Pengungsi dari Wamena, Ada Warga Kebobang dan Sukun | Malang Post

Minggu, 15 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 04 Okt 2019, dibaca : 372 , bagus, ira

MALANG – 107 pengungsi datang lagi dari Wamena Papua di Lanud Abd Saleh, Malang. Mereka tiba dengan pesawat pesawat C-130 Hercules, milik Skadron 32 Lanud Abd Saleh. Dari 107 penumpang, sedikitnya 36 orang ini merupakan warga Malang. Yakni 19 warga Dusun Bumirejo, Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari dan 17 lainnya adalah warga Sukun.
Kendati rumah mereka berada di Malang, namun pihak Pemprov Jatim melarang mereka langsung pulang. Sebaliknya, meminta para pengungsi ini ke kantor  Bakorwil III III Provinsi Jatim di Malang untuk dilakukan pendataan. Alhasil, mau tidak mau warga menurut. Naik bus yang sudah disediakan, mereka pun menuju ke Kantor Bakorwil III Provinsi Jawa Timur di Malang untuk mengikuti pendataan.
”Sebetulnya kami lelah. Dan ingin cepat pulang. Tapi ya karena ini prosedur, mau bagaimana lagi,’’ aku Imam Haji Purnomo.
Warga Dusun Bumirejo, Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari ini merantau di Wamena sejak tiga bulan lalu. Dia tidak sendirian, tapi bersama dengan 15 orang, beberapa merupakan keluarganya. Dia merantau setelah diajak salah satu keluarganya, yaitu Wagirin yang sudah tinggal di Wamena sejak tahun 2013 lalu.
”Di Wamena kami tinggal di Jalan Yos Sudarso, berdekatan dengan Kodim 1702 Jayawijaya. Saya dan yang lainnya ikut pak Lik Wagirin berjualan bakso,’’ ujar Imam.
Sebelumnya, Imam mengatakan, di Wamena suasana begitu tenang. Memang pernah terdengar satu atau dua kali suara tembakan. Namun warga berpikir itu suara tembakan untuk latihan atau tembahan peringatan saja.
Tapi di hari itu, yaitu Senin (21/9) lalu, suasana tenang itu berubah menjadi mengerikan. Tiba-tiba terdengar suara tembakan berkali-kali dan bersahutan. Imam yang memiliki tugas memproduksi bakso sangat kaget. Namun demikian, dia tidak berani keluar. Apalagi saat itu sudah banyak orang di depan rumah yang ditinggalinya.
”Di sana kami tinggal di rumah warga. Dan suasananya mencekam, dan tidak berani keluar. Bersembunyi di atap,” terangnya.
Hingga akhirnya kondisi tenang, barulah kemudian ada anggota Kodim datang, untuk memberikan pertolongan.
”Saya kemudian ke Kodim. Di situ saya ketemu Bukhori dan Dadang. Selama lima hari saya di Kodim, kemudian dievakuasi menuju ke Bandara Wamena. Dua hari di Bandara Wamena kemudian kami dievakuasi menuju Jayapura,’’ ungkapnya.
Cerita yang sama juga disampaikan oleh Suwuno, Danang, Yudhi, dan Hari, semuanya warga Dusun Bumirejo, Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari. Saat kejadian mereka sedang berjualan bakso. Mereka tahu ada kerusuhan, setelah mendapat telepon dari Imam. Mereka pun langsung meninggalkan rombongnya, dan berlari  untuk menyelamatkan diri.
”Kami dikejar, dan langsung masuk rumah, bersembunyi di plafon, agar keberadaan kami tidak diketahui,’’ terangnya.
Tapi demikian, jejak mereka terendus. Salah satu orang kemudian membakar rumah yang menjadi tempat persembunyian itu.
”Kami diam saja saat itu, pasrah saja. Terus terang kami takut, saat itu. Tapi kami bersyukur, karena sekitar 15 menit kondisi sudah sepi, dan ada bagian rumah yang tidak terbakar, sehingga kami bisa kabur,’’ ungkapnya.
Sementara, Ningsih Pardede, warga Graha Sukun Permai, Kecamatan Sukun mengaku dia di Wamena sejak 25 tahun lalu. Dia bekerja sebagai pedagang. Dia juga mengaku selama ini tidak pernah mendapatkan intimidasi saat tinggal di Wamena. Hingga akhirnya hari itu, dia dan keluarganya pun terpaksa meninggalkan rumah. Ningsih tidak menceritakan apakah rumahnya dihancurkan atau tidak. Tapi yang jelas, kejadian itu membuat dia sangat trauma, dan memilih untuk tidak kembali.
”Kami bersukur, semua keluarga selamat. Hari ini pulang ke Malang bersama 16 orang, semuanya keluarga,’’ katanya.
Rasa trauma juga disampaikan Abdul, 32 tahun. Pria asal Sampang Madura ini, menjadi korban kerusuhan di Wamena. Dia juga mengalami luka bakar, di wajah serta tangan dan kakinya. Itu karena rumah tempat dia bersembunyi dibakar oleh perusuh.
”Waktu kejadian saya bekerja di toko milik warga sana. Kemudian tiba-tiba datang massa. Mereka langsung menangkapi warga, dan melakukan perusakan. Saya panik, dan menyelamatkan diri. Hingga akhirnya saya masuk rumah orang untuk sembunyi,” terangnya. Tapi apes, jejak persembunyiannya diketahui oleh perusuh. Hingga akhirnya rumah itu dibakar.
”Tadinya ingin menyerah, apalagi api terus membesar. Tapi kata teman saya tidak boleh,’’ kata Abdul sembari menyebutkan bersembunyi dia bersama temannya bernama Yayan.
Beruntung nyawa Abdul selamat. Dia turun dari plafon rumah tempatnya bersembunyi setelah lima menit rumah itu dibakar. Dia berani turun, karena kondisi rumah sudah sepi.
Dalam kondisi luka bakar, Abdul ditolong warga pribumi. Dia kemudian diajak masuk gereja. Setelah lukanya dirawat, Abdul kemudian dibawa ke kantor polisi.
”Kantor polisinya juga dirusak. Pokoknya waktu itu sangat mencekam,’’ imbuhnya.
Abdul pun mengatakan, setelah dari kantor polisi, dia dan rekannya dibawa ke Kodim. Selama lima hari di Kodim, kemudian dia dibawa ke Bandara Wamena, kemudian dibawa ke Jayapura dan terbang ke Malang.
Ditanya apakah dia trauma? Abdul menganggukkan kepala. Namun dia juga tak menjawab saat Malang Post menanyakan dia akan kembali ke Wamena atau tidak.

Sementara itu Kepala Bakesbangpol Provinsi Jatim, Drs. Ec. Jonathan Judianto, M.MT mengatakan, jika total warga yang dievakuasi dari Jayapura 107. Dari jumlah tersebut 14 orang adalah anak-anak.
Penerbangan berjalan lancar, tiba pukul 14.56. Warga yang kondisinya sehat, langsung dibawa ke kantor Bakorwil III Jawa Timur di Malang. Sedangkan yang sakit dibawa ke RSSA Malang. Dari 107 ini, ada satu penumpang mengalami sakit. Yaitu Deasy Arwan. Wanita 23 tahun mengalami sakit pada lambung dan uluhatinya. Sehingga dia langsung dibawa ke RSSA Malang untuk perawatan.
”Untuk biaya perawatan ditanggung Pemerintah provinsi Jatim. Termasuk yang juga dibawa ke RSSA, biaya pengobatannya juga ditanggung provinsi,’’ ungkapnya.
Dia mengatakan, para korban ini akan diantar oleh Provinsi Jatim ke tempat asalnya masing-masing. ”Tadi kalau sesuai data ada dari Ponorogo, Pasuruan, Probolinggo, Madura dan beberapa daerah lainnya. Mereka tetap kami fasilitasi, sampai rumah dengan selamat,’’ ungkapnya.(ira/ary)



Jumat, 13 Des 2019

Skadron 32 Lanud Abd Saleh

Loading...