MalangPost - Pembangunan SMAN 3 Batu Terkenda Harga Tanah

Rabu, 05 Agustus 2020

  Mengikuti :

Pembangunan SMAN 3 Batu Terkenda Harga Tanah

Kamis, 02 Jul 2020, Dibaca : 3405 Kali

BATU - Pembangunan SMA Negeri 3 Batu terkendala mahalnya harga tanah di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji yang mencapai Rp 1 juta per meter.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Batu Eddy Murtono menjelaskan, tidak mungkin pemkot membeli tanah seharga itu. Pembelian tanah setelah adanya pengecekan dari tim appraisal.

          "Harapan kami, hasil taksiran tim appraisal didapatkan angka yang lebih masuk akal. Kalau harganya tetap Rp 1 juta per meter persegi, tentu kami tidak sanggup membelinya karena minimnya anggaran," tegas Eddy, Kamis (2/7/2020).

 

          Taksiran harga tanah yang akan dibeli oleh pemerintah menjadi hal penting, Eddy tak mau jika sampai menjadi masalah dikemudian hari. Misal harga dipaksa bisa-bisa menimpa banyak pejabat di kota lain yang terjerat kasus hukum karena salah menaksir harga.

          "Salah sedikit saja dari harga yang dikeluarkan tim appraisal maka panitia pengadaan tanah akan berurusan dengan Kejaksaan atau kepolisian. Karena itu kita harus berhati-hati dalam proses menaksir harga dan pembebasan lahan ini," keluh dia.

          Bila dirinci, BPKAD sudah menyiapkan anggaran Rp 15 miliar untuk tiga sarana pendidikan di Kota Batu. Yakni untuk pembebasan lahan SMAN 3 Kota Batu,  pendirian green house sebagai lokasi kegiatan pelatihan bidang pertanian dan mendirikan gedung SMPN 5, Kota Batu di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji.

 

          Sementara, Wakil Walikota Batu, Punjul Santoso terkesan hati-hati dalam proses pengadaan tanah SMAN 3.  Punjul mengaca pada Tahun 2010-2011, banyak pejabat Pemkot Batu yang terjerat hukum karena terlibat pembelian tanah untuk kantor Dinas Pengairan dan Bina Marga, Kota Batu.

          “Kita harus menggunakan tim appraisal independen agar tidak dianggap kolusi. Kita sebenarnya sepakat sekolah itu dibangun di Bumiaji karena di sana belum ada SMA. Namun jika harganya terlampau mahal kita tidak akan beli,"kata politisi PDIP itu. (rak/ned)

Editor : Redaksi
Penulis : Malang Post