Pembangunan Karakter Bangsa Minus Keteladanan | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Jumat, 06 Sep 2019, dibaca : 1305 , mp, tamu

…. Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya untuk Indonesia Raya….
Kutipan lagu kebangsaan Indonesia Raya telah memberikan tanda, langkah awal yang harus diambil untuk membangun Indonesia adalah pembangunan jiwa bangsa.
Bung Karno selalu menyerukan Nation and Character Building. Pembangunan dalam bidang apapun (teknik, mesin, dan modernisasi) harus mendahulukan pembangunan jiwa bangsa supaya kemajuan berorientasi pada kesejahteraan warga negara. Tidak dapat dipungkiri, pembangunan karakter bangsa membutuhkan kolaborasi seluruh stake holder dan warga negara Indonesia. Lee Kwan Yew berhasil membangun negaranya, tak luput karena beliau selalu memberi teladan kepada masyarakatnya.
Pernyataan Ridwan Kamil, “Kepemimpinan yang terbaik adalah Keteladanan.” Sejalan dengan hal itu Yudi Latif telah menerbitkan buku yang berjudul Mata Air Keteladanan. Buku tersebut merupakan respon terhadap krisis keteladanan yang dialami oleh bangsa ini. Beliau berinisiatif menghadirkan kembali para tokoh-tokoh Indonesia yang mampu menginspirasi generasi muda, melalui pengamalannya terhadap nilai-nilai Pancasila.
Pembangunan karakter bangsa dalam pendidikan di Indonesia terdapat dalam mata pelajaran dan matakuliah: Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, dan Kewarganegaraan. Materi tersebut dipelajari dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Ironisnya, generasi bangsa masih saja ada yang menyimpang dari yang diharapkan. Memang tidak semua, tetapi akan memberi resiko terlebih Indonesia akan menghadapi bonus demografi di tahun 2020-2040. Apa yang salah dengan pembangunan karakter bangsa di Indonesia?
Pembangunan karakter bangsa yang holistic
Ketika pemerintah Indonesia bertekat membangun karakter bangsa, harus diikuti dengan tekat yang bulat serta melibatkan banyak pihak, meliputi kepemimpinan pemerintahan, pendidikan di sekolah, di lingkungan keluarga, serta di lingkungan masyarakat. Sebagai pendidik di sekolah sebisa mungkin kami memberikan contoh yang baik kepada anak didik kami, ketika keluarga dan lingkungan tidak sejalan maka yang terjadi adalah ketimpangan.
Koordinasi yang berkelindan harus terjadi antara institusi pendidikan, orang tua dan masyarakat sehingga mampu memberikan lingkungan kondusif bagi generasi muda. Negara harus hadir memberikan teladan melalui kepemimpinannya. Saat ini generasi milenial sudah jauh lebih maju. Perkembangan teknologi sangat signifikan mempengaruhi generasi milenial, sehingga negara perlu mengendalikan perkembangan teknologi dan media yang disuguhkan di televisi dan media sosial. Bukan bermaksud membuat negara memberikan porsi lebih dalam mengendalikan informasi, tetapi memilah mana yang baik untuk disajikan.
Tayangan televisi, sangat sedikit yang mendidik, menginspirasi, serta mampu memberi teladan dalam pembangunan karakter bangsa. Padahal dengan melihat televisi dan media sosial (youtube) maka audio visual generasi muda dirangsang untuk menangkap pesan yang disampaikan. Hal itu mempengaruhi pola pikir mereka. Ketika banyak generasi muda tawuran, tidak disiplin, di sekolah hanya mengejar nilai itu karena apa yang mereka lihat setiap hari adalah hal-hal yang demikian.
Ciri Bangsa Minus Keteladanan
Megakorupsi E-KTP adalah satu dari sekian kasus minus keteladanan tokoh publik Indonesia. Beberapa Bupati dan Walikota di tanah air menjelang pemilu 2018 juga banyak yang telah terciduk kasus korupsi. Kota Malang yang notabene Kota Pendidikan dua dari tiga calon walikota tersangkut kasus korupsi.
Sangat ironis memang, debat-debat para kandidat walikota, bupati, gubernur, dan bahkah presiden yang ditayangkan oleh televisi seharusnya diwarnai susasana demokratis yang penuh tanggung jawab, tetapi sering diwarnai aksi saling menjatuhkan. Hate speech dan cyber bullying menunjukkan ketidak dewasaan bangsa dalam berpolitik. Apabila dinalar bagaimana mungkin kemajuan bangsa tercapai ketika para calon pemimpinnya menunjukkan sikap yang tidak dewasa menjelang pemilihan.
Media sosial sebagai ajang menjaring aspirasi hingga ke akar rumput, semakin lama semakin membuat gaduh dengan komentar-komentar yang tidak bertanggung jawab. Pendapat-pendapat berbau SARA sering dimunculkan guna membalas komentar lawan. Generasi milenial yang sangat dekat dengan gawai dan media sosial disuguhkan dengan kondisi semacam ini.
Tahun ini adalah tahun politik. Pilkada serentak akan dilaksanakan di tahun ini dan tahun depan. Momen ini sebenarnya merupakan momen yang tepat bagi Indonesia sekaligus memberikan keteladanan bagi generasi mudanya.
Etik Pancasila
Terdapat sebuah keyakinan yang begitu dalam dari para pendiri negeri ini bahwa sebuah republik hanya dapat berhasil jika memiliki warga negara yang berkarakter baik. Hanya dengan adanya sebuah hukum tentang moral, maka seluruh warga negara mampu menjaga suatu bentuk pemerintahan yang bebas (Robert Bellah dalam Thomas Lickona).
Bangsa Indonesia memiliki strategi bagaimana membangun karakter baik warganya, yakni dengan konsep etika Pancasila. Etika Pancasila merupakan suatu perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yakni etika berketuhanan, berperikemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, serta berkeadilan. Pengamalan-pengamalan nilai-nilai Pancasila harus hirarkies-piramida (Piramida terbalik). Sila pertama menjadi dasar bagi keempat sila yang ada di bawahnya, sila kedua didasari oleh sila pertama dan mendasari ketiga sila yang ada di bawahnya dan seterusnya.
Berawal dari para pemimpin bangsa diharapkan mampu menerapkan etika Pancasila. Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang mengamalkan nilai-nilai ketuhanan baik dalam kehidupan pribadi dan di lingkungan masyarakat, mengamalkan nilai-nilai kemanusian,menjaga persatuan. mengambil keputusan berdasarkan hikmat kebijaksanaan(hati nurani), bukan tekanan segelintir golongan/kepentingan, sehingga mampu mewujudkan keadilan sosial. Ketika sila kelima Pancasila telah terwujud maka sila ke satu hingga keempat telah terejawantah dan pembangunan karakter bangsa telah berhasil.
Ki Hajar Dewantara mempunyai trilogi pendidikan dalam mencapai sebuah keberhasilan, yakni ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodho bermakna memberikan teladan ketika berada di depan. Seharusnya sebagai pemimpin mengamalkan apa yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu menjadi teladan kepada warganya dan generasi mudanya. Selamat Hari Pendidikan, Semoga Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia mampu menciptakan manusia-manusia Pancasilais. (*)

* Oleh Prisca Kiki Wulandari
Dosen Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Brawijaya Malang



Kamis, 14 Nov 2019

JOKER Korban Asuransi Kesehatan

Rabu, 13 Nov 2019

Branding Kreatif

Loading...