Penemuan Benda Cagar Budaya | Malang Post

Sabtu, 07 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 19 Sep 2019, dibaca : 6933 , bagus, ira

MALANG -Tiga benda diduga cagar budaya ditemukan di area sawah  Dusun Curah Ampel, Desa Ampeldento, Kecamatan Pakis. Tiga benda ini masing-masing yoni,  arca belum jadi dan ambang pintu candi (Dorpel). Menariknya tiga benda ini ditemukan tidak jauh dari Situs Sekaran, di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis.
Jarak antara Situs Sekaran dengan tiga benda ini sekitar 1 kilometer. Tiga benda ini berada 500 meter sebelah timur jalan tol Malang-Pandaan. Yoni dan arca belum jadi ditemukan berdekatan. Bahkan warga menduga keduanya merupakan pasangan dan langsung dipasangkan. Sedangkan dorpel ditemukan dengan jarak 200 meter sebelah barat yoni.
Arkeolog Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono, mengatakan temuan tiga benda ini menjadi bukti kawasan Malang Timur merupakan sentra keagamaan. Apalagi di wilayah tersebut juga ditemukan data pendukung. Mulai dari punden hingga arca.
"Kawasan Malang Timur ini mulai Lesanpuro, Madyopuro, Sekarpuro dan sekarang ada temuan lagi di Desa Ampeldento. Meskipun karakter nama desanya tidak sama, Ampeldento sendiri merupakan nama kuno, yang berarti kepala. Di kawasan ini banyak ditemukan benda peninggalan, dan semuanya berdekatan dengan Sungai Jilu yang mengalir menuju DAS Amprong, " urainya.
Dwi sendiri mengaku belum melihat langsung temuan itu. Sehingga Dwi pun belum dapat mendefinisikan temuan itu. Termasuk batu yang diduga arca. "Kalau memang itu Yoni berarti benda tersebut merupakan masa Hindu sekte Siwa," ungkapnya.
Sementara untuk dorpel yang ditemukan, kata Dwi harusnya ada dua. Karena ambang pintu umumnya ada dua. Yaitu satu di atas dan di bawah. Yang pasti menurut Dwi dari dorpel ini besaran pintu dapat diukur.
"Jarak antar lubang. Inilah yang menjadi penentu lebar pintu. biasanya lebar pintu lebih sedikit dibandingkan dengan jarak antar lubang," kata Dwi.
Umumnya tambah Dwi ambang pintu candi yang terbuat dari batu andesit ini dilengkapi dinding serta atap.
"Nah ya itu, karena saya sendiri belum kesana, jadi belum tahu pastinya. tapi kalau merunut dari temuan dan nama yang digunakan, beberapa wilayah ini betul-betul berhubungan," ungkap Dwi.
Dia mengatakan belum bisa mengidentifikasi temuan itu. "Apakah benda ini masanya sama dengan Situs Sekaran, harus ada data yang perlu digali lagi. Jadi tidak bisa hanya sekedar temuan ini saja, harus ada data pendukungnya," tambahnya.
Dwi sendiri berencana meninjau lokasi temuan benda cagar budaya ini. Rencananya, dia akan datang ke sana Minggu (22/9) mendatang.
Sementara itu, temuan benda diduga cagar budaya ini langsung ditindak lanjuti oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang yang langsung meninjau ke lokasi temuan.
"Sebetulnya benda yang diduga cagar budaya ini bukan temuan baru. Benda ini sudah diketahui warga cukup lama. Hanya saja, baru dilaporkan ke kami (Disparbud)," kata Kepala Seksi Museum Sejarah dan Cagar Budaya Disparbud Kabupaten Malang Anwar Supriyadi.
Anwar pun mengatakan, meskipun benda cagar budaya ini temuan lama, pihaknya tetap memberikan perhatian. Salah satunya akan membuat surat kepada Kepala Desa Ampeldento dan Kecamatan Pakis. Di mana dalam surat nanti desa dan kecamatan diminta untuk ikut menjaga dan melestarikan benda tersebut.
Ditanya apakah tidak dialihkan? Anwar. Menggelengkan kepala. Untuk sementara ini, karena situs sudah banyak dikunjungi warga maka dibiarkan di sana.  
Temuan benda cagar budaya ini sudah cukip lama juga dibenarkan oleh Jujuk Hermanto. Pria 32 tahun ini mengaku sudah cukup maka melihat benda itu. Bahkan, dia juga yang menginformasikan kepada  pemerhati budaya yaitu Joko Laksono.
"Kalau kapan ditemukan saya tidak tahu. Tapi kalau saya sendiri melihat kali pertama tahun 2003 lalu. Baru saat Situs Sekaran booming, saya menginformasikan kepada mas Joko Laksono," katanya.
Jujuk mengatakan jika, tanah di mana tempat ditemukan benda cagar budaya itu awalnya merupakan gundukan. Di mana di dalam gundukan itu berisi batu bata berukuran besar. Selain itu juga ada arca ditemukan.
"Kalau batu batanya masih ada, untuk arcanya mungkin tertanam dalam tanah. Saya tidak tahu lagi," tuturnya.
Dia mengaku tidak tahu identitas benda cagar budaya tersebut, termasuk benda ini peningggalan apa. Tapi yang jelas. Dia hanya berharap, temuan ini mendapat perhatian dari pemerintah.
"Ya semoga temuan ini dapat perhatian dari pemerintah, mungkin ada ekskavasi, sehingga identitas situs pun dapat diketahui," urainya.
Dia juga mengaku senang karena temuan ini direspons cepat oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang. Bahkan saat meninjau , juga dilakukan pengukuran besaran benda tersebut.
"Tadi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan pemerhati cagar budaya melakukan pengukuran besaran situs. Rencananya semua data ini akan dibawa ke Balai Pelestari Cagar Budaya Jatim," tandasnya.(ira/ary)



Loading...