Malang Post - Peluang Menang Sanusi Besar, Karena Berangkat dari Petahana Bupati

Senin, 06 April 2020

  Mengikuti :


Peluang Menang Sanusi Besar, Karena Berangkat dari Petahana Bupati

Minggu, 19 Jan 2020

MALANG - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020 akan digelar secara serentak. Di Jawa Timur, total ada 19 kota/kabupaten yang akan menggelar Pilkada. Salah satunya adalah pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Malang.
Pakar Politik Universitas Brawijaya (UB), Wawan Sobari, SIP, MA, Ph.D, menilai bahwa banyak calon petahana yang bakal maju pada Pilkada nanti. Baik bupati dan wali kota, ataupun wakilnya. Peluang para petahana inipun, sangat besar untuk kembali memenangkan Pilkada.
"Kalau petahana dari sisi bupati atau wali kota, peluang untuk menang (Dalam Pilkada, red) lebih besar. Berbeda dengan wakil, masih belum tentu," ungkap Wawan Sobari.
Dikatakannya, ada banyak kasus petahana dari wakil bupati yang tidak menang saat maju Pilkada. Namun ada juga yang menang, seperti di Bandung, wakil wali kota H. Oded Muhammad Danial, S.A.P, yang menang dan terpilih saat maju sebagai calon wali kota. Ia dulunya wakil dari Ridwan Kamil semasa menjadi Wali Kota Bandung.
Menurutnya, petahana menang dan kembali terpilih pada Pilkada, memang sudah menjadi fenomena umum. Karena memiliki satu kelebihan dibandingkan calon lainnya. Di mana selama menjabat sebagai kepala daerah, dalam teori politiknya melakukan kampanye permanen campaign.
"Sehingga kemana-mana menjadi popularitas karena dikenal oleh masyarakat. Hanya tinggal nantinya pada saat Pilkada, apakah disukai pemilih atau tidak. Kalau terpilih, karena memang sudah melakukan kampanye permanen," jelasnya.
Namun ada juga petahana yang kalah dalam Pilkada. Kekalahan karena evaluasi publik, di mana selama memimpin tidak bagus. Dan adanya kampanye negatif yang membuatnya tidak terpilih.
Bagaimana dengan Kabupaten Malang, yang sebelumnya juga berangkat dari Wakil Bupati Malang?. Wawan Sobari mengatakan, bahwa modal dan situasi yang sama dimiliki oleh Drs. H. M. Sanusi, MM. Meskipun rekom dari PKB belum turun.
Tetapi di antara calon yang berasal dari PKB, Sanusi diakui yang memang paling populer dan dikenal, meskipun belum ada yang berani melakukan survei. Sehingga ketika menjelang Pilkada ini, Sanusi turun ke lapangan, sangat wajar dan menjadi keuntungan permanen.
Bagaimana dengan kekuatan pada Pilkada nanti?. Dikatakannya, dalam Pilkada kekuatan partai politik tidak terlalu menunjukkan, meskipun memiliki suara pada Pileg lalu.
Contohnya, pada kasus Pilkada tahun 2015 lalu. Rendra Kresna yang didukung Parpol dengan jumlah kursi menguasi 70 persen, hanya mendapat suara sekitar 52 persen. Sementara Dewanti Rumpoko, hanya didukung PDI Perjuangan dengan jumlah kursi 24 persen, bisa mendapatkan dukungan suara sekitar 44 persen.
"Sehingga dukungan dari Parpol tidak terlalu berpengaruh. Dalam Pilkada yang menonjol adalah figur dan pencitraan. Di mana mereka yang dekat dengan masyarakat, ramah serta jujur, akan mendapat dukungan. Belum lagi dengan kegiatan yang dilakukan dan pemberitaan di media, yang membantu mempromosikan," urainya.
Bagaimana dengan daerah yang menjadi target Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)?. Diakuinya, bahwa pengaruh pada Pilkada pasti ada. Contoh kecilnya, seperti kasus di Kota Malang. Meskipun Abah Anton mendapat suara, tetapi tidak menang.
Namun di Tulungagung, tersangka korupsi tetap dipilih oleh masyarakat. Kenapa?, karena publik lebih melihat sosok dan figur. Siapa yang dekat dengan masyarakat akan dipilih dan dibela.
"Berbeda dengan pemilih di Kota Malang. Karena pemilih kebanyakan adalah kaum Demokrat kritis ada di perkotaan. Mereka muda mendapat informasi yang cukup, dan mempunyai kemampuan untuk memilih. Berbeda dengan kabupaten, informasi pada media sosial tidak begitu dominan. Tetapi pendekatan pada masyarakat yang lebih dominan," bebernya.
Ketika di Kabupaten Malang, muncul figur baru, apakah bisa mengalahkan petahana?. Dikatakannya bahwa hal itu, membutuhkan kerja yang ekstra. Karena Pilkada 2020, hanya tinggal menyisakan waktu sekitar delapan bulan.
Peluang paling besar untuk mengalahkan petahana, adalah independen. Karena mau melakukan pencitraan sejak jauh hari tidak ada masalah. Apalagi, juga tidak berpengaruh pada rekom Parpol.
"Hanya saya mendekati pemilu, akan muncul isu miring yang diciptakan lawan. Dan itu menjadi biasa di pertarungan Pilkada. Tetapi peluang independen sangat bagus, hadir di manapun tidak ada larangan. Juga tidak terikat aturan pemilu, karena belum resmi menjadi peserta pemilu," paparnya.(agp/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Agung Priyo

  Berita Lainnya





Loading...