Penganiaya Gadis Gondanglegi Ditangkap Saat Tidur

Jumat, 05 Juni 2020

  Mengikuti :


Penganiaya Gadis Gondanglegi Ditangkap Saat Tidur

Kamis, 09 Apr 2020, Dibaca : 6657 Kali

MALANG - Tidak butuh waktu lama bagi polisi mengungkap pelaku penganiayaan terhadap Nikmatus Solihah, 16, gadis berkebutuhan khusus (bisu dan tuli). Selasa (8/4) dini hari, Unit Reskrim Polsek Gondanglegi bersama Tim Buser Satreskrim Polres Malang berhasil menangkap pelakunya.
Adalah Dony Pratama Santoso, warga Perum Saptorenggo Raya, Kecamatan Pakis. Pemuda kelahiran 7 Mei 1995 ini, ditangkap petugas di rumahnya. Penangkapannya selang 10 jam setelah kejadian.
"Pelaku kami tangkap di rumahnya ketika sedang tidur. Dia sangat kooperatif, begitu juga dengan keluarganya," ujar Kanitreskrim Polsek Gondanglegi, Ipda Sigit Hernadi.
Sekadar diketahui, peristiwa berdarah membuat heboh warga Dusun Krajan, Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi, Selasa (7/4) sore. Nikmatus Soliha, 16, menjadi korban penganiayaan. Siswi kelas X SMA-LB Kepanjen ini, dianiaya oleh seorang pemuda bernama Doni, 25, diketahui warga Kecamatan Pakis, karena menolak cintanya.
Akibatnya, korban yang merupakan anak berkebutuhan khusus (bisu dan tuli) ini, harus  dilarikan ke rumah sakit. Dia mengalami sejumlah luka bacok di tubuhnya. Yakni di leher tengkuk, pelipis, bahu serta punggungnya.
Kejadian penganiayaan tersebut berlangsung di dalam ruang tamu rumah korban. Pelaku datang ke rumah korban bermaksud untuk menyatakan cintanya. Namun karena ditolak, akhirnya murka dengan menjerat leher korban dengan tali serta melukai korban dengan senjata pisau.
"Pengakuan pelaku pisau yang digunakan menganiaya korban dibeli di wilayah Kecamatan Pakisaji. Barang bukti pisau tersebut masih kami cari, lantaran langsung dibuang di jalan oleh pelaku," tutur mantan Kanitreskrim Polsek Bantur ini.
Dalam pemeriksaan, Dony, yang juga diketahui berkebutuhan khusus (bisu dan tuli) mengaku mencintai korban. Beberapa kali dia sudah mengungkapkan perasaannya, namun ditolak. Cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Bahkan Selasa (7/4), pelaku datang dengan membawa sebuah cincin emas dan uang sebesar Rp 1 juta. Perhiasan serta uang tersebut akan diberikan pada korban, sebagai lamarannya. Tetapi karena masih ditolak, akhirnya terjadi peristiwa penganiayaan tersebut.
"Cinta pelaku ini bertepuk sebelah tangan. Karena dia tidak mendapat restu dari orangtua korban," ucapnya.
Ditambahkannya, selama menjalani pemeriksaan, pelaku Dony mengakui semua perbuatannya. Dia menceritakan apa yang dilakukannya dengan didampingi oleh orangtuanya.(agp)

Editor : Agung Priyo
Penulis : Redaksi