PDIP Harus Perhitungkan Bleger Katuranggan | Malang POST

Senin, 24 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


PDIP Harus Perhitungkan Bleger Katuranggan

Minggu, 26 Jan 2020,

MALANG - PDIP Kabupaten Malang harus membangun soliditas grass root dan internal kader partai, andai ingin berbicara banyak, bahkan memenangkan Pilkada 2020. Hal ini ditegaskan pengamat sosial politik Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Wahyudi MSi yang berbicara soal kekuatan, peluang dan kelemahan partai berlogo banteng di kontestasi politik Kabupaten Malang.
“Meski belum final, namun nampaknya rekomendasi DPP sudah mengarah ke Sri Untari. Kekuatan utama PDIP ada di grass root, kader yang loyal kepada partai. Namun, kelemahannya adalah, solid di partai, belum tentu linier dengan solid dukung figur,” jelas Wahyudi kepada Malang Post.
Penerima rekomendasi DPP PDIP, belum tentu mendapatkan dukungan penuh dari kader grass root yang setia kepada partai. Sehingga, manuver calon penerima rekom PDIP untuk Pilkada 2020, tidak hanya bergerak di level elit DPP, DPD maupun DPC, tapi juga simpatisan banteng di tingkat bawah.
“Mau tidak mau, penerima rekom harus konsolidasi di tingkat simpatisan, untuk memunculkan heroisme kharismatik di Kota Malang dengan sosok Peni Suparto. Karena, politik di Indonesia, termasuk di Kabupaten Malang, masih bicara bleger katuranggan (politik figur),” tambah pemegang gelar doktoral dari Universitas Indonesia ini.
Hal tersebut sejalan dengan pemikiran akademisi komunikasi politik FISIP UB, Anang Sujoko SSos MSi DCOMM. Menurut Anang, penerima rekom PDIP, yang mengarah pada Sri Untari, harus bisa mendekatkan diri secara fisik kepada calon pemilih di tingkat bawah. Tapi, tim sukses, harus menetapkan personal branding terlebih dahulu untuk calon dari PDIP.
“Persoalannya, tokoh dari PDIP jelas relatif baru di panggung Pilkada, berbeda dengan petahana Bupati Malang. Tokoh PDIP ini harus mendekatkan diri secara fisik terhadap para pemilih, dengan personal branding yang sudah ditetapkan, untuk menetapkan posisinya,” jelas Anang.
Setelah membangun personal. branding, tokoh PDIP itu juga harus merebut saluran komunikasi politik yang langsung bersentuhan dengan pemilik suara. Anang mengistilahkan, jika memang PDIP akan bersaing dengan PKB di Pilkada 2020, maka yang terjadi adalah pertempuran antara saluran komunikasi informal yang diwakili PDIP melawan saluran komunikasi birokrasi yang diwakili petahana M Sanusi.
“Konstituen grass root dari saluran informal, harus digarap betul oleh tokoh PDIP, karena lawannya adalah saluran komunikasi politik pemerintahan,” sambung alumnus doktoral Universitas South Australia itu. Meski demikian, ada kartu joker yang menjadi peluang bagi PDIP.
Yaitu, sosok Sekda Kabupaten Malang, Didik Budi Muljono yang secara terbuka mendaftar ke PDIP ketika penjaringan calon internal dari DPC PDIP Kabupaten Malang. Jika PDIP bisa mengambil sosok Sekda sebagai pasangan calon, maka saluran komunikasi politik di pemerintahan, tidak bisa didominasi sepenuhnya oleh petahana.
“Andai kolaborasi itu berjalan, PDIP bisa kuat dalam saluran komunikasi politik di internal pemerintahan. Walaupun, Sekda harus turun dari jabatannya ketika dipinang. Karena, pejabat di bawah Bupati, salurannya kan Sekda. Tentu ada ikatan dan ketaatan personal,” tambah Anang. Dr. Nuruddin Hady, SH MH, pengamat politik UM, menyebut kelebihan PDIP adalah pemenang pemilu legislatif.
PDIP, memiliki kekuasaan di parlemen Kabupaten Malang, dan mempunyai bargaining position yang sangat strategis di Pilkada 2020. Semua partai, minus petahana, bakal menunggu manuver PDIP sebelum menentukan langkah di kontestasi politik Kabupaten Malang. Kekuatan ini menjadi modal bagi PDIP.
“Hanya saja, kelemahan PDIP adalah soliditas kader untuk pemilihan kepala daerah. Meski Pilkada sebelumnya hampir menang (Dewanti versus Rendra), tapi tetap kalah. Sejak era pak Sujud, PDIP belum berkuasa lagi di eksekutif Kabupaten Malang,” papar Nuruddin. Sehingga, peluang terbaik yang harus dilakukan oleh PDIP, adalah menggandeng kalangan relijius.
Untuk mengungguli Sanusi yang petahana, PDIP perlu berkonsolidasi eksternal dengan kalangan religius, baik itu nahdiyin maupun muhammadiyah. Karena, formula nasionalis relijius masih terbukti ampuh di Kabupaten Malang. Internal PDIP, tinggal menentukan apakah harus memilih N1, atau N2.
“Perlu diotak-atik, untuk elektabilitas paling maksimal. Karena, untuk melawan incumbent, butuh figur yang elektabilitasnya tinggi. Petahana punya tingkat popularitas tinggi, tanpa melihat kinerja,” tutup Nuruddin.(fin/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Fino Yudistira

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...