Pengungsi Kerusuhan Wamena Tiba di Malang | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 02 Okt 2019, dibaca : 723 , bagus, ira

MALANG – 120 warga yang menjadi korban kerusuhan di Wamena, Papua, tiba di Bandara Abdurahman Saleh, dengan pesawat C-130 Hercules, Rabu (2/10). Mereka berhasil keluar dari situasi mencekam di Wamena. Sebagian pengungsi mengaku mengalami peristiwa tembak-tembakan dan pembakaran rumah. Di sana mereka dlindungi oleh warga pribumi yang selama ini hidup berdampingan secara damai.
Kedatangannya langsung disambut oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Gubernur memilih menjemput langsung para pengungsi ini karena dari 120 warga ini mayoritas adalah warga Jawa Timur.
”Dari 120 warga. Rinciannya 105 dewasa dan 15 anak-anak. Mereka dari Probolinggo, Sampang, Pasuruan dan Lumajang. Juga ada beberapa dari Solo,’’ kata Khofifah.
Dia mengatakan, setelah datang para pengungsi ini akan lebih dulu dilakukan pendataan. Untuk kemudian Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyerahkan mereka ke Dinas Sosial masing-masing daerah tempat asal para pengungsi. Yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jatim ini adalah merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat.
”Posisi kami adalah memberikan layanan perlindungan  kepada masyarakat. Dan ini sudah kami lakukan,’’ tegasnya.
Sejak sepekan terakhir, menurut mantan menteri Sosial RI ini, sudah ada warga yang dievakuasi ke Jawa Timur. ”Sudah ada, melalui Semarang. Hari ini ada dua, yaitu di sini (Abd Saleh) dan di Surabaya. Semuanya dilakukan pendataan dulu, untuk kemudian diserahkan kepada Pemda masing-masing,’’ terangnya.
Saat menyambut para pengungsi, Khofifah didampingi langsung oleh Danlanud Abd Saleh Marsma TNI Hesli Paat, serta sejumlah kepala daerah. Tidak terkecuali Bupati Malang H. M. Sanusi, ikut mendampingi Khofifah di Lanud Abd Saleh..
Untuk memulangkan pengungsi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyediakan dua unit bus. Sebelum mereka pulang, lebih dulu dilakukan pendataan di Kantor Bakorwil III  Malang.
Sementara itu para pengungsi datang di Lanud Abd Saleh sekitar pukul 14.40. Mereka naik pesawat Hercules dengan nomor pesawat A-1305 dari Biak ke Malang.
”Tadi take off dari Bandara Biak pukul 07.00 WIT . Dua kali transit,yaitu di Ambon dan Makassar untuk refuel,’’ kata Komandan Skadron 32 Lanud Abd Saleh Letkol Pnb Suryo Anggoro, yang menjadi pilot pesawat membawa para 120 pengungsi ke Malang ini.
Selama terbang, tidak ada kendala. Bahkan seluruh air crew pesawat melakukan pemantauan kepada para penumpang. Mereka yang kondisinya tidak sehat langsung ditangani. Ditanya apakah dari sekian pengungsi tersebut ada warga Malang, Suryo mengatakan tidak mengetahui data secara rinci.
”Sekarang masih dilakukan pendataan. Tapi kalau informasi yang kami dapat tidak ada,’’ tambahnya.
Sementara itu Syamsuri, 35 tahun, warga Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang salah satu pengungsi yang dievakuasi dengan Pesawat Hercules, mengaku dia baru datang ke Wamena Minggu (20/9) lalu. Dia datang karena mendapatkan panggilan kerja. Dan saat di sana dia tinggal kos bersama adik dan beberapa sepupunya.
”Minggu saya datang, kemudian Senin jam 08.00 saya berangkat bekerja. Belum lama bekerja, tiba-tiba saya melihat anak sekolah berlarian, katanya ada suara tembak-tembakan,’’ akunya.
Tidak lama kemudian kami pun mendengar, juga melihat ada rumah-rumah warga yang dibakar. Karena takut, Syamsuri pun memilih pulang. Dia yang sebelumnya pernah bekerja di Wamena selama 2 tahun memilih menyelamatkan diri ke rumah kosnya di sana.
”Saat itu kemudian datang orang-orang sana, menggunakan baju ala SMK, tapi berkumis. Mereka menanyakan keberadaan kami. Tapi kami bersyukur, karena pemilik kos yang orang pribumi melindungi kami,’’ terang Syamsuri.
Hingga akhirnya, aparat keamanan datang, dan membawa Syamsuri serta keluarganya ke Kodim. ”Saat itu suasana semakin mencekam. Kami mendengar suara tembakan, kami melihat rumah dibakar. Kami takut dan shock saat itu,’’ katanya.
Ditanya apakah kejadian ini membuat dia trauma? Syamsuri mengatakan iya. Namun demikian, bukan berarti kejadian ini membuat dia kapok merantau. Dia akan kembali merantau setelah kondisinya betul-betul aman dan kondusif.
Hal yang sama juga dikatakan Nanik, salah satu pengungsi yang  datang naik Hercules. Mengaku trauma. Dia merasakan sampai dengan saat ini belum dapat melupakan peristiwa mencekam saat itu.
”Saya sudah 15 tahun tinggal disana. Dan baru sekarang ada kejadian seperti itu. Mengerikan, rumah banyak dibakar, rumah saya juga hancur,’’ kata Nanik.
Di Wamena sendiri Nanik mengatakan tinggal bersama suami dan anaknya. Awalnya kehidupan disana normal. Warga pendatang maupun warga pribumi hidup berdampingan satu dengan yang lain, tanpa persoalan.
”Makanya itu kami sendiri tidak tahu sebabnya. Yang jelas, Minggu (20/9) itu tiba-tiba suasana mencekam. Kemudian kami dievakuasi, mencari tempat yang aman,’’ katanya.
Dia dan keluarganya lebih dulu diamankan di Kodim, ada juga yang di Polres. Kemudian menggunakan truk diangkut ke Bandara Wamena, untuk kemudian diterbangkan ke Jayapura atau Biak, Ambon juga Manado.
Sementara Nanik sendiri mengaku, selama delapan jam naik Hercules, dia mengaku sangat lelah. Namun demikian, dia juga lega, karena sudah berada di tempat yang aman. Nanik juga mengatakan, dia akan menghabiskan hidupnya di tempat asalnya, dengan bekerja serabutan.
”Kami tidak membawa uang sama sekali. Kami takut jika harus kembali di sana. Lebih baik di sini, karena aman,’’ tandasnya.(ira/ary)



Senin, 16 Des 2019

10 Ribu Senamers Padati Rampal

Loading...