Perguruan Tinggi Diimbau Rangkul Minoritas | Malang Post

Minggu, 15 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Selasa, 27 Agu 2019, dibaca : 348 , Rosida, ian

MALANG - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia menggandeng kampus-kampus sebagai percontohan anti sikap diskriminatif terhadap kaum minoritas dan marginal. Seperti para penyandang disabilitas, anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan, anak-anak pelaku kriminalitas, hingga anak-anak punk.
"Kita ingin memastikan pembangunan berkualitas dan inklusif, kita harus ajak mereka yang kurang beruntung untuk meraih kesempatan seperti yang lain," kata Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa, dan Kawasan Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dr.Sonny Harry B Harmadi, S.E, M.E pada Malang Post.
Hal tersebut menjadi bagian dari misi aksi nyata gerakan revolusi mental dalam pembangunan manusia inklusif di Indonesia. Misi tersebut dinilai sangat tepat jika dilakukan bersama dengan perguruan tinggi atau kampus. Sebab merupakan salah satu elemen masyarakat yang mencerminkan kemajemukan masyarakat.
"Sejauh ini kampus sebagai wadah cendekiawan sudah berperan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak diskriminatif seperti terhadap kaum disabilitas. Melalui pembangunan insfrastruktur yang baik," lanjutnya usai menjadi pembicara dalam Road Show Menuju Indonesia Inklusif, Setara Semartabat di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB), Selasa (27/8).
UB yang kali ini ditunjuk sebagai penyelenggara giat tersebut juga dinilai sudah memenuhi kriteria anti sikap diskriminatif lewat infrastruktur bagi akademisi disabilitas di bawah lingkupnya. Bahkan UB sendiri juga telah memilki Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD), yang di dalamnya juga terdapat dosen dan mahasiswa penyandang disabilitas.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Marjono, M.Phil dalam sambutannya menyebut bahwa anti sikap diskriminatif terhadap seluruh elemen masyarakat merupakan bagian dari penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Kampus sudah seharusnya menjadi bagian dalam andil anti diskriminatif terhadap kaum minoritas dan marginal.
Sementara itu, perewakilan PLSD UB Slamet Tohari, S.Fil, M.A, menyampaikan bahwa program semacam ini sangat baik bagi peran kaum minoritas dan marginal di tengah masyarakat.
"Ini bagus sekali, tidak hanya kaum minoritas disabilitas atau kaum marginal. Tapi juga kaum minoritas ras dan suku nantinya bisa punya kesempatan untuk setara di mata masyarakat," tutupnya. (mg3/oci)



Loading...