Pembacaan Putusan di Pengadilan Negari Kepanjen, Target ZA Lepas dari Tuntutan | Malang POST

Selasa, 18 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 23 Jan 2020,

MALANG –Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kepanjen, Kristiawan SH atas ZA lebih ringan dari dakwaan. Siswa SMA itu dituntut  ‘mondok’ selama setahun di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam, Wajak.  Tetapi tim kuasa hukum, tetap menargetkan ZA bisa divonis lepas dari segala tuntutan, pada sidang putusan Kamis (23/1) hari ini.
Target ZA bisa lepas ini, disampaikan langsung oleh tim kuasa hukum ZA, pada diskusi yang digelar Malang Post Forum di Graha Malang Post, Rabu (22/1) sore.
“Lega, karena dengan tuntutan ringan tersebut, mempermudah kami untuk melakukan upaya atau target, supaya anak ZA ini bisa lepas dari segala tuntutan,” ucap Afrizal, M. W, salah satu kuasa hukum dari Bakti Riza Hidayat Law Office.
Pernyataan ini, sama seperti yang disampaikan koordinator kuasa hukum ZA, Bakti Riza Hidayat, pasca sidang tuntutan Selasa (21/1). Meski tuntutan JPU, sangat ringan dibanding dengan dakwaan yang sebelumnya dibacakan. Tetapi Riza tetap berpegang pada pasal 49 KUHP tentang pembelaan darurat. Dan keterkaitan dengan pasal 50 KUHP tentang unsur pembenaran dan pasal 44 KUHP tentang unsur pemaaf.
Pasal 49 dan 50 KUHP yang menjadi pegangan itulah, yang juga dibacakan pada sidang pledoi Rabu (22/1). Pasal  351 KUHP tentang penganiayaan menyebabkan kematian, harus dikaitkan dengan pasal 49 KUHP tentang pembelaan darurat. Termasuk, menyambungkannya dengan pasal 50 KUHP tentang unsur pembenaran dan pasal 44 KUHP tentang unsur pemaaf.
“Kalau hakim menerima pledoi kami, maka kami optimis putusannya adalah lepas dari segala tuntutan atau onstlag van alle rechtvervolging,” sambung Moch Asni F, salah satu tim kuasa hukum ZA lainnya.
Diskusi kasus ZA ini, dipimpin langsung oleh Pemred Malang Post, Abdul Halim, dengan didampingi Redaktur Pelaksana Bagus Ary Wicaksono, Koordinator Liputan Vandri Van Battu, Kabiro Malang Post Kepanjen, Agung Priyo serta wartawan Ira Ravika. Sedangkan tim kuasa hukum ada lima orang yang hadir, yakni Moch Asni F, Yogi Tuhu S, Afrizal M. W., Lukman Chakim serta Novi Zulfikar.
“Malang Post ini memiliki forum diskusi, yang sebenarnya diagendakan setiap hari Jumat. Namun karena kasus ZA ini sangat menarik dan sedang ramai dibicarakan sampai pusat (Jakarta, red), akhirnya kami mendesak untuk mengajak diskusi secepatnya, sebelum sidang putusan. Apalagi dari semula dakwaan pasal berlapis, namun akhirnya pada pembacaan tuntutan hanya tinggal satu pasal saja,” ungkap Abdul Halim.
Seperti diketahui, pada dakwaan yang dibacakan JPU saat sidang perdana Selasa (14/1) ada empat pasal berlapis yang didakwakan kepada ZA, pelajar SMA yang membunuh begal. Yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan menyebabkan kematian. Dan pasal 2 ayat 1 Undang-undang Darurat nomor 12 tahun 1951.
Dakwaan 340 KUHP yang menjadi pasal primair, karena ancaman hukuman seumur hidup itupun, langsung ramai dan menjadi viral. Tidak hanya pengacara kondang Hotman Paris Hutapea ikut berkomentar, tetapi juga menjadi bahan pembahasan antara Kejaksaan Agung dengan anggota Komisi III DPR RI.
Namun setelah menjadi ramai dan banyak masyarakat di Indonesia yang memberi tanggapan, tiga pasal langsung dihilangkan saat pembacaan tuntutan. Yaitu pasal 340 dan 338 KUHP, serta pasal 2 ayat 1 Undang-undang Darurat nomor 12 tahun 1951. ZA hanya dikenakan pasal 351 ayat 3 KUHP, tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian.
“Pasal 340 dan 338 KUHP karena memang tidak bisa dibuktikan. JPU sebelumnya mungkin menganggap ZA melakukan pembunuhan berencana, karena ada jeda waktu antara ZA mengambil pisau di dalam jok motor lalu disembunyikan di balik baju, dengan menusukkan pisau ke pelaku begal,” jelas Novi Zulfikar.
“Sedangkan sesuai keterangan saksi ahli, jeda waktu yang dikatakan pembunuhan berencana itu, jika pelakunya dalam keadaan tenang dan tidak dalam tekanan. Termasuk antara pelaku dan korban sudah saling kenal. Sedangkan kasus ZA ini, saksi ahli menyampaikan bahwa ZA menusuk karena di bawah tekanan dan ancaman. Anak ZA sama sekali juga tidak kenal dengan pelaku begal (Misnan, red) yang meninggal itu,” sambungnya.
Sementara itu, Lukman Chakim, menyampaikan bahwa sebelum kasus ZA ini masuk pada persidangan, ada dua versi kronologis kejadian yang berbeda. Versi pertama dari keterangan Ali Wava, salah satu pelaku begal yang merupakan teman Misnan. Bahwa, Misnan dan teman-temannya menunggu di simpang empat yang berjarak lumayan jauh dari lokasi penusukan.
Ketika nongkrong, mereka melihat motor yang dikendarai ZA berboncengan dengan teman wanitanya berhenti di ladang yang sepi. Kemudian Misnan Cs ini, mendatangi lokasi dan mengatakan memergoki ZA dan teman wanitanya sedang berbuat asusila. Mereka kemudian meminta HP milik ZA dengan alasan sebagai jaminan untuk dibawa ke kantor desa.
“Namun setelah kami kejar pengakuan Ali Wava ini, ternyata tidak bisa dibuktikan. Termasuk dalam rekonstruksi juga tidak menemukan faktanya,” terang Lukman Chakim.
Sedangkan versi ZA, bahwa begitu masuk jalan tembus, motornya langsung dipepet oleh motor Misnan yang berboncengan dengan Ali Wava. Padahal saat itu, ZA sudah menyalakan lampu sein kanan. ZA diminta untuk menghentikan motornya, yang kemudian digiring ke tempat sepi. Semua barang ZA seperti kunci kontak motor dan HP dirampas. Termasuk di lokasi inilah, Misnan mengancam ingin memperkosa VN, teman wanita ZA secara bergiliran.
“Dari dua versi tersebut, keterangan ZA inilah yang akhirnya bisa dibuktikan. Termasuk diperagakan dalam rekonstruksi,” tuturnya.
Di sisi lain, ternyata ada pernyataan menarik yang ternyata belum pernah terungkap di media. Bahwa Ali Wava, yang sebenarnya dalang aksi begal, sempat menegur Misnan, sebelum tewas terbunuh akibat tusukan pisau ZA. Ali mengingatkan Misnan, bahwa dirinya sudah beristri. Teguran itu, setelah Misnan berulang kali mengeluarkan ancaman kepada ZA ingin menyetubuhi teman wanitanya.
“Dalam berita acara pemeriksaan Ali memang mengatakan demikian. Termasuk juga ketika menjadi saksi dalam persidangan,” kata Yogi Tuhu S, tim kuasa hukum ZA lainnya.
Redpel Malang Post, Bagus Ary Wicaksono, menanyakan cara ZA bisa mengambil pisau dalam jok motornya. Menurut Afrizal dan Lukman, bahwa ketika ZA diminta menghentikan motornya saat dipepet, langsung membuka jok dengan menekan tanda seat ada rumah kontak. ZA membuka jok hanya spekulasi. Semula dia tidak berpikir kalau di dalam jok ada pisau, yang baru selesai digunakan kegiatan prakarya di sekolah.
Pisau diambil oleh ZA, ketika dia sudah tertekan dengan ancaman Misnan. Pasalnya, berulang kali Misnan mengancam akan menyetubuhi teman wanitanya. Karenanya begitu, Misnan dan Ali membelakangi  ZA, akhirnya ZA mencoba merogoh dalam jok motor yang ada di depannya. Ini spekulatif saja,  tapi ternyata dia menemukan pisau yang kemudian disembunyikan di balik bajunya.
“Anak ZA ini, tidak langsung menusukkan pisau ke arah Misnan. Karena kembali mendapat ancaman dan demi melindungi kehormatan teman wanitanya, akhirnya ZA spontan menusukkan pisau ke arah Misnan,” urainya.
Lantas apa hubungan ZA dengan VN, teman wanitanya itu? Afrizal, menegaskan bahwa ZA dan VN hanya hubungan sebagai teman. VN merupakan adik kelasnya. Saat itu, mereka baru saja jalan-jalan di Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Kemudian pulang lewat jalan pintas, yang akhirnya terjadi peristiwa tersebut.
“ZA mengajak VN lewat jalan tembus itu, karena dekat dengan rumah VN, sehingga supaya bisa cepat sampai. Dan fakta yang sebenarnya, mereka hanya sekadar lewat, sama sekali tidak melakukan perbuatan mesum ataupun asusila,” tandasnya.(agp/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Agung Priyo



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...