Penduduk Tak Produktif Ancam Bonus Demografi | Malang Post

Rabu, 11 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 04 Sep 2019, dibaca : 381 , rosida, asa

MALANG - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyebut bahwa bonus demografi akan mendatangkan petaka jika tidak disokong oleh pendidikan berkualitas bagi Sumber Daya Manusianya (SDM). Jika tak dipersiapkan secara terstruktur dan matang, bonus demografi yang akan dialami oleh Indonesia beberapa tahun mendatang justru akan menimbulkan beban yang sangat berat bagi generasi berikutnya.
"Kalau sampai kita gagal mempersiapkan itu, maka yang terjadi bukan bonus demografi, tapi petaka demografi. Karena penduduk usia produktif tidak memiliki kualitas, sehingga negara akan terperangkap pada pendapatan menengah. Bukan negara terbelakang tapi tidak bisa jadi negara maju, tapi kecenderungan jadi terbelakang jauh lebih besar," ujar Muhadjir ketika menjadi pembicara dalam seminar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM), Senin (2/9).
Menurut Muhadjir, Indonesia menjadi salah satu negara yang akan mengalami bonus demografi dengan total jumlah penduduk usia produktif mencapai 180 juta jiwa dan penduduk usia non produktif hanya sekitar 60 juta jiwa. Rentang usia penduduk produktif sendiri disebut adalah mulai dari usia 17 hingga 60 tahun.
"Kita bicara tentang bonus demografi, keuntungan demografi, suatu kondisi dimana antar mereka yang berusia produktif dan tidak produktif terjadi perbandingan yang sangat mencolok. Namun belum tentu juga mereka yang diluar usia produktif tidak bisa lagi produktif," lanjutnya.
Lebih lanjut, menurut Muhadjir, menentukan arah pendidikan sangat penting dalam mempersiapkan momen bonus demografi. Sebab, lonjakan penduduk usia produktif yang berkualitas hanya bisa diperoleh melalui bekal pendidikan yang cukup. Sehingga mereka akan menjadi penduduk usia produktif yang benar-benar produktif.
Dijelaskannya, tak seperti Jepang, Indonesia menjadi negara yang beruntung karena akan mendapat bonus demografi. Sama halnya juga seperti China, namun mereka sudah jauh lebih unggul terkait dengan persiapan dalam menghadapi bonus demografi. "Mereka sudah fokus sama integritas dalam pendidikan, sedang kita masih fokus pada akurasi hasil ujian nasional. Tapi itu jadi salah satu upaya juga untuk menanamkan kejujuran pada siswa," tandasnya.
Muhadjir sendiri juga sempat menyinggung terkait dengan peringkat Indonesia oleh Program for International Student Assesment (PISA) yang menduduki posisi dua terbawah, yang membuatnya cukup khawatir dalam menyongsong momen demografi yang diperkirakan akan dialami oleh Indonesia dalam kurun beberapa tahun mendatang. (asa/oci)



Rabu, 11 Des 2019

Kabur Demi Nikahan Anak

Loading...