Pejuang Demokrasi Beraksi

Jumat, 18 Oktober 2019

Selasa, 01 Okt 2019, dibaca : 261 , rosida, genzi

Gebrakan baru datang dari Generasi Z yang berbondong-bondong turun ke jalan. Mulai dari muda-mudi yang suka mager, rebahan, hingga aktivis tulen. Bersatu untuk memperjuangkan keadilan, melalui demonstrasi yang berlangsung selama beberapa hari lalu. Tujuan mereka turun kejalan menuntut DPR untuk membatalkan RUU KPK, RKUHP dan menuntaskan agenda reformasi. Sehingga perlu peran kaum muda, untuk turut serta mengawal negara.
Ada yang menarik loh, biasanya para Generasi Z yang dikenal apatis, justru menunjukkan taringnya dengan mengumpulkan banyak massa mengepung birokrasi. Para pelaku aksi yang sebagian besar merupakan kelompok Generasi Z, dilakukan sebagai bentuk respon terhadap kebijakan-kebijakan penguasa yang dinilai dapat membuat sengsara masyarakat.
Tentu, banyak perbedaan dengan generasi-generasi sebelumnya. Generasi Z mempunyai  gaya aksi turun ke jalan, berbeda dengan para pendahulunya. Dengan memberikan bentuk protes melalui tulisan-tulisan yang ringan lucu, gaul di telinga anak muda.
Sebagai kaum muda yang ikut bersuara dengan melakukan aksi di depan Gedung DPRD Jatim lalu. Nabila Tasya, genzier asal Universitas Airlangga ini, mengingatkan perlunya anak muda untuk bersuara melawan oligarki. Karena Generasi Z saat ini merupakan tumpuan atau harapan bangsa kedepan. Sehingga diperlukan watak kritis, ketika menyangkut hal-hal yang dapat mengganggu kestabilan negara.
“Kaum muda harus bersuara. Keadilan merupakan tonggak utama yang harus ditegakkan, dalam kehidupan masyarakat. Dengan keadilan, kehidupan masyarakat akan terasa lebih seimbang dan tidak ada tekanan dari pihak manapun,” terang alumni SMAN 4 Malang ini.
Menurutnya tidak ada salahnya sebagai kaum muda ikut bersuara terhadap kondisi bangsa sendiri. Asalkan disampaikan dengan cara-cara yang baik. Serta, tidak merugikan pihak yang lain.
“Cara menyampaikan pendapat yang baik, yaitu dengan cara yang tidak anarkis atau merendahkan yang lain. Merendahkan maksudnya tidak menyinggung suku, agama dan ras. Selain itu, pendapat yang disampaikan itu tidak bertele-tele. Akan tetapi jelas pada inti permasalahan yang ingin disampaikan,” tegasnya saat diwawancarai oleh kru Genzi.
Lalu ada juga nih, genzier asal MAN 1 Kota Batu, Windi Ariska Romadhona. Dirinya menyesali praktik sila kelima dari Pancasila tidak diterapkan secara maksimal. Terdapat banyak kebijakan-kebijakan yang menindas masyarakat kecil. Lalu, ia mengambil contoh kasus korupsi yang masif di Indonesia. Maraknya kasus tersebut, karena hukum yang kurang tegas terhadap pelaku koruptor.
“Jika perubahan berada di tangan kaum muda, maka harus ikut bersuara menegakkan hukum yang adil di Indonesia. Serta tumbuhkan semangat menjadi bangsa Indonesia yang berkeadilan. Kuatkan kembali tekad pancasial kita!,” timpalnya.
Maraknya isu-isu politik akhir ini. Menjadi perbincangan hangat, termasuk bagi kalangan beberapa Genzier.  Well, biar tidak termakan isu-isu yang belum tentu benar. Tetap menjadi Generasi Z yang rajin berliterasi, supaya tidak gampang termakan berita hoax! (*/oci)



Minggu, 13 Okt 2019

Jangan Dipendam

Minggu, 13 Okt 2019

Lepaskan Diri dari Depresi

Rabu, 09 Okt 2019

Simpel nan Lezat ala Rice Box

Loading...