesantren Nur Ilahi tepat sasaran. Pasalnya, pesantren dengan jumlah santri 113 anak ini, memang sangat membutuhkan bantuan. Kondisi pesantren pun terlihat memprihatinkan di beberapa bagiannya.
Apalagi, KH. M. Tamyis Al Faruq, selaku pengasuh pondok, tidak pernah 'meminta-minta' kepada siapapun untuk membantu pesantren dan para santrinya. "Beliau tidak mau meminta, untuk memenuhi kebutuhan para santri yang mayoritas anak yatim beliau hanya bergantung pada usahanya sendiri," ucapnya.
Kendati demikian, Kiai Tamyis tidak menolak jika ada bantuan datang untuk pesantrennya. "Jadi kami rasa program kami tepat sasaran, memberikan bantuan untuk mereka yang benar-benar  membutuhkan," ujarnya.
Sementara itu, Waka Kesiswaan Dan Humas SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School, Agus Budiono, S.Pd., menerangkan, Bulan Muharram sebagai salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah, sangat tepat dijadikan momentum untuk mendidik para siswa. Terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial dan cinta kasih kepada sesama.
Sekolah Islam Sabilillah Malang (SISMA) dalam pendidikan karakternya mencantumkan nilai Cinta Kepada Allah, Cinta Kepada Rasul dan Cinta kepada sesama manusia. Berdasarkan nilai karakter tersebut, maka SMAIS melalui kegiatan Muharram kali ini, mendidik siswa agar memiliki rasa peduli kepada sesama.
Sesuai dengan ajaran agama Islam, seorang muslim tidak dikatakan beriman kepada Allah Dan Hari Akhir, hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. "Cinta membutuhkan pengorbanan, maka kami ajarkan anak-anak untuk rela menyisihkan uang jajannya untuk mereka yang membutuhkan," katanya.
Ia memaparkan, ada beberapa tujuan dari kegiatan sosial yang digelar SMAIS setiap bulan Muharram. Antara lain mengajarkan pada siswa untuk memahami kondisi kehidupan saudara mereka yang kemampuan ekonominya lemah.
Dengan harapan akan tumbuh belas kasih dan rasa syukur dalam diri siswa SMAIS. "Harapan kami dengan belajar dari kondisi para santri disana anak-anak juga termotivasi untuk belajar lebih giat. Para santri yang hidup dengan banyak keterbatasan, mampu menghafal Alquran, apalagi siswa SISMA, harus lebih bisa," tuturnya.
Selain itu, kata Agus, di balik kegiatan santunan tersebut terselip hajat yang ingin dicapai oleh guru dan siswa. Yakni agar siswa kelas XII SMAIS dapat menjalankan Ujian Nasional dengan lancar. "Semoga dengan barakah kegiatan ini anak-anak kami sukses ujian nasional serta dapat melanjutkan ke perguruan tinggi yang diinginkan," pungkasnya. (imm/udi)



Jumat, 18 Okt 2019

Sebanyak 23 PT di Jatim Merger

Loading...