Pengalaman Menjadi Mahasiswa ITN | Malang Post

Minggu, 17 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 28 Sep 2019, dibaca : 822 , rosida, imam

Gali Ilmu di Cepu
Pengalaman amat berharga didapat oleh Titis Intan Permata Sari, selama menjadi mahasiswa ITN. Terutama  saat melaksanakan Praktik Kerja Nyata di PT. Pertamina EP Asset 4 Field Cepu. Bertugas di bagian Suplay Chain Management (SCM), membuatnya mengerti banyak hal yang berkaitan dengan ilmu yang ditekuninya. Yakni di Teknik Industri. Meskipun hanya satu bulan praktik kerja yang Titis lalukan, namun memberikan arti yang cukup dalam hasanah keilmuannya.
“Saya senang bisa bertugas di bagian SCM, disana saya belajar sesuai dengan ilmu yang saya dapat di kampus, seperti mempelajari tentang penerimaan material, inventori dan trasportasinya dalam proses pengeboran minyak,” ucapnya.  


Kembangkan Potensi di Organisasi
Predikat lulusan terbaik ITN dan terbaik Prodi Teknik Kimia tahun ini diraih Lathifatul Ulyah. Mahasiswi asal Pasuruan ini berprinsip, segala hasil tergantung pada prosesnya. Dan mengenal kekurangan diri sendiri merupakan langkah efektif pertama untuk meningkatkan potensinya.
Ia mengaku lemah dalam berkomunikasi, sehingga untuk mengatasi kelemahannya tersebut ia memilih untuk aktif di organisasi. Selama kuliah di ITN, Ulyah aktif sebagai asisten laboratorium kimia, UKM Da’wah Islamiyah dan Himpunan Teknik Kimia.
“Banyak yang bisa kita gali di organisasi, tujuannya untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki,” ucap peraih IPK 3,83 ini.

Sukses Bangun Relasi
Hidup di era teknologi harus berani bersaing dan membuka akses informasi. Caranya dengan memperluas relasi dan jaringan. Itu yang diungkapkan oleh Ayu Lutfi Novitasari, lulusan terbaik Prodi Teknik Informatika ITN. Menurutnya memiliki banyak teman adalah hal paling menyenangkan. Akses relasi yang luas dapat mempermudah hidup seseorang.
Relasinya yang luas membuatnya mudah mendapat pekerjaan. Tak heran jika Ayu, pernah bekerja di banyak bidang. Seperti Bar crew at Deduren Cafe, Logo Designer at CV. Bamz Creative dan Intership student as video editor at CV. Tugra Media Malang.
“Dengan banyak relasi kita bisa sharing ilmu dan pengalaman, termasuk tentang pekerjaan akan menjadi lebih mudah,” ujar alumni SMKN 4 Malang ini.


Inovasi Alat untuk UMKM
Dengan karya inovasinya, mahasiswa asli Karangploso Kabupaten Malang ini berhasil membuat alat pencetak mie secara otomatis. Johan membuat alat tersebut dilatarbelakangi banyaknya UMKM yang merasa keberatan untuk membeli alat pembuat mie yang harganya terlalu tinggi, di atas Rp 10 juta.
Sementara alat yang berhasil dibuatnya hanya membutuhkan biaya Rp 4 juta saja. Sehingga kalau dijual pun harganya masih dibawah Rp 10 juta.
Dengan alat yang tradisonal, pembuatan mie butuh waktu yang lama. Sementara tujuan perancangan mesin pencetak mie buatan Johan, adalah untuk mempermudah produsen mie kelas bawah dalam meningkatkan produktifitas.
“Kelebihan alat saya selain lebih murah, gampang dibawa kemana saja, karena sifatnya portable. Sehingga lebih efektif. Harapan saya alat ini bisa dikembangkan dan berguna bagi masyarakat luas, terutama untuk UMKM,” ucapnya.

Juara 1 Nasional Lomba Kuat Tekan Beton
Belajarlah dari kesalahan dan kekurangan atas apa yang pernah dilakukan. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Reynhard Bayu Prananda Ghunu. Mahasiswa ITN Malang Prodi Teknik Sipil ini menjadi lulusan terbaik di prodinya. Bulan Mei 2019 lalu, ia sukses menjadi juara 1 lomba Kuat Tekan Beton 2019 Tingkat Nasional di Surabaya.
Gelar juara 1 di lomba tersebut diraihnya dengan tidak mudah. Ia harus mengikuti selama tiga tahun berturut-turut. Tahun 2017, Bayu gagal meraih juara. Dilanjutkan pada tahun 2018, dan berhasil sebagai juara 3. Kemudian di tahun 2019, ia akhirnya sukses meraih juara 1 di ajang lomba tersebut.
“Saya mencoba belajar dari kesalahan dan kekurangan saya sebelumnya, dan terus berusaha tanpa putus asa, hingga akhirnya berhasil menjadi juara 1,” ucap mahasiswa asal NTT tersebut.

Bangga Warna-warni dalam Kampus
Kecerdasan Intelektual memang penting.  Tapi tidak lebih penting dari kecerdasan sosial dan spiritual.  Maka pribadi yang utuh yang mampu menyeimbangkan antara ketiganya.  Hal tersebut diungkapkan oleh Maulidya Atha Nur Pinasti, lulusan terbaik Prodi Arsitektur ITN tahun ini.  Sebagai lulusan terbaik tentu dirinya mempunyai prestasi yang cemerlang di bidang akademik.  
Tetapi menurutnya, kemampuan intelektual menjadi tidak berarti tanpa diimbangi sikap sosial yang baik, serta pendekatan diri terhadap agama.
“Karena kita butuh teman, sehebat apapun kita tanpa mereka tidak berarti apa-apa,” katanya.  
Kuliah di ITN menjadi kebanggaan tersendiri bagi mantan Atlet PBSI ini. Menurutnya, di kampus ITN dia mendapatkan banyak hal. Termasuk sebagai tempat memaksimalkan potensi diri menjadi pribadi yang utuh. "Saya belajar banyak di kampus ini. Terutama cara membangun keakraban di tengah perbedaan. Meskipun kami berasal dari daerah yang berbeda, suku dan agama yang berbeda tapi kami tetap kompak dan bisa bekerja sama," ungkapnya. (imm/oci)



Loading...