MalangPost | PENCERAHAN INTELEKTUAL MUDA

Minggu, 07 Juni 2020

  Mengikuti :


PENCERAHAN INTELEKTUAL MUDA

Jumat, 06 Mar 2020, Dibaca : 798 Kali

Masa depan Muhammadiyah di dunia internasional dipertaruhkan? Ya, karena Muhammadiyah adalah organisasi sosial keagamaan yang berdasarkan agama Islam dan menjalankan organisasi secara profesional. Sebagai organisasi yang boleh dikatakan paling modern dan memiliki aturan baku di Indonesia bahkan di seluruh dunia, Persyarikatan Muhammadiyah senantiasa menjalankan roda organisasi dengan manajemen yang baik. Setidaknya itulah yang menjadi statemen krusial menyongsong Muktamar ke-48 tanggal 1 – 5 Juli 2020 di Surakarta Jawa Tengah  guna menghidupkan panggung intelektual Islam yang sarat dengan gagasan dan pemikiran intelektual kaum muda untuk kemajuan bangsa. Untuk menggapai cita-cita Muhammadiyah yang luhur, suatu perjuangan dan semangat baru harus dibumikan seiring dengan tema “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta”.
Selama 108 tahun, tidak dapat dipungkiri Muhammadiyah telah memiliki kontribusi dan dampak positif yang besar dalam ranah bangsa yang pluralis.  Dalam berbagai kesempatan, berbagai tokoh Muhammadiyah mulai dari era Amien Rais, A Syafi’i Ma’arif, Din Syamsuddin, hingga Haedar Nashir tidak bosan-bosannya menyerukan pentingnya pencerahan kearifan lokal. Secara definitif Muhammadiyah tidak lahir dari ruang hampa, namun terbalut kompleksitas ketimpangan sosial dan distorsi akidah, fikih dan teologi, kemiskinan yang menggurita, serta keterbelakangan pendidikan. Sementara secara holistis, tekanan penindasan Belanda dan Jepang sempat mewarnai corak keberagaman yang disuguhkan Muhammadiyah.
Jejak tersebut idak lepas dari pemikiran emas KH. Ahmad Dahlan sebagai founding fathers  Muhammadiyah dengan etos menjadikan Muhammadiyah sebagai bagian dari peradaban utama manusia.  Sebaliknya saat ini amar ma’ruf  nahi munkar adalah sebagai pijakan kuat untuk mengikis kaum populis terdidik yang masih “tamak” keduniaannya sehingga telah meninggalkan platform intelektualitas bermoral agamis. Oleh karena itu, ke depan wawasan imajinatif ini harus dibangun sembari menyiapkan kandidat pimpinan yang berakhlak karimah, dapat menjadi publik figur para muktamirin dan masyarakat.
Kontradiksi atas tujuan profesionalitas yang terlalu tajam dan kegalauan yang muncul atas eksodusnya massa Muhammadiyah, khususnya kaum proletar, sudah terbukti. Justru saat ini kaum proletar lebih interes pada propaganda partai politik yang lebih menjanjikan masa depan karier individunya ketimbang berpegang pada organisasi Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan yang lebih mulia peranannya. Kondisi ini memprihatinkan karena tokoh-tokoh yang menjadi panutan dan pijakan kaum proletar sudah terimbas pada eksistensi individualisme yang keluar dari rel Muhammadiyah murni. Sudah banyak kaum populis yang kehilangan arah sebagai hilangnya nilai-nilai komitmen yang telah lama dibangun dan diyakininya.

Menghadirkan Metodologi Hermeneutika
Memasuki abad kedua keberadannya, Muhammadiyah memang mendapatkan tantangan yang begitu besar, sementara seringkali tantangan tersebut tak senada dengan kualitas kaum muda saat ini. Arus globalisasi dan modernitas nyatalah telah banyak menggerus upaya pengembangakan kualitas pemuda. Desakan untuk menstranformasikan konsep amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi ciri utama Muhammadiyah memang harus dibangun dengan komitmen kuat. Artinya, konsep gerakan sosial yang dimiliki Muhammadiyah harus jelas, baik secara program kegiatannya maupun pedoman dasar yang harus menjadi “landasan idiil” dari alternatif sistem baru adalah manusia dan kemanusiaan. Alternatif ini dimaksudkan bahwa sistem-sistem lama yang serba determinis, baik sistem keagamaan maupun sistem non keagamaan atau sekular, sama-sama bermuara kepada terjadinya proses “dehumanisasi” eksistensi manusia dan kemanusiaan.
Kelangsungan perjalanan bangsa ini sebagaimana yang dicita-citakan founding fathers sangat dikhawatirkan. Kalau krisis multidimensional ini tidak dapat atau segera diatasi, maka keadaan bangsa ini di waktu mendatang akan lebih parah lagi. Terkait dengan hal itu, metodologi yang patut ditawarkan adalah “hermeneutika” sebagai tool of analysist merevitalisasi “kearifan lokal” di tengah modernisasi masyarakat dewasa ini, meski lagi-lagi perlu ditekankan di sini bahwa hukum adat atau kearifan lokal di instrumen juga memiliki corak beragam. Tetapi, nilai-nilai kearifan cukup terpancar di suku-suku yang tersebar seperti Jawa, Madura, Aceh, Kalimantan, dan Melayu.
Menghadirkan metodologi hermeneutika dengan menggali konteks kearifan lokal niscaya untuk membangun relasi yang harmonis. Seperti halnya rasa, muncul moral dasar, seperti kejujuran, kesediaan menolong, dan rasa keadilan. Orang Jawa membatinkan perintah dasar untuk mencegah konflik sebagai sesuatu yang positif dan belajar memahami struktur hierarki masyarakat. Bahkan, Weber pernah menyarankan dikembangkannya etika persaudaran (brotherly love) untuk mengatasi merajalelanya hedonisme. Hanya dengan menggali, menekuni, dan menerapkan kembali tuntutan kearifan lokal yang positif, yang akan menempatkan kembali komunitas manusia Jawa terhormat di antara komunitas lain. Revitalisasi perlu digalakkan dalam segala bidang, misalnya adat istiadat, tata cara bermasyarakat, disiplin pribadi serta sosial, pendidikan, kesenian, dan lain-lain.
Munculnya multikulturalisme yang menyimpang dari fondasi yang dibangun sebelumnya menyimpang dari ajaran toleransi umat beragama yang harus mematuhi “pakemnya”. Bukankah sebelumnya pernah diserukah K.H. Akhmad Dahlan, yakni al-ruju’ila Al Qur'an wa al Sunnah (kembali ke Al Qur'an dan Sunnah) dengan melakukan kontekstualisasi Al Qur'an di ranah praksis dalam upaya melakukan liberalisasi umat. Lebih lanjut pranata yang diperjuangkan adalah sebagai “Gerakan Pembaharu” yang terus eksis sebagai ormas Islam besar di Indonesia.
Dengan kapasitas ini semua, Muktamar ke-48 Muhammadiyah diharapkan mampu memberikan kemajuan di tengah-tengah terpuruknya moral bangsa. Artinya panggung muktamirin tidak lagi meributkan perbedaan paham dan paradigma penafsiran agama, lebih bijak pada lomba global membangun moralitas umat.  Pemikiran intelektual melalui metode hermeneutika adalah sebuah obsi untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal yang berwawasan imajinatif, intelektual, cerdik cendekia, dan spiritualisme dalam penalaran religiusnya pada aplikasi umat Islam. Oleh karena itu kegiatan Muktamar ke-48 ini diharapkan dapat membuahkan hasil konsep instrumen perubahan bagi kemajuan intelektual muda di dunia internasional. Peran  dan pemikiran cendikiawan Muhammadiyah sangat dipertaruhkan untuk  memanifestasikan pencerahan kemajuan dari gerakan yang istiqamah pada praksis penyadaran, pembebasan, dan perlawanan. Dengan demikian, pencerahan intelektual muda Muhammadiyah ke depan bisa menjadi kekuatan yang dapat menekan kekuatan politik di ranah internasional. ***

Penulis: Djajusman Hadi
Penemu, Penyunting Majalah, Kasubag Registrasi dan Statistik UM

Editor : Redaksi
Penulis : Opini